
Sebuah acara pernikahan kini tengah berlangsung dengan begitu tertutup. Kevin dan Sherin kini tersenyum seolah-olah mereka adalah pasangan yang berbahagia. Tapi, memang inilah yang dirasakan oleh Kevin. Rasanya masih seperti mimpi memang. Menikah dan mempersiapkannya hanya dalam hitungan jam. Kini dengan bangganya dia bisa memamerkan kepada dua sahabatnya yang sudah lebih dulu menikah. Ah, akhirnya laku juga. Batin Kevin yang tentu saja merasa bangga dengan dirinya sendiri.
Semenatara yang dirasakan Sherin, gadis itu kini tersenyum tapi sorot matanya benar-benar seperti orang bloon. Halo? dia menikah di hari ini dengan begitu mendadaknya. Ngomong-ngomong bagaimana kehidupan setelah menikah nanti? selain akan disambut oleh banyak musuh mulai besok, dia juga masih kebingungan apa ini benar atau tidak? dia sebegitu percaya kepada Kevin yang jelas-jelas selalu membuat hatinya selalu kesal hanya demi menghindari perjodohan. Padahal kalau di ingat-ingat lagi, priabyang akan di jodohkan dengannya itu kan lumayan tampan. Yah, meskipun hanya bisa melihat nya dari photo yang di kirimkan Ibunya, tapi pasti pria itu tidak jauh beda dari photo kan?
Melihat tatapan Sherin yang begitu tidak fokus, Kevin meraih pinggang Sherin dan membuat tubuh mereka saling menempel layaknya perangko.
" Jangan berani-beraninya memikirkan pria lain saat sedang bersamaku. Terlebih lagi, kau adalah istriku. Ingat! mulai dari hari ini, hanya boleh aku satu-satunya pria yang akan menjadi pria mu. Maka simpan nama dan wajah ku di dalam otak dan hati mu. Oh iya, satu hal yang aku lupa beri tahu padamu. Wanita yang sudah terikat dengan ku, tidak akan memiliki apapun untuk bisa pergi. Jadi, jangan memikirkan hal yang aneh-aneh ya? " Kevin menjauhkan wajahnya dari telinga Sherin setelah mengatakan itu semua. Dia juga tersenyum lalu mengusap pipi Sherin mesra meski tatapannya itu masih dengan jelas terlibat mengancam.
Sherin hanya bisa menelan salivanya saat bola mata mereka bertemu. Tidak tahu mengapa, ucapan Kevin dan juga tatapannya benar-benar sangat membuatnya gugup. Tidak tahu itu merasa terancam atau pun merasa tersentuh karena secara tidak sengaja dia tahu kalau Kevin bisa paham apa yang sedang ia pikirkan.
" Kau ini bicara apa sih? " Kilah Sherin lalu mengalihkan pandanganya. Sah, luar biasa aura mengerikan Kevin beberapa detik yang lalu. Dia sampai tidak bisa berkata-kata dan terdiam untuk beberapa saat.
" Sayangku, jadilah istri yang baik. Jadilah wanita ku satu-satunya. Percayalah padaku agar kau bisa lebih mencintai ku dari perasaan mu sekarang. "
Sherin terperangah menatap Kevin yang begitu percaya diri saat mengatakan kalimat terakhirnya.
" Lebih dari sekarang? kau pikir aku sudah mencintai mu? "
Kevin tersenyum lalu mengusap bibir Sherin. Untunglah, lipstik yang di gunakan Sherin tidak mudah hilang.
" Sayang ku, aku bisa merasakannya kok. Yah, meskipun kau selalu mengelak. " Kevin tersenyum meledek.
" Dasar aneh! " Sherin menepis tangan Kevin lalu kembali fokus menatap lurus kebagian depan.
" Sayang ku, lebih baik kau jangan terlalu galak di sini. Atau kalau tidak, mereka yang ada di sini akan mengira kau marah karena tidak sabar untuk ritual malam pertama kita. "
Sherin benar-benar tidak berani menatap Kevin kali ini. Dia lebih memilih untuk diam lalu memandangi sepasang sepatu yang melekat di kakinya. Sungguh dia sangat tidak tahu harus merespon bagaimana. Padahal, dia sama sekali tidak perduli dengan malam pertama loh. oh, tunggu! dia bahkan tidak ingat kalau ada malam pertama setelah upacara pernikahan.
