Marry Me, Please

Marry Me, Please
Hari sial



Setelah pertemuannya dengan Kevin tadi pagi, Sherin masih merasa aneh juga bingung. Padahal niat nya hanya ingin menolong, tapi kenapa reaksinya berlebihan sekali? Sherin menghela nafas kasarnya. Menyebalkan sekali rasanya.


Sudah lah, dari pada memikirkan Kevin yang tidak jelas apa maunya, lebih baik sekarang memikirkan pekerjaannya yang jauh lebih penting di atas segala-galanya. Cukup sudah dia memperdulikan pria tidak jelas itu. Lagian, siapa tahu dia sudah punya istri. Lebih baik untuk menghilangkan saja nama sekaligus orangnya dari kehidupan nya. Memang akan terasa sangat aneh dan tidak biasa seperti kemarin, tapi lama kelamaan pasti akan segera terbiasa seperti sedia kala.


Waktu berjalan seperti biasanya. Anehnya, meski sudah memantapkan untuk tidak lagi memikirkan Kevin, tapi tetap saja dia merasa sangat aneh. Sebentar-sebentar dia melihat ke arah pintu. Entahlah, dia seperti mengharapkan kedatangan Kevin seperti biasanya.


" Ah, sialan! ada apa dengan ku? kenapa jadi seperti ini sih? " Kesal Sherin karena dia sama sekali tidak konsentrasi dalam bekerja. Sudahlah, hentikan Sherin! batinnya kesal. Benar, dia mulai menyadari jika dihatinya timbul rasa suka. Tapi mau bagaimana lagi? Kevin adalah pria yang sangat tida mungkin untuk ia jadikan tambatan hati. Entah mengapa, Kevin seperti menyimpan banyak rahasia menakutkan.


" Ya Tuhan,.. otak ku benar-benar sudah kacau. Tolong bantu aku menghilangkan dia dari pikiran ku. "


Akhirnya Sherin memutuskan melanjutkan kerjanya dan berusaha untuk konsentrasi sebisa mungkin. Jauh dan jauhkan si manusia sialan yang sudah membuat hatinya bimbang beberapa hari ini.


" Huh.....! " Akhirnya Sherin bisa bernafas lega karena jam kerjanya sudah berakhir. Cukup menguras otak dan hati hari ini. Tapi syukurlah, semua berjalan dengan baik dan lancar meski sesaat ada sedikit kendala karena hati yang gundah.


Sherin membenahi semua barang-barangnya karena waktu nya untuk kembali ke rumah sudah tiba. Adik cerewetnya juga sudah mengirimkan pesan suara agar membelikan makan malam kesukaannya. Sherin dengan cepat melangkahkan kaki agar cepat sampai restauran untuk membelikan makan malam adiknya. Benar, rasa sayang itu tumbuh seiring berjalannya waktu. Pada awalnya Berly memang lah gadis yang menyebalkan dan cerewet. Tapi semakin hari Sherin menyadari jika gadis kecil itu begitu perduli padanya. Mungkin tidak banyak yang tahu, tapi Berly si gadis kecil itu juga sudah mengalai hidup yamg tidak mudah di usia yang masih se dini itu.


" Wah, mereka benar-benar pasangan yang serasi ya? " Ucap para pegawai medis yang juga akan pulang. Sherin mengikuti kemana para pegawai medis lain menatap. Sesaat mata Sherin terpaku melihatnya, tapi sudahlah. Tidak perlu di perduli kan meski hatinya terasa sakit. Lagi pula memang seperti itulah sifat pria itu. Iya, pria itu adalah Kevin dan juga Renata. Mereka berada di Lobby rumah sakit dan Renata terlihat jelas begitu manja dan terus bergelayut manja dengan Kevin. Tidak tahu bagaimana ekspresi pria itu. Pokoknya Sherin benar-benar kecewa sampai tidak mau melihat wajah pria brengsek yang suka sekali mempermainkan wanita.


Malas dengan apa yang dia lihat, Sherin berniat melajukan kembali kakinya. Tapi dering ponsel membuatnya kembali berhenti.


" Iya? " Ucap Sherin setelah panggilan teleponnya terhubung.


Sherin, ini Ibu.


