Marry Me, Please

Marry Me, Please
Kapok



Berjam-jam Kevin menghabiskan waktu untuk menunggu sang istri tercinta kembali. Mulai dari menghafal kata-kata rayuan dari drama, novel, bahkan komik romantis. Dia juga sudah memesan bunga mawar, lalu menyusunnya di atas tempat tidur dengan bagian tengah berbentuk hati.


Masih juga belum kembali, Kevin menuju balkon apartemennya untuk menikmati sebatang rokok. Hisapan demi hisapan, satu, dua, bahkan sampai empat batang rokok sudah ludes.


" Uhuk Uhuk " Kevin terbatuk-batuk, iya sebenarnya dia tidak terbiasa merokok, tapi katanya rokok kan bisa menghilangkan Stres. Ah, ya ampun! yang ada dia malah tambah stres ditambah lagi harus terbatuk-batuk.


" Ya ampun, apa begini rasanya menderita karena istri merajuk? jadi kapan istri akan segera kembali ke rumah? aku ini harus menunggu, atau harus mencari sih? " Kevin mengacak rambutnya karena merasa frustasi. Di dalam hatinya bergerundel, kalau se-menyebalkan ini saat istrinya marah. Kalau boleh memilih, dia lebih baik bertempur dengan lawan kubunya menggunakan tangan telanjang.


Tak lama setelah itu, suara pintu terbuka membuat langkah kaki Kevin cepat menghampirinya. Sayangku....


" Sayangku, sudah pulang? sini biar aku bawakan belanjaan mu. " Kevin menyambutnya dengan senyum yang ia buat se-manis mungkin. Iya, ini adalah salah satu ilmu yang dia dapatkan dari salah satu novel romantis yang ia baca.


Sherin membiarkan saja belanjaannya di bawa oleh Kevin. Heh! padahal hanya tinggal beberapa meter lagi sudah sampai ke kamar, tapi masa bodoh sajalah, dia benar-benar tidak bisa dengan mudah memaafkan Kevin.


" Sayangku, apa kau lelah? mau aku pijit? atau, mau mandi dulu? mau aku mandikan? "


Sherin menatap Kevin tajam.


" Kau pikir, aku memiliki mood untuk mandi bersama denganmu? "


Kevin menelan salivanya sendiri. Ya ampun! lagi-lagi dia salah bicara. Tapi bukanya memang seperti ini yang di tuliskan di novel romantis?


Beberapa langkah Sherin berjalan mendekati lemari, dia tercengang melihat bunga mawar yang bertaburan di atas tempat tidur. Menggelikan! apa-apaan?! segala ada bentuk hati! yah, walaupun bentuknya agar belepotan, tapi jelas lah itu membentuk hati.


" Sayangku, ini aku yang membuatnya loh. "


" Bagus! "


Eh?


Kevin tersenyum bahagia dan lega, akhirnya ada juga yang di sukai, batin Kevin.


" Kalau begitu, mau aku tambah lagi? masih ada dua kantung loh sayangku, aku ambil ya? "


" Gali dulu halaman di depan apartemen, baru ambil sisa bunga yang kau maksud. "


" Eh? kenapa begitu, sayangku? "


" Aku akan menggunakan bunga ini untuk taburan diatas kuburan mu! "


Lagi-lagi Kevin menelan salivanya. Salah lagi! batinnya memaki kesal.


" Jadi, sayangku, bagaimana dengan bunga ini? "


" Buang! "


" Baik, sayangku! " Kevin bergegas ke tempat tidur dan memunguti taburan mawar yang sudah susah payah dia bentuk tadi.


Tak mau lagi terus merasa kesal, Sherin meraih jubah mandinya dan bergegas untuk mandi.


" Kevin!! " Teriak Sherin dari dalam kamar mandi.


" Iya, sayangku! " Kevin meninggalkan tempat tidur dan berjalan cepat menuju kamar mandi.


Mampus! batin Kevin seraya memasang wajah kaget. Iya, dia lupa kalau dia juga menaruh banyak bunga mawar di bathub.


" Sa, sayangku, itu, ini, aku salah. Maaf ya sayangku? " Ucap Kevin seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Istri kedua?


