Marry Me, Please

Marry Me, Please
Menikah Denganku



Sherin yang tak mau berdebat lagi memutuskan untuk memberikan saja ponsel itu kepada Kevin.


" Halo, Ibu mertua? "


Hening sesaat sebelum sahutan suara itu kembali terdengar.


Ini siapa? dimana putri ku?


" Nama saya Kevin. Saya adalah kekasihnya putri anda. Ngomong-ngomong, saya berniat menemui anda untuk melamar Sherin. Tidak disangka, Ibu mertua menghubungi Sherin terlebih dulu. "


Jangan omong kosong! Sherin akan segera menikah dengan putra dari sahabat suami ku. Lebih baik kau pergi saja.


" Kenapa aku harus pergi? kalau aku pergi, Sherin pasti akan merindukan aku loh, Ibu mertua. Bahkan lima menit berpisah saja dia sudah uring-uringan. " Kevin tersenyum menatap Sherin yang tengah menatapnya kesal.


Berhentilah berbicara yang aneh-aneh. Anakku akan segera menikah dengan pria pilihan kami. Tolong jangan mengganggu dan carilah gadis lain.


" Aku bisa saja mencari gadis lain. Tapi bagaimana dengan Sherin? dia pasti akan menangis sedih sepanjang masa. "


Dengar ya? aku tahu kau hanya di mintai tolong oleh anakku untuk membantal kan perjodohan ini. Tapi, perjodohan ini akan tetap berlangsung apapun yang terjadi.


" Maaf membuat Ibu mertua kecewa. Tapi Sherin sedang mengandung anak ku. Tidak mungkin kan laki-laki itu mau menikahi wanita hamil? "


Apa-apaan kau ini?! cepat berikan teleponnya kepada Sherin!


" Maaf Ibu mertua. Sherin sedang mandi. "


Apa?! kalian juga tinggal bersama?


" Iya, apartemen kami berdampingan. Jadi kadang aku tidur di apartemen Sherin, kadang juga sebaliknya. "


Tutup mulut mu! berikan ponselnya kepada Sherin. Biarkan aku bicara dengannya.


" Maaf, Ibu mertua. Sampai jumpa nanti ya? "


Kevin langsung mengakhiri panggilan teleponnya setelah itu. Dia menyerahkan ponselnya kepada Sherin dengan senyum aneh yang tidak bisa Sherin mengerti apa maksud nya.


" Apa-apaam sih? mengandung? tinggal bersama? kenapa kedengarannya aku seperti barang murahan saja. " Gerutu Sherin sembari menerima ponsel dari Kevin.


" Aku tidak pernah menganggap mu barang. " Kevin kembali tersenyum.


Sebenarnya tidak masalah seberapa banyak Kevin berniat untuk tersenyum, tapi kalau di lakukan di hadapannya, rasanya dia akan terkena diabetes kalau begitu.


" Bagaimana kalau kita menikah saja hari ini? kita tidak usah bekerja dan fokus mengurus pernikahan kita saja. " Ucap Kevin dengan tatapan yang begitu bersungguh-sungguh meski bibirnya tengah tersenyum sekarang.


" What?! " Sherin terperangah kaget. Iya tentu saja dia kaget. Ini tuh menikah loh ya, bukan main rumah-rumahan yang bisa dilakukan kapan saja.


" Aku seriusa. Kau hanya perlu membantu ku menyiapkan beberapa hal. Setelah itu kita perlu menunggu beberapa saat. Kemungkinan sore kita bisa menikah. "


" Me menikah? sore ini? " Sherin sampai mengedipkan mata beberapa kali karena dia masih saja syok. Padahal baru beberapa hari dia mengeluh karena sulit mencari suami. Sekarang begitu cepat menikah, nanti orang berpikir kalau dia hamil di luar nikah sungguhan. Apalagi mulut salah satu sahabatnya yang bernama Devi. Dia pasti akan dengan cepat berpikiran buruk tentangnya.


Sherin terdiam sesaat sembari berpikir. Iya, memang benar apa yang dikatakan Kevin. Sekarang ini penting baginya untuk membatalkan perjodohan itu. Lagi pula, Kevin juga bukan pria yang akan ingkar janji kan? sekarang ini dia akan menikah saja dulu, baru pikirkan tentang perceraian. Dan satu hak yang paling penting, pernikahan mereka tidak boleh tercatat oleh negara.


