Marry Me, Please

Marry Me, Please
Final Episode



Seperti yang seharusnya, hari terus berjalan, siksaan-siksaan para suami yang istrinya mengidam kini telah berakhir.


" Sayangku, Kenan sudah selesai diberi makan. " Ucap Kevin seraya meyerahkan Putranya yang bernama Kenan kepada istrinya. Kevin adalah salah satu Ayah yang juga begitu telaten mengurus putranya. Oh tunggu! tentu saja itu karena titah sang istri. Kenapa? karena saat ini Sherin kembali mengandung. Usia kandungannya memang baru empat minggu, tapi Kevin yang begitu melindungi istrinya tak membiarkan istrinya kesusahan sedikitpun.


" Kenan pintar sekali? " Goda Sherin sembari mencium kepala sang putra yang kini tengah berada di pangkuannya. Usia Keenan baru saja enam bulan, tapi dia sudah mengandung lagi. Iya, mungkin memang ini sudah menjadi rejekinya. Meskipun ada rasa kasihan terhadap Keenan, tapi dia juga tidak bisa mengabaikan janin yang kini tengah berkembang di perutnya.


Kevin tersenyum melihat anak dan istrinya. Ini terasa seperti mimpi indah yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Memiliki istri yang cantik, anak yang tampan, dan sebentar lagi akan menambah jumlah anggota keluarganya lagi. Rasanya baru kemarin dia sering menggerutu kesal karena ngidam istrinya. Tapi itu tidak akan terjadi lagi pada kehamilan ini. Dia sudah benar-benar berjanji kepada dirinya sendiri. Untuk selalu sabar dan menuruti apa yang di inginkan oleh anak dan istrinya nanti. Pengalaman pahit yang ia rasakan saat kecil hingga remaja, cukup memberinya pelajaran berharga yang tidak akan dia wariskan untuk anak-anaknya. Dia akan memberikan sebanyak-banyaknya kasih sayang yang tidak terbatas untuk anak maupun istrinya. Dan yang paling penting, dia akan menjadikan Sherin satu-satunya wanita di dalam rumah tangganya. Dia benar-benar tidak akan pernah menjadi seperti Ayah kandungnya yang begitu brengsek dalam membesarkannya, dan pecundang sebagai seorang suami bagi Ibunya.


Waktu yang berjalan begitu cepat ini benar-benar membuat Kevin menyadari banyak hal. Hanya dalam hitungan hari, dia kini sudah menjadi seorang Ayah, bukan tidak mungkin akan segera menjadi Kakek, lalu meninggal, dan hanya tinggal nama dam kenangan saja. Sesekali dia sering merenung karena merasa jika hal yang ia lakukan begitu tidak pantas, terlebih tentang wanita.


" Sayang, bisa besok adalah jadwal cek kandungan, kau akan menemaniku kan? " Tanya Sherin seraya berjalan mendekati Kevin yang kini duduk di balkon sembari menatap ke luar. Sementara Keenan, dia kini tengah bermain di boks bayinya.


Kevin memutar tubuhnya untuk menghadap Sherin.


" Tentu saja. Aku sudah memundurkan jam kerjaku besok pagi. "


Sherin tersenyum, dia merentangkan kedua tangannya, lalu memeluk Kevin. Sungguh dia benar-benar jatuh cinta dengan Kevin sekarang ini. Memang sih, pertengkaran masih tetap ada di antara mereka, tapi entah karena sudah terbiasa, atau karena mereka yang semakin tumbuh dewasa dan mengerti satu sama lain, apapun masalah di antara mereka selalu saja berujung dengan damai, dan menambah kadar cinta di antara mereka.


" Sayangku, terimakasih sudah menjadi istriku. " Ucap Kevin yang kini masih erat memeluk istrinya. Kecupan sayang sepertin iasanya juga ia berikan di kening Sherin.


" Aku juga, terimakasih karena telah menjadikan aku istrimu. " Sherin semakin erat memeluk tubuh Kevin.


" Kau ingin makan sesuatu tidak? apa kau menginginkan yang lain? " Tanya Kevin.


" Tidak, aku tidak menginginkan apa-apa sekarang. "


Kevin tersenyum.


" Jangan ragu untuk memberitahu saat kau menginginkan sesuatu ya? " Sherin mengangguk cepat. Iya, semenjak lahirnya Keenan, Kevin yang tadinya sangat membenci ngidam istrinya saat hamil, dia menyadari jika itu tidak lah sebanding dengan pengorbanan istrinya saat melahirkan. Mulai dari menunggu pembukaan yang dibarengi kontraksi, bahkan dia sudah hampir gila melihat Sherin merintih kesakitan, tapi tetap dia tidak bisa mengurangi rasa sakit itu. Belum lagi pendarahan saat pembukaan ke enam, sudah menunggu berjam-jam, bahkan Sherin sampai dua kali pingsan bayinya tidak juga lahir. Setelah mempertimbangkan dengan baik, akhirnya Sherin dianjurkan melahirkan secara sesar. Benar-benar sakit yang berkali-kali. Sejak itu Kevin memutuskan untuk menebus segala rasa sakit yang di alami oleh istrinya dengan cara apapun, terlebih saat dia tahu kalau Sherin kembali mengandung, dia tidak membiarkan Sherin merasa kekurangan apapun, bahkan Kevin sebisa mungkin meluangkan lebih banyak waktu untuk Sherin dan Keenan. Yah, meskipun Keenan memiliki Babysitter, tapi Kevin benar-benar ingin menjadi sosok yang selalu ada untuk anak dan istrinya.


