Marry Me, Please

Marry Me, Please
Pendapat



Sherin mengajak Vanya untuk duduk dan mendengarkan apa yang akan ia ceritakan. Dia adalah orang yang kekurangan pengalaman dalam masalah seperti ini. Jadi alangkah bagusnya kalau meminta pendapat saja dari Sahabatnya, Vanya.


" Dengar, Ibuku memaksaku untuk menikahi anak sahabat suaminya. Aku sudah menolak dengan keras, tapi tidak berguna. Dia justru meneror ku siang malam. "


Vanya mendengarkannya dengan seksama sembari mengangguk-anggukkan kepalanya.


" Kau tahu kan? kencan buta ku selalu gagal? "


Heh! tahu lah, itukan perbuatan si Kevin. Batin Vanya.


" Lalu? " Tanya Vanya.


Sherin menarik nafasnya sejenak. " Kevin menawarkan bantuan padaku. "


Dasar licik! aku penasaran, Bantuan macam apa yang akan di dapatkan oleh gadis polos ini.


" Dia, dia bilang, " Sherin yang ingin menyampaikan usulan Kevin benar-benar merasa tidak sanggup untuk mengatakannya. Gadis itu lagi-lagi menghela nafas sembari berpikir, apa harus menceritakan bagian ini atau tidak? kalau tidak diceritakan, bagaimana caranya Vanya bisa memberi saran? ah..! mau tidak mau lah.


" Dia bilang apa? apa dia akan memenggal kepala Ibumu? atau Ayah tiri mu? atau calon suamimu? "


Vanya berucap sembari mencengkram kedua pundak Sherin. Matanya bulat setengah melotot dengan tatapan yang penuh pertanyaan. Sherin yang hanya bisa diam karena tubuhnya digoyang-goyangkan itu hanya bisa kebingungan menanggapi pertanyaan Vanya. Memenggal? apa Kevin seseram itu?


" Vanya? apa Kevin pernah memenggal kepala manusia? "


Vanya memutar bola matanya sembari berpikir. Dia sendiri sih tidak tahu, tapi yang Nath pernah ceritakan, Kevin sudah berada di dunia mafia semenjak dia beranjak dewasa. Sungguh lucu kan? dia pintar menutupi sisi garangnya dengan menjadi Dokter? oh sungguh penyamaran yang totalitas.


" Sejauh ini sih belum. "


Sherin mendesah lega.


" Katakan padaku! apa yang di tawarkan? "


Sherin menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Mau mengelak juga rasanya percuma. Vanya paling ahli dalam hal beginian kan?


" Dia bilang, kalau aku hamil, mereka pasti akan berhenti menjodohkan ku. "


Vanya melongo sembari menatap Sherin.


Kurang ajar! hamil?! dia mau menghamili Sherin?! sialan kau dokter cabul! kenapa kau berniat menodai gadis suci nan bloon ini?! lihat saja kau ya? akan ku remuk kan tulang ekor mu!


" Va Vanya, bagaimana menurutmu? "


Vanya menatap Sherin tajam. Dia mengacungkan jari telunjuknya sembari menoyor-noyor kening Sherin.


" Bodoh sekali kalau kau setuju! kalau dia mau menghamili mu,ya harus menikah! kenapa tiba-tiba merencanakan untuk hamil?! apa di otakmu ada keinginan untuk menyetujuinya?! hah?! "


Sherin menahan telunjuk Vanya karena rasanya sudah mulai sakit di keningnya.


" Aku kan sedang bertanya pendapat mu. " Ujar Sherin yang merasa malu sendiri. Memang ia sebelum ini hatinya sudah menyetujui usulan Kevin.


" Dengar ya, hamil itu tidak semudah yang kau pikirkan. Hamil berarti kau memiliki seseorang yang hidup dari dalam dirimu, bagian penting di hidupmu. Jika kau berniat hamil, miliki dulu suami. Kau bisa hamil dan besarkan bayimu bersama suamimu. Mungkin kau belum paham, tapi hamil tanpa pasangan sungguh sangat menyakitkan. "


Sherin menunduk malu. Benar, Vanya adalah orang yang sudah mengalami fase itu. Yang ada dipikiran Sherin, adalah bagaimana perjodohan itu bisa batal tanpa perduli yang lainya.


" Diam disini! aku akan menemui Kevin. "


Dia benar-benar merasa bodoh karena tidak memikirkan ini. Untunglah, Vanya adalah sahabat yang begitu memperdulikannya. Dengan begini dia bisa lebih cerdas dalam mengambil keputusan.


