Marry Me, Please

Marry Me, Please
Gelisah



Tiga hari telah terlewati dengan begitu damai. Tidak ada lagi si gila Kevin, tidak ada lagi uang menggangu makan siangnya, tidak ada lagi yang mengetuk pintu apartemennya saat malam, tida ada lagi telepon yang berdering tiap sepuluh menit sekali, tidak ada, sangking tidak adanya hingga Sherin jadi merasa bosan sendiri. Hari-harinya terasa hambar dan kurang menyenangkan. Padahal, dia lebih bisa leluasa saat menikmati makanan dan tidur dengan tenang. Tapi sungguh aneh, bukanya dia merasa tenang, tapi dia merasa kesepian dan berandai-andai kalau Kevin mengganggunya. Bahkan, hatinya seting menggerundel sebal karena tida ada gangguan dari Dokter mesum itu.


Seperti malam ini, setelah kembali ke apartemen, Sherin hanya bisa menghela nafas tanpa memperdulikan adik dan Nathan, anak dari sahabat sekaligus tetangganya. Tidak tahulah, dia merasa bosan hingga malas melakukan apapun.


" Apa kakak mu sedang putus cinta? " Tanya Nathan.


" Menurut film romantis yang aku tonton, sepertinya begitu. " Jawab Berly sembari memperhatikan punggung kakaknya yang semakin menjauh darinya.


" Kasihan sekali, padahal kakak mu sudah cukup tua. " Ujar Nathan.


Sherin Sebenarnya mendengarkan obrolan yang bermaksud sindiran dari Nathan dan Berly, tapi sepertinya dua bocah itu sudah mulai menyebalkan. Beberapa hari ini mereka terus saja mengatakan hal yang tidak-tidak.


" Dengar ya sepasang bocah nakal! aku belum tua! usiaku baru dua puluh enam tahun! aku bahkan masih membutuhkan beberapa tahun lagi untuk menuju tiga puluh tahun. Jadi, jangan berani-berani nya mengatai ku tua! " Kesal Sherin hingga dadanya begitu jelas naik turun saat tarikan nafasnya terjadi.


" Benar-benar jomblo akut! " Ledek Berly tak mau menghiraukan kemarahan kakak nya.


" Aku tidak jomblo ya! " Kilah Sherin.


" Memang siapa yang mau menjadi pacar kakak? "


" Ih!! " Tak mau lagi lebih kesal, Sherin mengacuhkan saja ucapan Berly yang semakin kurang ajar itu.


Sesampainya Sherin di kamar, dia menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur dengan perasaan kesal. Sungguh tenang tapi menyebalkan tiga hari yang Sherin lewati tanpa adanya Dokter cabul yang suka sekali mengganggunya itu.


" Sialan! " Sherin mengusap wajahnya kasar. Entahlah, bayangan Kevin seolah-olah terus saja berkelebatan di otaknya. Saat tersenyum, saat menatap, saat berbicara, bahkan saat berciuman pun begitu jelas tergambar di otaknya.


" Apa yang sebenarnya terjadi padaku? kenapa aku bisa segila ini? kenapa aku merindukannya? " Sherin mengubah posisinya menjadi miring. Perlahan dia menjalankan tangannya untuk meraih ponselnya. Tida tahu itu reflek atau apa, tapi saat layar ponselnya menyala, yang Sherin periksa adalah akun media sosial Kevin yang sama sekali tidak ada kegiatan selama tiga hari ini. Dari kontak teleponnya juga tidak nampak berkegiatan. Lalu kemana sebenarnya Dokter mesum itu berada?


" Apa aku perlu menghubunginya dan berpura-pura menanyakan sesuatu? " Lama Sherin menimbang-nimbang usulannya, dan pada akhirnya, dia memutuskan untuk menghubungi Kevin dengan alasan ada barangnya yang jatuh saat beberapa hari lalu datang ke apartemennya. Satu, dua, hingga empat kali ternyata nomor telepon Kevin tidak aktif.


" Sebenarnya kemana dia? " Sherin meletakkan ponselnya sembari berpikir. Memang dia sempat mendengar percakapan beberapa anggota medis di rumah sakit yang mengatakan jika Kevin sedang berlibur ke luar negeri. Tapi, kalau hanya berlibur kenapa dia harus sampai me non aktifkan ponselnya? Sherin kembali mengubah posisinya dengan tatapan terkejut karena memiliki hipotesa sendiri.


