
Sepanjang perjalanan Sherin sama sekali tidak mau menatap Kevin lagi. Benar- benar sudah di luar akal sehat apa yang sudah di lakukan Kevin. Bahkan jika ada nominasi orang yang tidak tahu malu, dialah orang yang akan terus memenangkannya. Luar biasa memang. Bahkan sekarang saja, dia masih saja membututi kemana kaki Sherin melangkah. Padahal sudah jelas kalau ini adalah koridor menuju ruang praktiknya. Tapi biarkan saja lah. Lagi pula kalau dia mau membuang waktu dan kena surat peringatan sih urusan dia juga. Lagi pula, dia tidak merespon sama sekali, dan kalau ada yang masih menyalahkan nya, tidak akan ragu lagi, Sherin akan dengan semangat menjambak gigi orang itu dan mematahkan lehernya.
" Sherin, kau mau kopi? "
Aku mau kau lenyap dari muka bumi ini.
" Apa kau butuh sarapan? "
Iya, untuk memenuhi energi ku agar bisa menendang mu sampai ke planet mars.
" Apa kau sudah mengkonsumsi keduanya? "
Iya, yang belum adalah memakan daging mu.
" Kau masih tidak ingin bicara? kalau kau masih diam, bagaimana kalau pindah ke ruang praktek mu saja? "
Sherin sontak menghentikan langkah kakinya dan di ikuti juga oleh Kevin. Dia menatap Kevin kesal seolah sangat tidak setuju dengan apa yang di ucapakan oleh Kevin barusan.
" Baiklah, aku tidak akan melakukan itu. " Ucap kevin dan membuat Sherin kembali melangkahkan kakinya.
" Bagaimana dengan makan siang? ngomong-ngomong, aku sudah memesan meja untuk kita loh. "
What? apa kau sudah memesan lahan untuk mengubur mu?
Baru Kevin ingin bicara lagi, ternyata Sherin sudah sampai di ruangannya. Dia langsung masuk dan menutup pintunya dengan kasar.
" Seharusnya dia paha kan kenapa aku menutup pintu dengan begitu kuat? " gumam Sherin lalu mulai menjauh dari pintu ruang kerjanya.
" Sherin, jangan lupa nanti siang ya? " Ucap Kevin yang hanya terlihat separuh tubuhnya saja. Sherin tentu saja mendesah sebal. Baru saja mulutnya tertutup, Kevin sudah kembali berulah gila. Sepertinya pria itu benar-benar tidak tahu malu.
Setelah kepergian Kevin, Sherin kembali fokus bekerja. Dia juga memenuhi jadwal operasi menjelang siang tadi. Tidak mengeluh atau pun terlihat lelah, Sherin selalu saja melakukan tugasnya dengan totalitas. Tidak perduli partnernya tidak ada yang menyukainya, karena yang paling penting bagi dia adalah keselamatan pasien. Tapi untunglah, partnernya juga selalu sigap dan membantunya dengan profesional meski hati mereka dongkol dan cemburu dengan Sherin. Tapi Sherin adalah Dokter muda yang memiliki keahlian di atas rata-rata. Dia bahkan hampir tidak pernah salah mendiagnosis penyakit yang ada di tubuh pasiennya.
Setelah jam makan siang tiba, seperti biasa, dia akan meregangkan tubuhnya dengan menggerakkan nya ke kanan dan ke kiri secara bergantian. setelah itu, barulah dia menyalakan ponselnya untuk melihat notifikasi di ponselnya. Sherin mendesah sebal. Aneh, padahal Alex sudah berjanji akan menghubunginya. Tapi dari semalam semua pesan yang Sherin kirim sama sekali tidak ada satu pun yang di balas. Padahal aktivitas di media sosial ada. Dengan perasaan lesu, Sherin meletakkan ponselnya di meja. Sungguh tidak beruntung menang kalau soal percintaan. Padahal dia sudah bertanya kepada teman-temannya, apakah dia jelek? tapi jawaban mereka bilang tidak karena dia terlihat cantik. Dia juga tidak terlalu miskin. Dia juga pandai dan ramah. Lalu apa yang salah dengan dirinya? kenapa mencari pasangan untuk menikah begitu sulit bagaikan menguras air laut.
