
Pagi hari yang cerah, oh tidak! ini bahkan sudah siang, tapi sepasang anak manusia yang baru saja meresmikan hubungan mereka dalam ikatan pernikahan, kini tengah berbaring lelap di tempat tidur mereka. Gagal seperti malam pertama pasangan yang lain saat perasaan belum yakin akan cinta? oh, itu tidak mungkin.
Back to night.
Sherin yang tersadar bahwa tubuh telanjang bagian atasnya terlihat nyata oleh Kevin, dengan susah payah dia meraih selimut yang melorot itu dan mencoba menutupnya lagi. Sayang, tangan Kevin justru menahan kedua tangannya menggunakan satu tangan. Doa tersenyum menatap wajah Sherin lalu turun ke bagian benda kembar yang begitu terlihat indah itu. Iya, Kevin sadar benar bahwa dia akan menjadi pria pertama dan satu+satunya yang akan merasakan bagaimana lembut dan kenyalnya benda itu.
Bruk...!
Kevin sontak mengubah posisi mereka dan tentu lah dia berada di atas tubuh Sherin. Satu tangannya menahan kedua tangan Sherin ke bagian atas kepala Sherin, sementara satu lagu tangannya dia gunakan untuk meraba bagian-bagian yang dia inginkan. Kevin menjalankan satu tangannya dengan gerakan lembut mengusap wajah Sherin lalu turun ke bagian bawah perlahan-lahan. Sungguh ini juga pertama bagi nya harus sesabar ini untuk membangkitkan gairah pasangan nya. Tapi mau bagaimana lagi? Sherin adalah gadis polos yang tidak memiliki pengalaman apapun. Jelas saja begitu karena Sherin masih saja memberontak dan mencoba untuk menjauhkan tubuhnya dari kungkungan Kevin.
" Ah! " Keluh Sherin saat tangan Kevin memijat bagian salah satu dadanya. Pijatannya tentulah pelan dan lembut, tapi bagi Sherin rasanya sangat geli dan ada lagi perasaan yang tidak bisa ia jelaskan bagaimana, karena ini adalah yang pertama bagi gadis itu.
" Do Dokter Kevin, em! ja jangan begini. " Pinta Sherin. Sungguh dia sampai tersengal-sengal saat berbicara karena menahan geli saat Kevin memainkan bulatan kecil dia atas benda kembar secara bergantian. Tentu saja Kevin tidak mungkin berhenti. Semenjak dia bertemu dengan Sherin dan sadar kalau dia memiliki rasa, dia selalu berfantasi liar dan melakukan kegiatan itu menggunakan tangannya, dan juga terus membayangkan wajah Sherin saat melakukannya.
" Aw! dokter Kevin! " Sherin merasa kesal karena Kevin mengigit bulatan kecil itu.
" Jangan panggil aku Dokter Kevin lagi. Kalau tidak, aku akan mengigit nya lebih keras lagi. Bagaimana? "
Sherin yang kesulitan menahan nafas hanya bisa terdiam sembari menatap Kevin yang terlihat begitu licik itu. Jujur dia sebenarnya hanya ingin membuat Kevin mengerti dan bersabar sebentar sampai dia bisa meyakinkan diri untuk melakukan itu. Tapi laki-laki itu malah terlihat semakin tidak sabaran. Bahkan Sherin begitu susah payah membawa dirinya lagi kedalam kesadaran saat beberapa kali terbawa suasana tadi.
" Aku, "
" Panggil aku, sayang. " Pinta Kevin lalu mendaratkan sebuah kecupan singkat. Sherin menelan salivanya menatap kedua bola mata Kevin yang begitu intens menatap matanya. Tentu saja lidah begitu enggan untuk melakukan apa yang di pinta oleh Kevin. Membayangkan kalau Kevin adalah sosok yang belum dia kenal dengan baik, bagaimana mungkin dia akan memanggil sayang lalu melakukan hubungan suami istri secepat ini?
" Apa kau meragukan sesuatu? " Tanya Kevin yang entah mengapa bisa melihat itu semua dari mata Sherin.
" Aku, " Sherin tiba-tiba merasa begitu tidak berani karena melihat tatapan Kevin yang begitu aneh.
" Dengar, aku sudah berjanji untuk memberi tahu mu apa yang ingin kau tahu kan? tapi untuk saat ini, aku tida bisa menahan diri lebih lama lagi. "
Sherin menelan salivanya menatap manik mata Kevin. Perlahan dia mulai menguatkan diri dan mencari keberanian dari dirinya sendiri.
