Marry Me, Please

Marry Me, Please
After Kissing



Sherin dengan langkah cepat berjalan memasuki unitnya. Tidka mau lagi menyapa adiknya yang menatapnya heran, yang ada di otaknya hanyalah masuk kedalam kamar dan menyembunyikan diri. Tapi entahlah, dia mau menyembunyikan diri dari siapa. Padahal, Kevin juga tidak mengejarnya.


Bruk...!


Sesampainya di dalam kamar, dia memegangi dadanya yang bergerumuh berisik sedari tadi sembari memerosotkan tubuhnya yang hedak duduk di lantai. Sungguh dia tidak nyaman dengan tubuhnya saat ini. Bayangan-bayangan Kevin yang menciumnya berkelebatan memenuhi otak dan hatinya. Mungkinkah ini alasan jantungnya berdebar tidak karuan? lagi-lagi, dag dig dug. Suara debaran jantungnya dengan kurang ajar berdebar terus menerus seolah-olah mengingatkannya kepada Kevin. Sudah mencoba untuk menyadarkan diri dengan menepuk kedua pipinya agar keras, menggelengkan kepala agar ingatan-ingatan mesum itu pergi, Tidak! semua itu tidak berhasil. Justru dia semakin mengingat bagaimana rasanya bibir Kevin. Kenyal dan seperti membangunkan sisi lain dari tubuh Sherin.


" Haish.....!! sialan! apa-apaan sih?! " Sherin mengacak rambutnya karena kesal.


" Apa aku terlalu lama mendambakan seorang laki-laki jadi seperti ini? apa jangan-jangan, aku ini sudah karatan menunggu laki-laki hingga gila karena sebuah ciuman? " Sherin memukul kepalanya yang sangat tidak penurut itu. Lagi-lagi teringat ciuman Kevin dan tanpa sadar dia meraba bibirnya karena seperti rasa bibir Kevin beberapa saat lalu.


Hah?! Sherin tersadar seketika. Dia melotot kaget saat jemarinya tengah menyentuh tangannya. Dengan perasaan kesal, dia menepis sebelah tangannya dengan kasar.


" Dasar tangan dan otak kurang ajar! berani sekali kau membayangkan bibir si gila, brengsek, dan mesum tidak tahu diri itu. Sadarlah! itu adalah ciuman! mulut ke mulut, adalah salah satu cara untuk menukarkan beberapa bibit penyakit. Sadarlah, Sherin. " Sherin kembali menepuk-nepuk pipinya.


Sementara di balik pintu, Berly menaikkan sisi bibirnya karena tak sengaja mendengar ucapan Sherin dari balik pintu. Yah, gadis kecil nan judes itu memang keheranan. Meskipun usianya baru lima tahun, tapi Berly adalah anak yang pandai bicara dan megambil hati orang lain. Tapi juga, dia memiliki sisi yang hampir menyamai Nathan. Yaitu, menyebalkan.


" Kakak! jangan berteriak terlalu kencang, aku bisa mendengar semuanya loh. "


Sherin membulatkan matanya terkejut karena ternyata Berly mendengar apa yang tadi dia ucapkan.


" Pergi sana ke kamar mu! kenapa mencuri dengar?! dasar tidak sopan! " Sebal Sherin tapi dia begitu enggan membuka pintu kamarnya.


Berly berdecih lalu menendang pintu kamarnya Sherin meskipun pelan.


" Kakak, berhentilah sok jual mahal. Kakak kan sudah sangat tua, sebaiknya terima saja siapapun yang mendekati kakak. Takutnya, kakak tidak laku dan keburu jadi nenek-nenek. "


Sherin yang kesal bangkit dari posisinya dan dengan cepat membuka pintu kamarnya. Tadinya, dia berencana untuk mencubit pipi Berly dan memarahinya. Sayang, gadis kecil yang menyebalkan itu sudah berada di ambang pintu kamarnya dan hanya menyusahkan kepalanya saja. Dia menjulurkan lidah lalu tersenyum mengejek. Sherin tentu saja mengejarnya sampai ke pintu kamar Berly, dan dengan buru-buru, Berly masuk kedalam kamar lalu menguncinya.


" Dasar anak nakal! buka pintunya! " Ucap Sherin sembari memukul-mukul pintu kamar Berly agar di bukakan pintu.


" Tidak mau! membuka kan pintu, sama saja aku bunuh diri. " Ujar berly.