" Tida tahu lah. " Pasrah Sherin yang tidak mau memikirkan Alex lagi. Mungkin saja pria itu hanya pria yang suka merayu wanita. Memang dari wajahnya, Alex terlihat tidak mudah di dekati dan sangat menjaga diri dari sembarang orang. Tapi siapa yang sangka kalau dia hanyalah pembohong besar. Buktinya, hanya mengajak berkencan tapi tidak ada kabar kelanjutannya.
" Pasien ini sangat pengertian. Kejang di waktu yang sangat tepat. Jadi, aku akan merawat mu dengan baik ya, pasien ku.. " Gumam Sherin sembari berjalan cepat menuju kamar pasien yang tengah kejang itu.
Sungguh hari yang sangat sibuk tapi membuatnya lega karena bisa melupakan segala kegundahan yang di alami oleh hatinya. Benar, bekerja seperti ini mampu menghilangkan stres dan membuat lupa akan hati yang sedang tidak baik-baik saja. Sherin menghela nafas panjangnya lalu berjalan mendekati mini bag nya berada. Sudah waktunya pulang dan kembali merenung memikirkan kegundahan hati.
Seperti biasa, Sherin berjalan menuju pintu keluar yang berada di sisi samping. Tetu saja untuk menghindari Kevin. Sherin berjalan pelan menikmati suasana malam yang ia lewati. Ramai, tapi hatinya masih saja merasa sepi. Sherin terus berjalan hingga tanpa sadar kini sudah berada di halte Bus. Di sana sudah mulai sepi karena jam pulang kantor sudah berlalu beberapa jam yang lalu. Tidak mau melihat ke arah samping meski di sadar jika ada seseorang disana. Sherin melangkah kan kaki menuju kursi halte Bus sembari menunggu Bus tiba. Pria yang sedari tadi berdiri disampingnya juga ikut duduk disampingnya. Sungguh, awalnya dia nerasa terganggu. Tai sudahlah, tidak mungkin juga dia kan berbuat jahat. Lagi pul, halte Bus kan ada kamera pengawas. Dan lagi, dia sama sekali tidak memiliki apa-apa untuk dirampok. Jadi biarkan saja pria itu duduk di sebelahnya.
" Sayang, sampai kapan kita akan menunggu seperti ini? " Suara pria yang sedari tadi berada disamping nya, ternyata memiliki suara yang sangat familiar bagi Sherin.
Sherin mengangkat wajahnya untuk menatap si pemilik suara angker yang hanya di miliki Dokter Kevin itu. Setelah manik mata mereka saling bertemu, barulah Sherin mengeryit sebal melihat pria yang ternyata adalah Dokter Kevin.
Berbanding terbalik dengan wajah Sherin yang terlihat marah, Kevin justru tersenyum menatap wajah Sherin dengan perasaan bahagia.
Sherin menghela nafas tapi setelah itu, dia langsung mengalihkan pandangannya dan lebih memilih untuk menatap banyaknya kendaraan yang berlalu lalang disana.
" Bagaimana kalau kita makan malam bersama? "
Tadinya Sherin melotot untuk menolak ajakan Kevin, tapi perut sialannya dengan percaya diri berbunyi dengan kuat. Sherin benar-benar ingin mengumpat kesal kepada dirinya sendiri. Tapi mau bagaimana lagi? memang dari siang tadi dia tidak sempat makan. Baiklah, lebih baik pikirkan saja perut dulu. Baru setelah itu dia akan memikirkan lagi bagaimana caranya menyingkirkan manusia tida tahu malu itu.
Kevin benar-benarvterlihat bahagia kali ini. Bukan bahagia karena berhasil mengajak Sherin untuk makan bersama, tapi bahagia karena Sherin terlihat menggemaskan dengan tingkahnya yang seperti sekarang ini.
" Sayang, mau coba punya ku? " Kevin menyodorkan sendok yamg sudah ia sisi makanan disana.
Tidak sudi! itu kan bekas mulut mu.
Melihat Sherin yang jelas menolak, Kevin tersenyum menatap penuh maksud.
" Sayang, ayolah jangan marah. Aku janji, aku akan memua- "
Hap.....!
Sherin langsung melahap suapan dari Kevin dengan tatapan kesal.
TBC