
Kevin menghela nafas, lalu meletakkan ponselnya.
" Rici, berhentilah berpura-pura menjadi polos. Kau tidak bodoh dan buta, tentu saja kau tahu jika aku sudah memiliki istri. Aku datang menemui mu hari ini karena ingin memperingatkan mu. Jangan berbuat macam-macam lagi, keluargamu sudah kehilangan banyak sekarang, jangan sampai aku menghancurkan mu, beserta keluargamu sampai menjadi debu. "
Rici terdiam menahan tubuhnya yang mulai gemetar takut. Iya, dia memang sempat mendengar pembicaraan Ayahnya malam tadi tentang serangan dari perusahaan besar. Sekarang dia tahu benar jika laki-laki yang membuatnya begitu berambisi adalah pria yang tidak bisa disinggung. Rici menunduk, dia mengepalkan kedua tangannya yang tergeletak di pangkuannya. Cinta, sungguh dia mencintai Kevin, tapi kalau Kevin begitu menyeramkan seperti ini, bagaimana bisa dia bertahan? ditambah lagi keadaan perusahaan orang tuanya juga akan dalam bahaya.
" Ini adalah terakhir kalinya aku menemui mu. Mulai dari hari ini, jangan sampai aku melihatmu, terlebih jangan sampai kau menyinggung istriku. " Kevin bangkit dari duduknya, lalu pergi menjauh begitu saja. Sakit, itulah yang dirasakan Rici. Tapi mau bagaimana lagi? kalau saja dia tahu semua akan jadi begini, dia pasti akan menyingkirkan atau bahkan melenyapkan Sherin dari awal.
Setelah kembali ke rumah sakit, Kevin langsung saja menyambangi sang istri yang masih berada di ruang praktiknya. Untunglah, pasien sudah tida ada lagi sekarang.
" Sayangku? " Sapa Kevin setelah membuka pintu.
Sherin yang saat itu tengah membaca selembar kertas teralihkan karena mendengar suara Kevin.
" Kau sudah kembali? "
" Iya. " Kevin meraih kursi yang terletak di seberang meja Sherin, menariknya dan mengubah posisi kursi agar berdekatan dengan istrinya. Dia mengecup kening Sherin sebelum dia mendudukkan dirinya.
" Kau sudah tidak sibukkan? " Tanya Kevin.
" Iya, kenapa? "
" Kita pulang saja ya? kita siapkan barang-barang untuk kita berangkat besok. Kita pergi ke pusat belanja terlebih dulu, bagaimana? "
Sherin nampak berpikir sebentar. Sebenarnya dia ingin sekali pergi liburan, tapi kalau dia mengingat para pasien, dia jadi tidak rela untuk pergi.
" Apa tidak apa-apa kalau kita pergi berlibur? "
Kevin tersenyum, dia meraih tubuh Sherin lalu menjatuhkan ke pelukannya.
" Tidak apa-apa, aku sudah menyiapkan Dokter pengganti yang sudah teruji kemampuannya. "
Sherin mendesah lega setelah mendengar penuturan Kevin.
Setelah menyepakati untuk kembali lebih awal, mereka kini tengah membeli barang-barang yang diperlukan untuk liburan mereka. Bukanya merasa bahagia karena berada di pusat belanja, yang ada Sherin justru berwajah sebal terus menerus. Bagaimana tidak? yang di beli Kevin hanyalah keperluan kurang ajarnya sendiri. Mulai dari puluhan set bikini untuk Sherin, lingerie, pakaian terbuka dan berbahan agak tipis, dan juga aksesoris wanita yang lainya.
" Sayangku, tersenyumlah. Kalau kau merengut seperti ini terus, orang-orang akan mengira kalau aku tidak cukup memuaskan mu semalam. " Bisik Kevin.
" Senyum? senyum kepalamu! kita mau pergi liburan, atau mau membuat video dewasa?! "
" Liburan, sayangku. Kita akan menghabiskan pagi, siang, malam, di kamar. Suasana Maldives sepertinya lumayan cocok untuk membuat anak. "
Anak? anak matamu! gila ya?! apa gunanya pergi sampai ke Maldives kalau cuma seharian berada di kamar. Hah? kamar! aku yakin lebih tepatnya di atas tempat tidur.
" Kevin, berhentilah bicara yang tidak masuk akal! " Sebal Sherin.