" Dasar bocah tengik! kau dengar baik-baik ya? usiaku baru dua puluh enam tahun, aku belum tua. Dan lagi, aku tidak akan mau menerima laki-laki bajingan mesum seperti dia! aku akan mencari kekasih yang seperti aku inginkan! "


" Hahaha..... jangan banyak memilih, yang mendekati kakak hanya satu orang itu saja kan? "


" Berly, aku tidak punya kekasih bukan karena tidak ada yang mau. Karena aku adalah wanita exclusife yang tidak bisa sembarangan memilih calon kekasih. " Bela Sherin yang tentu saja harus memperindah citranya.


" Kakak tidak punya kekasih karena kakak tidak laku. Kalaupun kakak mau memilih, memang ada pilihan yang bisa di pilih? "


Sherin meremas kedua tangannya karena menahan kesal. Memang benar tidak ada pria yang mendekatinya selama dia bekerja disana. Tapi mana bisa disebut tidak laku? dia bahkan sering bercermin dan memperhatikan wajahnya dengan seksama. Menurutnya, dia lumayan cantik kok. Apalagi saat mengunggah photo di laman media sosial, banyak sekali dia mendapatkan hati dari pengikutnya. Jadi, mana mungkin dia tidak laku?


" Tenangkan dirimu Sherin, kau tidak punya kekasih karena kau terlalu cantik dan terlihat exsklusife. Jangan dengarkan mulut adikmu yang seperti kaleng rombeng itu. Tetaplah tersenyum manis, jangan lupa joging setiap pagi, karena disana akan banyak pria-pria tampan berserakan. " Ucap Sherin menenangkan dirinya agar tidak terus terpancing oleh mulut Berly yang kurang ajar itu.


Sherin kembali ke kamar sembari menarik nafas dan menghembuskan perlahan. Membuang semua pikiran kotor dan kemarahan tidak penting yang bisa saja membuat kerutan di wajahnya timbul sebelum waktunya.


Karena masih saja teringat dengan adegan delapan bekas plus bersama Kevin, Sherin memilih untuk mengguyur kepala dan seluruh tubuhnya. Benar saja, semua menjadi lebih rileks dan dia juga sudah bisa berpikir positif lagi.


" Anggap saja itu adalah ketidak sengajaan. Pasti dia sudah terbiasa berciuman dengan gadis lain kan? dan biarkan saja ini menjadi pelajaran bagiku. " Sherin memangku wajah sembari menatap pantulan dirinya di cermin yang bertengger di meja riasnya.


***


Kevin berbaring di tempat tidur sembari memandangi langit-lagit kosong. Apa yang terjadi beberapa saat lalu sungguh di luar kendalinya. Dia kini memegangi dadanya yang tak kalah bergerumuh karena ulah jantungnya yang berdegup sangat cepat. Ini adalah untuk pertama kali dia merasakan hal seperti ini. Perlahan-lahan bibirnya tertarik dan menjadikannya sebuah senyuman indah. Dia kembali mengingat bagaimana reaksi Sherin saat ia menciumnya.


" Dia benar-benar sangat manis. " Barisan rapih gigi Kevin terlihat karena membayangkan wajah Sherin.


Sebenarnya, Kevin adalah dalang dari kejombloan Sherin. Mulai dari memelototi setiap pria yang hendak mengajak Sherin berkenalan, memperingati salah satu Dokter muda yang berniat mendekati Sherin, dan mengatakan jika Sherin adalah calon istrinya. Sungguh dia sudah berbuat banyak hal di luar logikanya. Mungkin inilah yang dinamakan cinta.


" Sherin, aku tidak akan melepaskan mu sampai kapan pun. Kau hanya akan menjadi milikku. Jangan bermimpi untuk bisa memiliki kekasih selain aku. Karena akan kulakukan segala cara agar pria-pria yang berniat mendekatimu menjauh sejauh mungkin. "


Kevin meraih ponselnya dan membuka laman media sosialnya. Seperti biasa, dia akan mengecek kegiatan media sosial Sherin lalu memberikan simbol hati. Kevin tersenyum memandangi sebuah photo yang baru saja di unggah oleh Sherin. Awalnya, Kevin memang selalu hanya memberikan emotikon hati, tapi sepertinya hari ini dia perlu melakukan lebih.


( Komentar Kevin )


Kenapa bibir mu bengkak? padahal aku sudah melakukannya dengan lembut.


TBC