" Kalau begitu, jawab saja saru pertanyaan ku. "
" Apa? "
" Apakah kau benar-benar tidak punya istri? "
" Punya. "
" Apa?! kau bilang kan tidak punya. Apa kau sengaja berbohong? "
" Tidak. Apa kau lupa, kalau kau adalah istriku? "
Sontak Sherin membungkam mulutnya yang masih ingin berbicara. Heh! dia benar-benar lupa dengan ini. Atau lebih tepatnya, dia aalah pertanyaan?
" Hentikan obrolan aneh ini. Kalau terllau lama, aku bisa sakit kepala menahan sesuatu yang harusnya aku keluar kan. " Kevin mulai kembali menyergap bagian dada Sherin dengan lidahnya.
" Ah! " Lenguh Sherin yang lagi-lagi tidak bisa menahan geli di bagian ujung dadanya.
" Bagus. Seperti itu terus. Jangan menahannya dan nikmati saja. Satu lagi, kau tidak boleh memanggil mu Dokter kevin. Sangat mengganggu di saat seperti ini. " Sherin tak menyahut dan hanya bisa memejamkan mata nya lagi menahan sesuatu yang campur aduk saat Kevin kembali menyerang bagian ujung dadanya dengan lidah yang begitu lihai dalam melakukanya.
Merasa cukup dengan bagian itu, Kevin akhirnya meraih selimut yang menutupi bagian pinggang ke bawah tubuh Sherin. Tentu saja Sherin terhenyak ingin menyembunyikannya lagi, tapi Kevin sudah membuang jauh selimut itu agar tidak bisa mengganggunya lagi. Kevin tersenyum melihat bagian bawah Sherin yang terlapisi dengan kain segitiga yang membungkusnya. Dengan sentuhan lembut, Kevin memainkan jempolnya untuk membuat pola gerakan memutar.
" Ah! " Lagi-lagi Sherin tidak bisa menahan diri atau pun mulutnya lagi. Rasanya begitu geli dan campur dengan perasaan aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Kevin mulai kembali mendaratkan ciuman-ciuman singkat dari atas perut Sherin lalu menjalar ke bagian bawah.
Sudah tidak lagi menahan tangan Sherin tentulah dia menjadi lebih leluasa dalam melakukan apa yang ingin dia lakukan. Setelah kecupan ini sampai di perut bagian bawah, Kevin meraih penutup benda inti milik Sherin lalu membuang nya jauh. Sherin kali benar-benar berada di ujung rasa malu yang tak tertahankan lagi. Sesuatu yang bahkan hanya dia sendiri tidak pernah melihat detail benda inti miliknya, sekarang di lihat dengan jelas oleh seorang pria.
" Em! " Sherin menggigit bibir bagian bawahnya saat Kevin memainkan benda intinya. Bahkan dengan rakusnya, pria itu menyesap habis bagian intinya. Malu, geli, dan satu rasa lagi yang tidak bisa ia jelaskan membuatnha hanya bisa meremas sprei yang melekat di tempat tidur. Matanya juga tanpa sadar terpejam seolah menikmati apa yang sedang Kevin lakukan.
" Sayang, aku akan memulainya. Mungkin ini akan sedikit sakit karena pertama bagimu. Tolong bertahan sebentar ya? "
Perlahan Kevin mulai mengerahkan bagian intinya ke bagian inti Sherin. Perlahan, Kevin mulai menekan pinggulnya sedikit demi sedikit.
" Aw! " Pekik Sherin saat dia merasai sesuatu yang menerobos masuk ke bagian kewanitaannya. Perih memang, tali tidaklah sesakit cerita beberapa orang mengenai malam pertama mereka. Ditambah lagi Kevin juga melakukannya dengan begitu lembut. Iya, lembut di awal tapi begitu mengganas saat sudah lewat beberapa menit. Tapi untunglah, rasa sakitnya tidak sesakit saat pertama kali inti Kevin menerobos masuk.
******* memenuhi si isi kamar menandakan rasa nikmat, dan juga sedikit sakit bagi Sherin.
" Maaf, dan terimakasih, sayang. " Ucap Kevin saat kegiatan itu sudah selsai. Tak lupa, Kevin juga memberikan kecupan sayang di kening Sherin sebelum merebahkan tubuhnya di samping Sherin.
TBC