Beberapa saat setelah pernikahan rampung. Sherin meraih kedua sisi gaun pernikahannya agar mempermudah kakinya melangkah menuju kamar nya. Tidak ada hotel mewah atau pun gedung pernikahan seperti biasanya, mereka memilih untuk kembali ke apartemen saja. Tapi yang sebenarnya adalah, Sherin begitu sayang membuang uang hanya untuk pernikahan diam-diam ini.
Sherin menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nafas nya lega. Sungguh dia sangat lega karena sudah menikah dan tidak perlu menjadi barang dagangan Ibunya lagi.
" Ah! benar-benar lelah. " Sherin menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur dengan gaun yang masih melekat di tubuhnya.
" Ah! aku juga merasa bahagia. "
" Ah! " Sherin bangkit karena kaget mendengar suara seorang pria yang tiba-tiba ada di samping nya dengan posisi yang sama dengannya.
" Dokter Kevin?! " Sherin memegangi dadanya yang berdebar karena begitu terkejut. Sungguh dia lupa kalau dia sudah memiliki suami sekarang.
" Ka kau? se sejak kapan kau ada di sini? "
Kevin tersenyum, dia mengendurkan dasinya sembari berjalan mendekati Sherin yang berdiri tak jauh dari tempat tidurnya.
" Aku sedari tadi ada di belakang mu. Aku juga masuk ke sini setelah mu. "
Sherin mengatur nafasnya sembari mendengarkan Kevin berbicara. Sungguh dia begitu bodoh dan pelupa. Sangking tidak pernah membawa pria ke kamarnya, dia sampai lupa begini.
" Aku tidak mendengar suara mu tadi. Jadi bagaimana bisa kau tiba-tiba begini? "
Kevin semakin mendekatkan tubuhnya setelah membuang dasi kupu-kupu yang ia kenakan tadi. Semakin jauh kakinya melangkah, semakin menempel pula kulit mereka bersentuhan.
" Kau terlalu bersemangat saat berjalan tadi. Jadi aku tidak mau mengganggu konsentrasi mu dan memilih untuk diam. " Kevin kini sudah memiringkan wajahnya seperti ingin mencium Sherin. Tangannya juga sudah mulai meraba bagian tengkuk Sherin dan memberikan sedikit penekanan di sana.
" Do Dokter Kevin, apa yang mau kau lakukan? " Tanya Sherin gugup.
Cup.
Kevin mendaratkan bibirnya di pipi kanan Sherin. Tentu saja tadinya dia ingin langsung melahap bibir Sherin, tapi karena menyadari jika Sherin begitu gugup dan takut, dia memutuskan untuk lebih bersabar sedikit lagi. Ingat ya, sedikit loh.
" Kenapa? " Tanya Kevin yang kini sudah mengubah posisi wajah mereka berhadapan dengan jarak yang begitu dekat.
" Dokter Kevin, tolong jangan terlaku dekat begini. Aku merasa sesak. " Sherin mencoba memundurkan tubuh Kevin. Tapi sayang, pria itu sepertinya memiliki kekuatan fisik yang begitu hebat. Bahkan dia sama sekali tidak berubah posisinya meskipun Sherin mencoba sekuat tenaga.
" Apa kau takut dengan ku? " Tanya Kevin. Tangannya sudah menjalar dari bagian pipi menuju leher, laku berputar ke bagian tengkuk, terus turun ke bagian belang dan meraih resleting gaun pengantin yang di kenakan Sherin.
" Do Dokter Kevin! " Lagi-lagi Sheti memberontak, tapi tubuh Kevin bisa dengan mudah menghalau nya. Kini Sherin malah seperti tengah memeluknya meski itu bukan lah niat nya.
" Sayang ku, apa kau tahu? aku selalu berfantasi liar setiap malam menggunakan wajah mu. Apa kau masih ingin menundanya? "
" Fantasi liar apa maksud mu? "
Sret.....
Resleting itu terbuka dengan sempurna.
TBC