Marry Me, Please

Marry Me, Please
Setuju



Setelah kembali ke apartemen, Sherin langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Begitu juga dengan Kevin. Maunya sih mandi berdua dengan Sherin, tapi gadis itu pasti akan menolak dan tambah kesal lagi dengannya kan?


Sherin melakukan rutinitas seperti kebanyakan para gadis lainya yang akan merawat kulit wajah sebelum ia tidur. Tak ada lagi yang bisa ia lakukan. Makan malam sudah, mau kencan juga sudah gagal. Mau apa lagi kalau bukan tidur. Mau melihat media sosial juga sudah terlalu malas gara-gara membaca komentar dari unggahan Kevin.


Sherin merebahkan tubuhnya menatap langit-langit kosong. Dia kembali memikirkan ucapan Ibunya. Sungguh dia tidak tertarik untuk menjadi barang yang di jual meski pembelinya adalah pria tampan. Iya, Ibunya juga sudah mengirimkan photo dari pria yang akan di jodohkan dengannya. Selama ini dia mengurus dirinya sendiri dengan susah oayah. Menjadi gadis baik dan memiliki kemampuan di bidang kesehatan. Tapi kenapa dia harus menjadi alat untuk membahagiakan orang yang tidak mengurusnya sama sekali? apa dia pikir untuk mengganti uang karena sudah melahirkannya? bagaimana bisa, padahal dia juga sering memberikan uang kepada Ibunya.


Sherin sontak bangkit dari posisinya. Dibanding hanya galau yang tidak memiliki arti, lebih baik dia kembali fokus untuk mencari jodoh melalui aplikasi online. Beberapa saat setelah Sherin mengaktifkan aplikasi nya, ternyata sudah ada beberapa pria yang berminat padanya. Sherin dengan semangat memilih pria yang akan ia setujui sebagai teman kencannya nanti. Memang tidak begitu antusias seperti saat akan bertemu Alex, tapi sepertinya tidak perlu memikirkan ini lagi. Pokoknya dia hanya perlu cepat menikah dan terhindar dari objek jual beli.


Pagi harinya.


Seperti biasa, Sherin akan berangkat kerja berjalan kaki sampai ke halte Bus. Dan seperti hari kemarin, Kevin juga mengikuti kemana kaki Sherin melangkah sembari mengajak nya mengobrol meski tidak mendapatkan tanggapan sama sekali.


Hari berjalan seperti biasanya. Kali ini Sherin juga menjalani tugasnya dengan semangat hingga tak terasa waktu untuk pulang juga sudah tiba. Hari ini sherin tidak langsung pulang karena waktu untuk bertemu dengan partner kencannya sudah terbatas. Dia pergi ke toilet terlebih dulu untuk mencuci wajahnya. Setelah itu, dia merias wajahnya dengan make up se natural mungkin. Dress yang ia kenakan juga sederhana tidak seperti saat bertemu dengan Alex. Tidak tahu kenapa, rasanya dia sama sekali semangat seperti kemarin. Tapi demi menghindari perjodohan nya, dia tidak mempunyai pilihan lain selain berangkat untuk kencan buta.


Sesampainya di sebuah kafe, tempat dimana dia dan partner kencannya bertemu. Sungguh, Sherin sama sekali tidak bisa tersenyum. Pria bernama Denis itu jelas sekali adalah seorang playboy. Sedari pertama bertemu, yang ia bicarakan hanyalah rayuan-rayuan remeh yang membuat Sherin muak. Tapi tetap saja, dia masih belum menyerah dan mencoba untuk bertahan disana.


" Sherin, aku jatuh cinta pada pandangan pertama dengan mu. Maukah kau menjadi pacar ku? "


Sherin terdiam. Bukanya merasa ragu, dia hanya sangat muak dengan tingkah Denis sampai-sampai tidak bisa bicara lagi.


" Tapi aku belum merasa cocok dengan mu. " Jawab Sherin malas.


" Kalau begitu, mari kita menjalani proses pendekatan dulu. Kalau kau sudah tahu bagaimana aku dan begitu juga sebaliknya, kita bisa melangkah lebih serius kan? " Ajak Denis.


" Iya baiklah. " Ucap Sherin meski sebenarnya dia sangat malas sekali. Tapi mencari suami itu kan sulit, lebih baik biarkan saja Denis mendekatinya. Kalau nanti harus menikah, setidaknya dia sudah bebas dari perjodohan. Barulah dia akan menceraikan Denis.


Setelah pertemuan itu berakhir, Sherin berjalan lebih dulu menuju taksi online yang sudah ia pesan sebelumnya. Tinggallah Denis yang masih memandangi mobil itu sembari memikirkan beberapa rencana untuk bisa mendapatkan Sherin.


" Hei, Bro. " Kevin tiba-tiba berdiri di sampaing Denis dan entah dari mana datangnya pria itu.


" Siapa kau? " Tanya Denis.


" Calon suami dari gadis yang baru saja menjadi partner kencan buta mu. "


Denis berdecih tidak percaya menatap Kevin.


" Kalau dia calon istrimu, bagaimana mungkin dia melakukan kencan buta? "


" Karena dia sedang marah dengan ku. " Kevin menyodorkan segepok uang untuk Denis.


" Apa ini? " Tanya Denis bingung.


" Uang. " Jawab kevin.