" Sayangku, nanti sampai disana aku janji akan membuatmu puas. "
Sherin melirik kesal.
Next!
Pukul enam pagi, Kevin, Sherin dan juga dua pasang sahabat mereka yang tak lain adalah Vanya, Nath, Lexi dan Devi sudah berkumpul di bandara. Setelah memenuhi beberapa prosedur sebelum penerbangan, akhirnya kini mereka sudah berada di dalam perjalanan menuju Maldives.
Sembilan jam menuju Maldives akhirnya mereka sampai di tempat yang mereka inginkan. Karena sudah merasa lelah, mereka memutuskan untuk langsung istirahat saja di kamar mereka masing-masing.
Sherin yang sudah kelelahan kini berjalan gontai menuju tempat tidur. Ya ampun, mandi saja rasanya dia sangat malas, tapi kalau tidak mandi juga tidak nyaman saat tidur nanti.
" Sayangku, mandi dulu ya? " Kevin tersenyum menghampiri Sherin yang sudah terlihat sangat lelah. Di usapnya pelan kepala Sherin, lalu memberikan kecupan disana.
" Aku ingin mandi, tapi aku lelah sekali. " Ujar Sherin, dia yang benar-benar malas melakukan apapun perlahan menggerakkan tubuhnya untuk berbaring di tempat tidur. Sayang, Kevin lebih dulu mengangkat tubuhnya menuju kamar mandi.
" Kevin! "
" Kau malas kan? biar aku saja yang memandikan mu. "
***
Di kamar lain, Rici ya g juga diam-diam mengikuti Kevin kini juga berada di hotel yang sama. Entah apa itu resikonya, dia sudah tidak mau memperdulikannya lagi. Selain keuangan keluarganya yang merosot parah, dia juga sudah tidak memiliki apapun untuk bisa mengatakan bahwa dia sudah rela.
" Kalai aku tidak bisa memiliki Kevin, wanita sepertimu juga tidak pantas untuknya. "
Jleb!
Rici menusuk photo Sherin menggunakan belati tajam. Sudah kepalang tanggung juga kalau mau mengalah. Hari ini dia mendapatkan informasi penting yang mengatakan jika Kevin adalah pemilik rumah sakit dimana dia bekerja, dan dia juga berteman dengan anak dari pembisnis terkenal yaitu, Nathan Chloe. Pantas saja dia bisa melakukan banyak hal, sampai-sampai bisa menghancurkan keuangan keluarganya. Bahkan dengan hebatnya juga bisa menekan keluarga pria yang keluarganya gunakan untuk melecehkan Sherin, mereka memilih untuk diam dan tidak melapor kepada pihak berwajib. Padahal, luka yang di alami pria tersebut cukup parah.
" Kevin, sebenarnya siapa sebenarnya dirimu? mengapa kau bisa melakukan banyak hal? apa kau tahu? semenjak kau menolak ku, aku malah jadi semakin menginginkan mu. Pria yang setia, dan juga misterius. " Rici tersenyum licik memandangi photo Kevin yang dia ambil secara diam-diam beberapa waktu lalu.
***
Setelah selesai dengan urusan mandinya, mereka kompak memakai baju mereka dan bersiap untuk tidur. Untung saja Kevin cukup pengertian, dia yamg biasanya suka memaksa kini tak melakukan yang biasanya dia lakukan setiap malam. Yah, meskipun masih saja menggoda Sherin dengan memegang beberapa area kesukaannya dari tubuh Sherin.
" Kevin, kau belum mau tidur? besok Vanya, dan Devi akan berjalan-jalan dengan suami mereka. Kau tidak memiliki niat untuk diam di dalam kamar kan? " Sherin menatap Kevin dengan tatapan menyelidik.
" Tidak sayangku, Nath dan Lexi sudah memberi tahu. Besok pagi kita akan jalan setelah sarapan, lalu pulang sebelum makan siang. "
Sherin terperangah tak percaya.
" What?! jalan-jalan macam apa itu? kenapa begitu singkat? "
Kevin tersenyum, dia mulai mendekatkan wajahnya, lalu mengecup singkat bibir Sherin.
" Kami para laki-laki tidak terlalu suka berjalan-jalan terlalu lama. Karena kegiatan di dalam kamar akan lebih indah dari pada hanya sekedar jalan-jalan. "
" Sialan! kalian benar-benar sangat mesum! "