" Apa sebenarnya, dia sudah memiliki istri di luar negeri? jadi dia pergi menemui istrinya, lalu tidak mau di ganggu karena dia juga takut kalau istrinya mengetahui kebusukannya selama berada di sini? aku rasa tebakan ku barusan benar. Dasar laji-laji bajingan! " Maki Sherin lalu kembali mengubah posisinya menjadi tengkurap.


" Dasar laki-laki sialan! kenapa juga aku menjadi kacau hanya karena pria brengsek seperti itu? " Maki Sherin sembari terisak. Iya, tidak tahu bagaimana menjelaskan suasana hatinya saat ini. Yang pasti, dia sedang bersedih karena dirinya sendiri. Dia yang memiliki dugaan, dia juga yang sedih karena nya.


***


" Bagaimana? " Tanya Kevin kepada dua pengawal yang berjalan di belakangnya.


" Semua sudah teratasi, Tuan X88. "


" Tuan, lebih baik kita ke camp utama. Setelah mendapatkan perawatan, barulah anda pergi. "


Kevin menggeleng dengan bibir tersenyum.


" Aku baik-baik saja. Luka seperti ini, hanyalah luka ringan bagiku. Jangan terlalu khawatir. "


" Tapi kulit anda robek parah, Tuan. "


" Tidak apa-apa. Aku sudah menghentikan pendarahannya dan memberikan tindakan pencegahan agar tidak infeksi. Itu sudah cukup. Kembai lah ke markas terdekat. Ingat, jangan memberi tahu Bis besar kalau aku terluka. "


" Baik, Tuan. "


Setelah beberapa orang berpakaian serba hitam itu pergi, Kevin berjalan menuju sebuah mobil Jeep miliknya yang sudah disiapkan oleh beberapa bawahannya. Tida memikirkan bagaimana luka robek dilengannya, karena tepat setelah pertempuran itu selesai, fokusnya kembali kepada Sherin yang sudah tiga hari tida ia temui.


Kevin menghela nafasnya lalu menjalankan Jeep nya menuju camp miliknya.


" Sherin, semoga perselisihan ini tidak berkepanjangan. Dan aku bisa memiliki banyak waktu untuk fokus mengejar mu. Aku tahu, jika kau mengetahui siapa aku sebenarnya, mungkin kau akan semakin tidak berminat, tapi aku tidak akan menyerah apapun yang terjadi. "


Setelah beberapa saat, Kevin sudah sampai di camp nya. Dia langsung membersihkan diri dari noda darah yang hampir memenuhi sekujur tubuhnya. Ini semua adalah bagian dari hidup Kevin yang tidak bisa ia hilangkan begitu saja. Sedari usia lima belas tahun, Kevin masuk ke dalam geng mafia. Menyesal? tidak! dia sama sekali tidak menyesali apapun yang sudah ia lewati selama tiga puluh tahun hidupnya. Karena menjadi anggota geng mafia lah di bisa hidup tanpa belas kasih ayahnya. Kuat dan semakin kuat setiap waktu itulah yang menjadikan Kevin sebagai manusia dengan dua wajah. Dia sadar dia telah banyak membunuh manusia, maka dari itu, dia juga mengimbanginya dengan menyelamatkan banyak nyawa manusia. Tidak tahu bagaimana orang akan berpendapat tentangnya, karena yang paling penting, hidupnya adalah miliknya. Orang lain yang tidak berkepentingan hanyalah parasit bagi dirinya.


" Waktunya berperang. " Ucap Kevin yang membuat salah satu anggota mafia lainya mengeryit bingung.


" Tuan, X88. Bukankah kita sudah selesai? "


Kevin tersenyum lalu menepuk bahu pria itu beberapa kali.


" Maksud ku, berperang dengan pisau bedah ku. Dan aku juga memiliki peperangan yang lain. "


" Anda mengagetkan ku saja. " Ujarnya yang sudah tahu profesi Kevin.


" Tapi peperangan apa lagi yang anda bicarakan selain dengan pisau bedah anda? " Tanyanya yang masih bingung.


" Peperangan untuk bisa menerobos ke hati seorang wanita. " Ucap Kevin laku berlalu begitu saja.


" Ya ampun!! Tuan menyeramkan X88 jatuh cinta? tidak salah dengar? berjuang dia bilang tadi? kenapa harus berjuang? bukanya wanita yang biasa memperjuangkannya? kalaupun ada pengecualian, wanita gila mana yang menolak Tuan X88? "


TBC