" Tentu saja aku tahu. Tapi untuk apa? "


" Jauhi calon istriku. " Titah Kevin.


" Kau sudah gila ya?! apa kau sedang membeli harga diri ku? " Tanya Denis dengan tatapan kesal.


" Kalau begitu, kembalikan padaku. " Kevin menyodorkan tangannya meminta Denis mengembalikan uang yang kini sedang ia pegang.


" Aku kan tidak bilang ingin aku kembalikan. " Ujar Denis yang membuat Kevin bingung.


" Lalu? "


" Tambah lagi lah. Ini terlalu murah untuk harga diri seorang pria tampan sepertiku. " Denis tersenyum saat Kevin menatap nya jengah.


" Berikan nomor rekening mu. " Pinta Kevin.


Setelah menambahkan untuk Denise, Kevin segera kembali ke apartemen. Sungguh dia sudah tidak bisa sabar lagi kalau begini. Tapi mau bagaimana lagi? mengetuk pintu Sherin tidak di buka. Telepon dan pesan yang dia kirim juga tidak mendapatkan respon. Mau tidak mau dia hanya bisa menunggu sampai Sherin berangkat kerja besok pagi.


Pagi harinya.


Kevin lagi-lagi hanya bisa menghela nafas sebal karena Sherin berangkat pagi-pagi sekali. Yah, mungkin dia sudah sangat malas berurusan dengan Kevin lagi. Setelah mengetahui Sherin lebih dulu berangkat, Kevin akhirnya juga berangkat menggunakan mobilnya.


Aku akan memikirkannya! jangan memaksaku terus menerus! " Ucap Sherin lalu mengakhiri panggilan telepon nya. Dia menundukkan kepala sesegukan di ruang kerjanya. Untung saja ini jam makan siangnya, jadi tidak akan ada yang mengganggunya.


Gadis itu bangkit dan mengusap air matanya. Tapi sial! seorang pria yang entah sejak kapan berdiri di dekat pintu memperhatikannya.


" Kenapa anda disini? "


Sherin mencoba mengalihkan wajah agar tak disadari adanya air mata yang tersisa di wajahnya.


" Kenapa kau selalu berpura-pura kuat? " Tanya pria itu yang tak lain adalah Kevin.


" Jangan omong kosong! "


Kevin berjalan mendekati Sherin yang masih tegak berdiri. Dia meraih kursi Sherin dan mendekatkan padanya untuk ia duduki. Sherin yang bingung hanya bisa menatap pria menyebalkan itu.


" Ah!! " Pekik Sherin saat Kevin menarik tubuhnya dan membuatnya duduk di pangkuannya. Sherin yang merasa terkejut mencoba untuk bangkit dengan sedikit memaksa.


" Diamlah, ada sesuatu yang sensitive dibawah mu yang akan bereaksi jika kau terus bergerak."


Diam, Sherin langsung tidak mau bergerak. Bahkan bernafas pun dia begitu pelan agar tubuhnya tak mengalami pergerakan karena naik turun perutnya saat bernafas.


" Aku tahu semua, sayangku. " Kevin menyibakkan rambut Sherin agar bisa melihat tengkuknya.


" Apa yang kau tahu? "


Kevin tersenyum lalu memberikan kecupan di tengkuk Sherin. Tentu saja gadis itu merona dan merasa geli dengan apa yang dilakukan Kevin. Tapi dia juga masih tidak berani bangkit atau melakukan gerakan apapun.


" Ibumu mengambil Berly, memaksamu untuk menikahi anak dari rekan suaminya kan? "


" Dari mana kau tahu? "


" Aku tahu semua tentangmu, sayang. "


" Lalu, apa hubungannya dengan mu? "


Kevin memeluk tubuh Sherin dan menghirup aroma tubuh wanita yang ia cintai itu.


" Karena kau adalah calon istriku, mana mungkin aku akan membiarkan hal itu terjadi? "


" Jangan bermimpi. Ibu dan Ayah tiri ku sangat keras kepala. Saat aku mengatakan akan menikahi pria baik hati dan memiliki jabatan tinggi pun, dia tetap memaksaku untuk menikah. "


" Maka kau hanya perlu hamil. "


Sherin menatap Kevin dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana bisa dia berkata hamil dengan mudahnya? pacar saja dia tidak punya, dua kali kencan buta juga gagal. Lalu dengan siapa dia akan hamil? guling?


" Kau ini gila atau apa sih?! "


Kevin mengurai pelukannya dan menatap manik mata Sherin.


" Percaya atau tidak, hanya aku yang bisa membantumu saat ini. Kau meragukan harta? maka tenanglah, sampai sepuluh turunan pun, harta ku tidak akan habis. Kalau setiap hari makan tahu tempe. ".


" Jangan membawa harta dalam masalah ini. "


Kevin berdecih.


" Ibumu menikahkan mu karena tergiur tawaran yang diberikan dari calon mempelai pria. "


Sherin terdiam sembari berpikir. Apakah harus mempercayakan ini kepada orang yang menyebalkan ini? tapi, dibanding menikahi pria pilihan Ibunya, bukankah lebih baik menikahi Kevin? konsekuensinya kan hanya menguras kesabaran dan semakin dimusuhi oleh tenaga medis disana. Tapi, kan dia bisa pindah rumah sakit?


Hah ide bagus!


" Baiklah! aku setuju. "


TBC