
Sherin merapikan semua barang-barangnya karena ini sudah waktunya untuk pulang. Rasanya dia sudah sangat lelah seharian ini.rlah karena membuang energi untuk memaki Dokter Kevin, lalu Jadwal operasi mendadak setelah makan siang, belum lagi beberapa pasien yang sudah membuat janji juga sudah menunggu. Tapi untunglah, jiwa kedokterannya masih menggebu-gebu di dalam dirinya. Meskipun merasa lelah, toh pada akhirnya dia busa melewati hari ini dengan baik.
Sherin menghela nafas lega karena sepertinya kesiapannya untuk pulang sudah seratus persen. Dengan cepat dia menyambar mini bag yang biasa ia gunakan dan berjalan keluar ruangan. Beberapa hari ia lewati bersama dengan Berly, ternyata lumayan menyenangkan juga. Perlahan-lahan gadis kecil itu mulai beradaptasi dengan baik. Dia tahu bagaimana caranya mengimbangi Sherin yang sebenarnya lebih kekanak-kanakan di banding adiknya sendiri.
" Baiklah, sepertinya aku harus membelikan Berly makanan yang agak maha hari ini. " Ujar Sherin sembari terus menjalankan kakinya hingga sampailah di Lobby utama Rumah sakit. Baru saja akan melangkah kembali, setelah menunggu sebuah mobil berhenti mendadak di hadapannya. Sherin memperhatikan kaca mobil yang perlahan mulai turun dan menampakkan seorang wanita cantik yang menggunakan kaca mata hitam. Setelah seluruh kaca mobil terbuka, wanita itu melepas kaca matanya dan menatap Sherin dengan ekspresi yang tidak terbaca olehnya.
" Masuk, ada yang ingin aku bicarakan dengan mu. "
Sherin terdiam. Kenapa? karena memorinya dengan jelas bisa mengingat siapa gadis cantik itu. Dia adalah Renata, kekasih dari Dokter Kevin yang sering dipanggil, Rien. Sejujurnya, Sherin ingin sekali menolak. Bukan karena merasa takut, tapi tentu saja dia sudah tahu apa yang ingin dibicarakan oleh gadis cantik itu. Baginya, apa yang terjadi belakangan ini adalah kesalahan Kevin sepenuhnya.
" Kenapa diam? apa kau takut? "
Sherin yang merasa terprovokasi, akhirnya memilih untuk masuk kedalam mobil dan mengikuti saja kemana arah perginya wanita yang sedang cemburu itu.
Sesampainya disebuah jalanan yang sepi pengendara. Wanita itu menghentikan laju mobilnya. Dia mulai menatap Sherin dengan tatapan menyelidik dan entah apa lagi, Sherin tida tahu bagaimana menjelaskan mimik wajah karena penerangan yang terbatas.
" Kau tahu siapa aku? " Tanyanya dengan nada bicara yang dingin.
" Tidak. " Singkat Sherin karena baginya, arti kata mengenal / tahu adalah harus tahu dengan baik. Bukan hanya sekedar pernah melihat saja.
Renata tersenyum miring. Dia melempar kaca matanya ke sembarang arah.
" Kau pernah melihat ku dan Kevin bersama kan? apa kau tidak bisa mengartikan hubungan kami? "
" Iya, saya memang pernah melihat anda. Tapi sayangnya, saya tidak tertarik untuk mengartikan apa hubungan anda dan Dokter Kevin. "
Renata menatap kesal kepada Sherin.
" Aku dan Kevin, sudah dua tahun bersama dalam ikatan pacaran. Seharusnya, kau bisa memilih mana pria yang lajang kan? "
" Sebenarnya, apa inti pembicaraan ini? " Tanya Sherin yang sudah merasa bosan karena sepertinya, pembicaraan mereka hanya berada di lingkaran yang sama saja dari tadi.
" Baiklah, akan ku beri tahu tujuan ku mengajak mu berbicara. " Sekarang, Renata benar-benar menatap tegas Sherin.
" Pertama, menjauhlah dari kekasih ku. Kedua, jangan merespon apapun yang dikatakan atau dilakukan kekasih ku. Ketiga, dalam waktu satu minggu, aku ingin kau pindah tugas. Pindah sejauh mungkin agar kekasih ku tidak bisa menemukan mu. "
Sherin balas menatap Renata dengan tatapan heran. Sungguh apa yang dikatakan Renata adalah hal yang tidak masuk akal.
