
Sudah seharian ini Sherin sibuk dengan urusan ngambeknya. Seperti yang di rencanakan, setelah banyak berbelanja, sekarang dia sudah berada di sebuah panti asuhan yang dulu pernah menjadi tempat berbaurnya saat kanak-kanak.
Sherin membagikan pakaian anak-anak, mainan, makanan ringan, dan juga makanan pokok. Ada juga obat-obatan dan vitamin bagi anak-anak yang tinggal disana.
Sherin tersenyum memandangi satu persatu anak-anak yang berlarian karena merasa bahagia dengan apa yang dia dapatkan. Karena selain barang-barang dan juga makanan, Sherin juga membagikan uang untuk mereka semua. Tak lupa, Sherin juga memberikan santunan bagi panti asuhan itu. Sebenarnya hal seperti ini sangat ia dia inginkan sedari dulu. Selama bekerja, dia selalu sibuk memikirkan kebutuhan untuk masa tuanya. Tapi saat menghabiskan uang hampir lima ratus juta, dia menjadi teringat akan niatnya yang sedari dulu hanya bisa dia pendam karena kurangnya kemampuan ekonominya.
" Ibu panti, sebenarnya aku mencurigai diriku sedang hamil. Semoga ini semua kenyataan. " Ucap Sherin. Jemarinya yang baru saja meletakkan cangkir teh, kini beralih ke perut ratanya yang tertutupi pakaian yamg tengah ia kenakan.
" Amin, sungguh saya berharap apa yang diharapkan Nona akan segera menjadi kenyataan. Ngomong-ngomong, Nona sudah melakukan tes kehamilan? " Tanya Ibu panti yang kini duduk bersebelahan dengannya.
" Belum, aku masih takut kecewa kalau yang aku harapkan adalah tidak benar. "
Ibu panti tersenyum.
" Jangan ragu, Nona. Jika tidak sekarang, masih ada esok hari, jangan takut akan kecewa, aku juga pernah mengalami itu. "
Sherin mengangguk dengan bibir tersenyum. Apa yang dikatakan Ibu panti tentu saja benar, tapi masalahnya dia masih saja ragu-ragu dan masih ingin melakukan tes kehamilan saat sudah cukup jauh lewat dari tanggal datang bulannya.
Setelah puas menghabiskan waktu di panti asuhan, tibalah waktunya bagi Sherin untuk pulang.
Dua jam menempuh perjalanan, akhirnya Sherin sampai dengan selamat di apartemennya. Tahu jika Kevin sudah berada di dalam apartemen, Sherin hanya bersikap seolah tidak ada apa-apa. Dia meletakkan sepatunya di rak yang tak jauh dari pintu, kemudian berjalan masuk ke kamar. Tak mendapati sosok Kevin, namun suara gemercik air dari dalam kamar mandi tentulah jika itu Kevin. Sudah merasa sangat lengket tubuhnya, Sherin memutuskan untuk mandi di kamar mandi yang lain. Setelah selesai, barulah dia kembali ke kamarnya.
" Sayangku? maaf tidak menyambut mu saat pulang tadi. Kau lelah? mau aku bantu memijit? " Ucap Kevin begitu Sherin membuka pintu kamarnya.
Tidak menjawab, Sherin justru gak mampu berkutik saat Kevin menyambutnya hanya dengan celana pendek yang ketat. Oh, bagian dada, perut, lengan, bagian paha dan juga kaki panjangnya benar-benar membuat Sherin hampir saja kehilangan kontrol. Ah, kalau saja tidak segera sadar, pasti air liurnya akan mengalir seperti air terjun Niagara.
" Aku, aku tidak minta disambut, aku juga tidak membutuhkan pijitan. " Sherin berjalan menerobos Kevin yang masih berdiri di depannya. Sherin membuka pintu lemari, lalu dengan cepat memakai setelan baju tidurnya.
" Sayangku, kau sudah makan? "
" Belum, tapi aku tidak mau makan. " Jawab Sherin.
" Aku lapar, sayangku. " Rengek Kevin.
" Lapar ya makan, haus tinggal minum, ngantuk ya tidur, sakit perut tinggal buang air besar. Se-simpel itu hidup, kenapa merengek kepada orang lain untuk memberi tahu.
" Kalau mau berkembang biak bagaimana? "
Sherin terperangah kesal. Cih! benar-benar minta dipukul apa ya kepalanya?
" Kau kan ahlinya, kenapa masih bertanya? "
Kevin tersenyum sembari berjalan mendekati Sherin.