Seperti yang sudah dijanjikan, pagi ini Kevin menemani Sherin untuk mengecek kandungan. Baru setelah semuanya selesai, mereka memutuskan untuk mengunjungi pusat belanja dan membeli apa yang di inginkan istrinya. Seperti kebanyakan Ibu-Ibu pada umumnya, yang di beli oleh Sherin adalah baju-baju untuk putranya, Keenan. Ada juga sepatu, topi, kaca mata dan beberapa aksesoris bayi laki-laki. Tentu Kevin tak melarangnya, entah apapun dan berapa pun harganya sekarang ini bukanlah hal yang bisa di bandingkan dengan senyum manis istrinya yang terlihat bahagia.


" Sherin? "


Merasa namanya disebut, Sherin menoleh mencari keberadaan suara wanita yang memanggilnya.


" Renata? "


Renata tersenyum seraya berjalan mendekati Sherin. Iya, jelas sekali tidak ada dendam atau tatapan kesal seperti yang dulu ia lihat.


" Apa kabar? " Tanya Renata.


" Aku, baik. Bagaimana denganmu? " Tanya Sherin sedikit gugup.


" Seperti yang kau lihat, aku juga baik. " Renata mencari keberadaan Kevin. Dia tersenyum saat mendapati Kevin duduk tak jauh dari mereka sembari memperhatikan mereka berdua. Awalnya Sherin kesal saat Renata tersenyum kepada Kevin, tapi masa iya dia harus melarang orang yang tersenyum dan menyapa suaminya sih?


Menyadari jika Sherin kurang nyaman, Renata akhirnya kembali mengajak bicara Sherin.


" Kau sedang membeli pakaian untuk anak mu? "


" Iya, bagaimana denganmu? kenapa ada di tempat pakaian anak-anak? "


" Untuk calon bayiku. "


Sherin menatap Renata dengan tatapan terkejut.


" Calon bayimu? kau hamil? "


Renata mengangguk seraya terkekeh geli.


" Iya, memang hanya kau yang bisa hamil? "


" De dengan siapa kau hamil? " Tanya Sherin yang tiba-tiba merasa takut. Tadi tersenyum, lalu melambaikan tangan kepada suaminya. Apakah Kevin diam-diam menghamili mantan pacarnya ini?


Renata tertawa lumayan kencang. Iya, dia tahu benar apa yamg sedang dipikirkan Sherin saat ini.


" Tentu saja dengan suamiku. "


" Siapa suamimu? " Di dalam hati Sherin sudah mengambil ancang-ancang, walau bagaimanapun Renata kan pernah meminta untuk dijadikan istri kedua suaminya.


" Itu, dia di sana. " Renata menunjuk pria yang saat ini tengah tersenyum menatapnya.


" Itu, suamimu? "


" Iya. "


Oh, sungguh sangat lega! untung saja bukan Kevin, batin Sherin. Setelah selesai mengobrol sembari berbelanja, Sherin dan Kevin kembali ke rumah, barulah setelah itu Kevin kembali ke rumah sakit untuk bekerja.


Waktu terus berjalan, hari-hari bahagia bergantian datang dengan kebahagian baru. Kevin dan Sherin masih begitu telaten mengurus kehamilan keduanya, dan juga putra pertama mereka. Dan satu hal yang masih Kevin doakan, yaitu dia berharap anak keduanya adalah laki-laki. Bukan karena takut menerima karma masa lalu, tapi dia takut kalau sampai anaknya perempuan, dan nanti akan merasakan sakit yang sama seperti yang dirasakan Istrinya.


" Keenan, kau adalah putra pertama Ayah. Sungguh Ayah ingin kau hidup dengan baik, dan bahagia seperti yang Ayah dan Ibu harapkan. Semoga adikmu juga akan merasakan kasih sayang yang sama. " Kevin mengecup kening Keenan yang kini terlelap dipangkuannya.


" Aku juga memiliki harapan. " Sherin memeluk tubuh Kevin dari belakang.


" Aku berharap akan memiliki banyak waktu bersamamu. Menyaksikan anak-anak kita tumbuh dewasa, melihat mu memiliki banyak kerutan dan uban. Kita bisa saling meledek nantinya, kita bisa merasakan bagaimana rasanya menggendong cucu. Dan menikmati matahari terbit dan tenggelam bersama-sama. "


Kevin tersenyum.


" Sayangku, aku mencintaimu. Terimakasih karena sudah menikah denganku. "


" Aku juga mencintaimu, Terimakasih karena sudah menikahi ku, dan menjadikan aku istri yang bahagia. "


Tamat


Hallo kesayangan? apa kabar?


Terimakasih banyak untuk kalian yang selalu setia menunggu novel ini up meskipun jarang sekali up nya. Hehe


Terimakasih juga yang selalu memberikan komentar, tapi aku jarang bales karena waktu aku buat buka aplikasi gak banyak karena kesibukan di dunia nyata ku..🤭


Jangan lupa mampir di novel aku yang lain ya kesayangan? sampai jumpa👋👋 ❤️❤️