" Baiklah. Tapi apa aku satu permintaan. "


" Apa? " Kevin mengeryit bingung. Padahal kan Sherin yang membutuhkan bantuannya. Kenapa terkesan kalau dia yang ingin sekali menikah? meskipun memang begitu, tapi tidak mungkin untuk di ungkapkan secara langsung kan.


" Aku ingin pernikahan kita tidak terdaftar secara negara. Setelah pernikahan berjalan satu tahun, aku ingin kita bercerai. Bagaimana? "


Kevin terdiam menatap manik mata Sherin dengan tatapan yang lurus. Sungguh dia tidak habis pikir dengan jalan pikiran Sherin. Belum juga menikah, dia sudah ingin bercerai. Kevin menghembuskan nafas kasarnya.


" Sherin, yang membutuhkan bantuan adalah kau. Kenapa kau bertingkah seolah-olah aku sedang mengharapkan pertolongan dari mu? "


Sherin terdiam sejenak merenungkan apa yang dikatakan Kevin. Sungguh bodoh sekali. Dia benar-benar tidak sadar bahwa seharusnya Kevin lah yang mengajukan persyaratan. Lalu apa-apaan ini? bagaimana bisa dia bertingkah konyol seperti ini? Sherin tersenyum kikuk lalu menatap Kevin.


" Itu, aku minta maaf ya? sebenarnya aku hanya berharap semuanya mudah. Tapi siapa sangka kalau aku akan kehilangan kesadaran diri begini. "


Kevin menghela nafasnya lalu membenahi duduknya menghadap ke kaca mobil.


" Sherin, selama ini aku tidak pernah memikirkan yang namanya pernikahan. Tapi setelah bertemu dengan mu, aku mulai memikirkan untuk menikah, memiliki keluarga ku sendiri, bahagia bersama mu dan anak-anak kita nanti. Lalu tiba-tiba kau meminta untuk jangan mendaftarkan pernikahan kita. Bahkan kau juga sudah membahas tentang perceraian bahkan sebelum kita menikah."


Sherin terdiam. Bukanya tidak mau memiliki keluarga dan bahagia bersama keluarganya nanti, tapi melihat bagiamana misteriusnya Kevin, dia menjadi merasa perlu untuk agak menjaga jarak dan tidak mudah untuk percaya dengannya.


" Sherin, katakan padaku. Katakan apa yang membuat mu ragu dengan ku. " Kevin tahu benar ada keraguan di mata Sherin. Tali sungguh, dia sama sekali tidak berniat menyembunyikan apapun kalau Sherin sudah terikat pernikahan dengannya nanti.


Sherin menatap manik mata Kevin.


" Aku tidak tahu bagaimana menyampaikannya ke padamu. Tapi aku selalu merasa kalau kau begitu rumit. Entah apa tapi aku tidak tahu. Seperti ada sesuatu yang besar sedang kau sembunyikan. Aku jadi menebak-nebak sendiri. Apa sebenarnya kau sudah memiliki istri? atau ada hal besar yang tidak bisa kau tunjukkan kepada sembarang orang. "


Kevin menahan tawanya setelah Sherin selesai bicara.


" Jadi, kau mencurigai ku memiliki istri? "


" Eh? " Sherin mengeryit menatap Kevin. Dia kebingungan sendiri karena sedari banyak kalimat yang dia katakan, bagaimana bisa Kevin fokus dengan itu saja?


" Dengar, aku belum memiliki istri. Aku bersumpah. Sekarang begini saja, menikah lah dengan ku, maka aku akan menceritakan apapun tentang diriku. Aku berjanji akan memberi tahu mu apa yang ingin kau tahu, bahkan apa yang tidak ingin kau tahu juga akan akan aku beri tahu. "


Sherin menelan salivanya karena dengan jelas dia bisa melihat Kevin begitu bersungguh-sungguh dengan kata-katanya.


" Jadi, mau kah kau menikah dengan ku hari ini? " Kevin menyodorkan telapak tangannya.


Sherin menatap tangan itu ragu. Tapi dari cara bicara Kevin barusan, jelas sekali kalau dia tidak akan ingkar janji.


" Baiklah, aku harap kau benar-benar akan memenuhi janji mu itu. " Sherin meletakkan tangannya di atas tangan Kevin.


TBC