" Jadi boleh sekarang? "
" Kevin? " Panggil Sherin dengan tatapan dinginnya.
" Iya, sayangku? " Kevin tersenyum menatap wajah Sherin.
" Beri tahu aku, tubuh bagian mana yang minta dipukul? "
Kevin masih tersenyum, dia justru lebih mendekatkan dirinya seolah kata-kata Sherin bukanlah apa-apa baginya.
" Aku tidak minta dipukul, sayangku. Aku ini sedang minta di, ehem! "
" Sayangku, seharian kemarin kau kan sudah ngambek, malam ini jangan ngambek lagi ya? " Kevin memeluk tubuh Sherin dari belakang. Di kecup nya tengkuk Sherin setelah berhasil menyibakkan rambutnya ke samping.
Sherin sesungguhnya sudah mulai luluh, tapi ayolah! masa semudah itu memaafkan?
" Lebih baik kau jangan macam-macam! aku, aku sedang datang bulan. "
Kevin tak menjawab, tapi tangannya tergerak cepat untuk menyentuh bagian inti istrinya. Dia tersenyum begitu dia tahu yamg sebenarnya.
" Sayangku, jangan berbohong begitu. "
" Memang kenapa? bukankah itu hak ku untuk menolak? "
Kevin melepas dekapannya. Dia nampak memasang raut wajah kecewa tanpa adanya kata-kata yang keluar dari mulutnya.
" Kau tahu kan? aku paling sulit menahan diri. Kalau kau tidak mau, maka maafkan aku karena aku akan menemui mantan pacar yang bersedia menjadi istri keduaku, dan aku tidak akan kasihan seperti ini lagi. "
Sherin menggigit bibir bawahnya karena kesal. Ingin sekali mulutnya berkata, pergi sana! tapi, dimana lagi dia akan mencari suami seperti Kevin? meskipun agak mata keranjang, tapi Kevin sangatlah baik, dan selalu berada di depan untuk melindunginya. Tahan, tahan Sherin, kapan lagi bisa memiliki suami yang keren seperti Kevin? batin Sherin.
Sherin menghela nafasnya, sudah lah, lebih baik jaga saja apa yang kini ada bersamanya.
Sherin mendekatkan tubuh mereka, dia berjinjit tinggi karena perbedaan tubuh mereka cukup jauh. Dia meraih tengkuk Kevin agar mempermudahnya untuk menautkan bibir mereka.
Berhasil! batin Kevin girang saat mendapati Sherin berinisiatif terlebih dulu. Tentu juga kesempatan semacam ini tidak akan pernah di sia-siakan oleh Kevin. Dia meraih pinggul Sherin, menahan, lalu menggendongnya. Sherin yang tahu harus bagaimana, dia mengunci tubuhnya dengan menyilangkan kaki agar bisa mempertahankan posisi tubuhnya.
" Sayangku, kau yang mulai duluan, jadi jangan salahkan aku kalau aku butuh waktu lama ya? "
Heh! dasar brengsek! kalau kau tidak mengancam ku, mana mungkin aku akan berinisiatif begini?
Pagi Harinya. Setelah mereka selsai mandi dan rapih-rapih, tibalah saatnya mereka untuk sarapan. Tidak seperti biasanya yang memilih untuk sarapan di luar, pagi ini Kevin memasak menu sederhana yang bisa ia masak untuk sarapan mereka berdua.
" Ini apa? " Tanya Sherin sembari mengaduk makanannya.
" Ini namanya sup telur. Cobalah, kita sama-sama tidak suka makanan yang terlaku asin, kau pasti akan menyukainya. "
" Iya, mungkin ini satu-satu kesamaan di antara kita. "
Kevin memaksakan senyumnya. Sabar, sabar, tidak apa-apa yang penting istrinya tida marah.
" Oh iya sayangku, kemarin ada seorang pria yang mengajukan komplain atas tindakan operasi mu beberapa minggu lalu. "
" Komplain kenapa? " Tanya Sherin dengan dahi mengeryit bingung.
" Nanti kita lihat lagi dengan jelas. " Ujar Kevin yang merasa belum yakin.
" Oh, siapa nama pasiennya? " Tanya Sherin.
" Aku lupa, tapi nama pria itu kalau tidak salah, Adamson. "
Sherin terkejut hingga terbatuk-batuk karena tersedak bubur yang baru saja ia suap ke mulutnya.
Kenapa dia? apa yang dia inginkan sekarang?
TBC