" Nona, akan ku beri tahu fakta yang tidak kau tahu. Pertama, aku tidak merasa dekat dengan Dokter Kevin. Jadi untuk apa aku menjauh?. Kedua, aku sudah berusaha untuk tidak merespon kekasih mu yang idiot dan gila itu. Ketiga, kau bukan pemilik rumah sakit yang bisa menyuruhku untuk pindah begitu saja. "
" Kau?! " Kesal Renata.
" Jaga bicaramu mu! "
" Maaf, Nona. Apa yang saya katakan mungkin tidak bisa anda terima. Tapi pesan saya, jangan menghabiskan waktu untuk berharap kepada pria yang tidak menghargai keberadaan anda. "
" Mulut mu lancang sekali ya? " Renata menatap sinis manik mata Sherin yang begitu terang-terangan menyatakan bahwa dia tidak takut sama sekali dengannya.
" Nona, maaf kalau anda merasa saya lancang. Hidup saya sudah rumit karena kekasih anda yang selalu mengganggu saya setiap saat. Tolong jangan menambahkan kerumitan di hidup saya dengan hipotesa anda yang tidak masuk akal. "
" Setiap waktu katamu? " Renata menatap Sherin seolah benar- benar keberatan dengan kata-kata itu. Sungguh dia ingin sekali memukul wajah perempuan yang sudah begitu mudahnya meremehkan waktu kekasihnya. Tapi setelah dia kembali mengingat-ingat cerita dari beberapa tenaga medis yang melihat secara langsung, Kevin memang sering mengambil waktu kosong, atau lebih tepatnya memaksakan waktu agar luar dan ia gunakan untuk menemui Sherin. Sungguh dia begitu tidak sanggup harus menerima semua ini. Dia kini hanya bisa terdiam mengingat betapa besar pengorbanan nya hanya untuk bisa bersama pria yang sama sekali tidak mau menyisihkan waktu untuknya. Setiap kali bertemu, dia hanya akan melakukan apa ya h ingin dia lakukan dan langsung pergi setelahnya.
" Nona, apa anda baik-baik saja? " Tanya Sherin, karena tiba-tiba merasa khawatir melihat wajah sedih wanita yang beberapa saat lalu begitu tegas dan percaya diri itu.
" Keluar! "
" Hah? keluar? yang benar saja. " Tentulah Sherin merasa takut karena mereka kan ada di jalanan yang begitu sepi dan gelap.
" Keluar aku bilang! "
" Iya iya! ini mau keluar. " Dengan wajah kesal, Sherin membuka pintu lalu menutup pintu sekuat mungkin setelah ia keluar dari mobil. Sungguh dia ingin sekali menjulurkan lidah dan menendang bokong wanita sombong itu. Tapi mau bagaimana lagi? dia tidak boleh sembarangan karena dia lahir dan hidup di negara hukum.
Tidak menunggu lama, Renata melajukan mobilnya dan meninggalkan Sherin yang kini kebingungan sendiri.
" Sialan! nenek lampir itu se enaknya membawa ku dan sekarang meninggalkan ku. Ih...! Dasar wanita gila! aku kan tidak tahu jalan pulang. "
Sherin celingukkan mencari taksi atau angkutan umum yang lainya. Tapi sungguh, kaki nya sudah pegal dan tidak ada satupun angkutan umum yang lewat. Kesialan semakin bertambah saat sahabatnya kini tidak ada yang bisa di hubungi. Memesan taksi online pun, selalu di batalkan.
" Ya Tuhan, sepertinya ini jalanan angker ya? " Gumam Sherin yang tiba-tiba merasa ngeri sendiri.
Satu jam sudah dia kebingungan dan mulai putus asa, suara panggilan masuk di ponselnya membuatnya memiliki sedikit harapan. Tapi sepertinya, harapan itu tidak berada di orang yang tepat. Karena yang menghubunginya adalah Dokter Kevin.
" Iya. " Jawab Sherin setelah menerima sambungan telepon dari Kevin.
Kau ada dimana? bukanya kau pulang lebih cepat dariku? aku datang ke unit mu, adikmu bilang kau belum pulang.
" Aku, aku tidak tahu sekarang ada dimana. "
TBC