Sherin tersenyum miring. Mana mungkin dia akan mengizinkannya. Biar saja Kevin tahu bagaimana rumitnya memiliki satu istri hingga tidak mau memiliki dua istri. Heh! jangankan berniat memiliki dia istri, melirik wanita cantik pun dia tidak akan berani.


" Aw! aduh! "


Bug...


Kevin mengusap bokongnya yang terasa sakit karena terjatuh dari kamar mandi. Terburu-buru benar-benar membuatnya hilang kendali. Bahkan dia saja sudah tersandung berkali-kali.


Beberapa saat kemudian. Kevin berjalan mendekati Sherin dengan penampilan yang begitu acak-acakkan. Rambutnya berantakan, ujung kaosnya sobek, jalannya pincang, bahkan celananya juga basah. Kasihan sih, tapi terlalu sebal untuk memperdulikan Kevin.


" Sayangku, kamar mandinya sudah selesai di bereskan. "


Tak menjawab, Sherin langsung bangkit dari posisi duduknya untuk menuju kamar mandi. Dari sanalah Kevin memandangi punggung istrinya hingga menghilang saat dia masuk kedalam kamar mandi.


" Ya ampun! aku mau marah! tapi- "


" Tapi apa? " Sherin kembali membuka pintu kamar mandinya, kepalanya menjembul keluar sembari menatap Kevin kesal.


" Anu, tidak kok sayangku. " Kevin tersenyum menampilkan barisan giginya yang putih dan rapih.


" Kevin, biar aku beri tahu. Pendengaran ku sangat sensitif. Suara nafasmu saja aku masih bisa mendengarnya. "


" I iya, sayangku. "


Kevin mendesah setelah Sherin menutup pintu kamar mandinya. Tak lama setelahnya, Sherin keluar dari kamar mandi. Luar biasa memang cara Kevin untuk meluluhkan hati Istrinya, bahkan dia sudah menyiapkan setelan baju tidur untuknya. Baiklah, Sherin tidak mau menanyakan perihal baju tidur, jadi dia meraih baju itu dan memakainya.


" Sayangku, aku mandi dulu ya? "


" Mandi? apa tidak sayang? nanti aroma tubuh mantan pacarmu yang cantik itu hilang loh. "


Menelan saliva lagi Kevin jadinya. Sungguh dia tidak tahu kalau Sherin akan se-marah ini. Bagus sih, setidaknya dia menunjukkan betapa cemburunya dia. Tapi, ini sangat menakutkan!


" Sa sayangku, boleh aku menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya? "


" Tidak usah! aku sudah tahu kok. Pergi berpamitan berangkat bekerja, tapi ternyata kau sedang bekerja sama dengan mantan pacarmu untuk merencanakan hal-hal yang begitu indah. Sungguh cinta sejati yang luar biasa. "


" Bukan, bukan begitu sayangku. "


" Kau bilang mau mandi, apa menunggu untuk ku mandikan? "


Kevin menggeleng cepat. Ya iyalah! kalau saja suasananya normal, dia akan langsung membopong tubuh Sherin untuk masuk ke dalam kamar mandi, tapi melibat cara bicara dan bagaimana Sherin menatapnya, bisa-bisa Sherin menggosok tubuhnya dengan sikat closed, mencuci rambutnya dengan karbol, mengganti odol dengan sabun cair. Kabur! Kevin langsung berjalan cepat untuk masuk kedalam kamar mandi.


" Me mengerikan sekali. " Ujar Kevin seraya memegangi dadanya. Dia berdiri menyenderkan tubuhnya untuk mengatur nafas yang tak beraturan akibat gugup.


" Ya ampun! cukup, aku tidak akan lagi macam-macam. Mau Renita gantung diri, mau meminum cairan serangga, pokonya jangan sampai terulang lagi. "


Setelah Kevin masuk kedalam kamar mandi, Sherin mulai merebahkan tubuhnya disana.


" Heh! aku sudah mengabiskan hampir lima ratus juta untuk membeli perhiasan dan sepatu bermerek. Tapi, ini baru permulaan, aku tidak akan semudah itu memaafkan mu. "


TBC