" Ibu, aku pikir Ibu sudah menghilang di telan bumi. "


Maafkan Ibu nak. Ibu tidak memiliki pilihan lain waktu itu. Anak laki-laki dari suami Ibu sekarang, sering mabuk. Dia juga sering sekali menatap tubuh Berly. Maafkan Ibu, Ibu tidak memiliki pilihan selain menitipkan Berly padamu. Kau hanya satu-satunya anak yah Ibu percaya. Tolong maafkan Ibu.


" Dibanding meminta maaf padaku, seharusnya Ibu minta lah maaf kepada Berly. Ibu dan segala ambisi Ibu telah menghancurkan kami semua. "


Berly, kau dan juga kakak mu tetaplah anak Ibu. Maafkan Ibu, Nak. Tolo g jangan mendendam ya?


" Ibu, apa tujuan Ibu menghubungi ku? aku masih mengenal Ibu dengan baik. Ibu adalah orang yang tidak akan menghabiskan waktu hanya untuk meminta maaf tanpa tujuan. "


Sherin, saat ini usia mu kan sudah dua puluh enam tahun. Ibu dan suami Ibu berniat menjodohkan mu dengan anak dari rekan bisnis nya. Bagaimana menurut mu?


" Tidak! aku tidak mau! " Sherin langsung memutuskan sambungan teleponnya. Hancur dan sangat sakit rasanya. Walau bagaimana pun, dia adalah anaknya juga. Bukankah seorang Ibu perlu bertanya dulu bagaimana kabar nya? apa dia sudah makan atau belum? apa dia menjalani hidupnya dengan baik? apa dia mengalami masalah? Tidak! Sherin sama sekali tidak mendengar salah satu dari pertanyaan itu. Sherin memukul dadanya yang terasa nyeri. Tapi saat dia kembali menatap ke depan, sepasang manusia itu masih berada di posisi yang sama.


Sialan! mulai sekarang, aku akan menandai hari ini sebagai hari tersial dalam hidupku.


***


Sementara di lobby, sebenarnya Kevin sedang menunggu Sherin datang. Bukan tanpa alasan, dia hanya sudah lelah meminta Renata untuk menjauh. Tapi gadis itu terus saja memohon dan bergelayut di lengannya meski Kevin sudah menepisnya beberapa kali.


Sherin, kemana kau? aku jelas melihat jam pulang kerja mu. Kenapa masih tidak muncul juga? aku membutuhkan mu untuk mengusir wanita ini.


Satu jam sudah Kevin berdiri menunggu Sherin. Tapi sepertinya gadis itu keluar dari pintu lain.


" Honey, mau sampai kapan berdiri? ayo kita pulang. " Ajak Renata.


Kevin menghela nafasnya. Sudahlah, lebih baik mengatakan apa saja yang ingin dia katakan. Toh rumah sakit juga sudah tidak seramai beberapa saat lalu.


" Rien, dengar. Kau dan aku tidak akan bisa bersama. Sekeras apapun kau mencoba, semua akan percuma dan hanya akan menghabiskan waktu mu saja. "


Renata terdiam menatap Kevin yang begitu bersungguh-sungguh.


" Aku tahu, aku adalah pria brengsek karena meminta pisah dari mu dengan alasan yang kurang masuk akal bagimu. Tapi Rien, aku hanya akan mempermainkan hubungan kita tanpa tujuan. "


Mata Renata mulai memerah dan air mata juga sudah mulai memenuhi pelupuk matanya.


" Kevin, apa hanya seperti itu tujuan mu menerima ku dari awal? "


Kevin terdiam sesaat.


" Saat menerima cintamu, aku tidak memikirkan apapun. Aku menyetujui menjalin hubungan dengan mu, karena kau satu-satunya wanita yang siap dengan konsekuensi menjadi kekasih ku. "


" Apa tidak sedikit pun kau mencintaiku selama dua tahun bersama ku? "


" Ada. Tentu saja ada rasa itu. Hanya saja, perasaan itu mudah sekali untuk di sepelekan oleh ku. Aku merasa tidak membutuhkan usaha dalam menjalin hubungan dengan mu. "


" Maksudnya, aku terlalu agresif? " Tanya Renata dengan wajah kecewanya.


" Iya. Kau memang terlalu agresif, Rien. Aku sudah beberapa mencoba untuk melakukan tindakan untuk menyenangkan mu. Tapi kau tidak membiarkan aku melakukanya. Kau seolah tidak membutuhkan cintaku dan hanya perduli dengan rasa mu sendiri. "


TBC