Setelah beberapa saat setelah itu, barulah Vanya kembali ke apartemennya. Tentu saja dia pasti sudah mengomeli Kevin. Tapi tentulah Shetin sangat berterimakasih dengan sahabatnya itu.


Pagi Harinya.


Sherin terburu-buru dengan aktivitas paginya karena bangun terlalu siang. Mandi juga sangat singkat. Malah bisa di bilang, hanya masuk ke air lalu keluar begitu saja. Tidak ada bedak atau krim apalah itu. Rambutnya juga dia sisir menggunakan jemari tangannya sembari berjalan menuju parkiran. Hari ini dia sudah sangat kesiangan dan tidak mungkin kalau harus menggunakan angkutan umum lagi.


" Sayang! " Panggil Kevin sembari membuka kaca mobilnya. Pria itu tersenyum manis sembari melambaikan tangannya.


" Astaga! sejak kapan dia berubah menjadi lebih tampan ya? " Gumam Sherin. Tidak tahu kenapa, hari ini memang Kevin terlihat lebih tampan dari biasanya. Apalagi saat dia tersenyum sembari melambaikan tangan tadi. Ya ampun, kalau di dunia komik, Sherin pasti sudah mimisan, dan air liurnya mengalir seperti samudera lepas.


" Tidak perlu terburu-buru. Santai saja, dan benahi dulu kancing baju mu. " Kevin keluar dari mobil lalu membuka kan pintu mobilnya untuk Sherin. Tapi gadis itu malah sibuk dengan kancing bajunya yang tidak benar. Ya Tuhan, cukup sekali dan tidak akan dia ulangi bangun terlalu siang. Batin Sherin.


" Masuk saja dulu, baru benahi kancing baju mu di dalam. " Titah Kevin uang langsung di setujui oleh Sherin.


" Kenapa tidak jalan? " Tanya Sherin bingung.


Kevin tersenyum lalu membantu Sherin membenahi rambutnya yang berantakan. Dia sih tidak masalah dengan penmapilan Sherin yang berantakan, tapi Sherin sendiri pasti akan malu karena ini.


" A apa yang kau lakukan? " Tanya Sherin gugup. Bagaimana tidak gugup, sekarang wajah Kevin begitu dekat dengannya. Kedua tangannya juga kini tengah membenahi rambutnya. Bahkan tangannya juga menyemburkan hawa hangat yang terasa di kulit kepalanya. Sherin terpaku melihat wajah Kevin hingga lupa untuk berkedip.


" Apa aku setampan itu? " Tanya Kevin yang menyadari jika Sherin sedari tadi asik memandanginya.


Sontak saja Sherin langsung mengalihkan pandangan ke arah lain. Meskipun iya, mana mungkin dia mau mengakuinya. Batin Sherin.


Untuk menghilangkan kegugupannya, Sherin berpura-pura mengambil lipstik lalu memakainya. Iya dari pada diam saja dan harus berbicara dengan Kevin, lebih baik kalau dia menyibukkan diri.


" Kenapa masih belum jalan? " Tanya Sherin menghentikan kegiatannya sesaat menatap ke arah Kevin. Sungguh dia sebal karena Kevin asik menatapnya dengan senyum yang membuatnya gugup.


" Kau sedang memakai lipstik, bagaimana mungkin aku melajukan mobilnya. Kalau nanti kebablasan laku berantakan bagaimana? " Kevin mengakhiri ucapannya dengan senyum yang kembali terbit di bibirnya.


Baru saja Sherin akan menanggapi ucapan Kevin, ponselnya tiba-tiba berdering. Sherin dengan cepat meraih tasnya lalu mengeluarkan ponselnya. Setelah mengeryit menatap layar ponsel, kini Sherin menghela nafas nya sebal. Dia juga mengembalikan ponselnya ke dalam tas seolah benar-benar tidak berniat mengangkatnya.


" Ada apa? kenapa kau tidak menjawab nya? " Tanya Kevin.


Sherin kembali menghela nafas. Sungguh dia sangat malas menanggapi orang yang menghubunginya.


" Itu Ibu ku. "


" Biarkan aku saja yang berbicara. " Pinta Kevin.


" Tidak perlu. Kau tidak tahu bagaimana Ibu ku. "


" Berikan saja ponsel mu, dan serahkan sisa nya pada ku. "


Sherin yang tak mau berdebat lagi memutuskan untuk memberikan saja ponsel itu kepada Kevin.


" Halo, Ibu mertua? "


TBC