
" Masih sakit? " Tanya Kevin sembari mengompres pipi istrinya. Sebenarnya ini sungguh tidak terbiasa bagi keduanya. Sherin yang tidak pernah diperlakukan selembut ini tentu saja merasa aneh juga tersentuh. Sementara Kevin, pria brengsek itu biasanya begitu biasa dilayani oleh wanita yang mencintai nya. Tapi karena rasa cinta yang bicara, batu karang juga pasti akan lebur dibuatnya.
" Tidak sesakit tadi. Sekarang sudah lebih baik. " Jawab Sherin yang merasa canggung. Jujur Kevin memang sangat marah saat tahu kalau Sherin mendapat tamparan. Tapi karena pelakunya adalah Ibu mertuanya sendiri, dia tidak bisa bertindak kasar dan sok jagoan untuk membela Sherin.
" Biar aku lakukan sendiri. " Sherin mengambil kantung es dari tangan Kevin dan mengambil alih kegiatan itu. Bukan hanya karena merasa canggung, tapi karena detak jantungnya yang tidak biasa itu membuat Sherin tidak tahan lagi.
Kevin menghela nafas nya. Ditatapnya lagi wajah cantik Sherin, lalu menjalankan tangannya untuk mengusap wajahnya.
" Aku tahu kau biasa melakukan banyak hal sendiri. Tapi sekarang ada aku sebagai suami dan keluarga mu. Jangan terlalu mandiri dan melakukan banyak hal dengan kemampuan mu sendiri. Bersandar lah padaku, biarkan aku menjalankan tugas ku sebagai suami mu. Kau tidak perlu bersusah payah sendiri mulai sekarang. Karena kalau kau bisa melakukan apapun sendiri, apa gunanya aku sebagai suami mu? " Kevin kini mengusap lembut kepala Sherin.
" Aku, " Sherin menurunkan kantung es membawanya kedalam pangkuannya. Matanya lurus menatap ke kantung es dengan perasaan haru yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Tidak perlu bekerja keras sendiri, ada aku sebagai suami dan keluarga mu. Sungguh, kata-kata itu menyusup ke dalam hati Sherin. Entah bagaimana mengungkapkannya, tapi rasanya dia benar-benar ingin menangis bahagia.
" Dengar, " Kevin menangkup wajah Sherin lalu memberikan kecupan sayang di dahinya.
" Aku mungkin bukan tipe laki-laki yang kau idamkan. Tapi percayalah, aku akan berusaha sebaik mungkin untuk menjadi suami ideal mu. Maka dari itu, bersandar lah padaku, bergantung lah padaku agar aku bisa menjalani tugas ku sebagai suami. " Sherin mencengkram kuat kantung es yang ada di pangkuannya. Entah sedingin apa juga tidak ia rasakan lagi. Keharuan yang kini ia rasakan benar-benar begitu menyentuh relung hatinya. Ditatap nya manik mata Kevin yang begitu lembut menatapnya.
" Aku takut, takut jika nantinya aku akan terbiasa bergantung padamu. Lalu saat kau bosan dengan ku, lalu meninggalkan ku, aku tidak siap akan menguatkan diriku setelah terbiasa dengan kenyamanan yang kau berikan. " Benar, Sherin yang sepanjang hidupnya selalu merasa sunyi dan ditinggalkan terus menerus oleh kedua orang tuanya, tentulah memiliki rasa trauma meski tidak begitu terlihat dengan jelas.
" Apa menurut mu aku bisa meninggal kan mu? " Kevin tersenyum lalu meraih kedua tangan Sherin dan menggenggamnya erat.
" Aku tidak pernah sedalam ini saat jatuh cinta. Aku juga tidak memiliki minat untuk menikah. Tapi saat bertemu dengan mu, lalu dekat dengan mu, aku belajar banyak hal. Mulai dari aku tahu bagaimana rasanya berjuang untuk mendapatkan cinta, bagaimana rasanya mencintai wanita yang acuh kepada ku, kau pikir setelah semua itu aku akan pergi begitu saja? Sayang ku, dengar. Meskipun kita akan cekcok seperti pasangan suami istri lain, tapi aku tidak akan membiarkan perpisahan terjadi terkecuali memang maut yang jelas tidak bisa dihindari. " Kevin mengusap pelan wajah Sherin dengan bibir yang tersenyum manis, tapi tatapan matanya begitu meyakinkan. Tentu Sherin bisa melihat bagaimana kesungguhan Kevin saat mengatakan itu. Sebagai seorang wanita normal, tentulah dia terharu hingga ingin memeluk tubuh kekar itu dengan erat. Tapi, rasa malu nya benar-benar begitu besar dan membuatnya tak berani melakukan tindakan.
" Te terimakasih. " Sherin menunduk karena tiba-tiba merasa canggung saat terlalu lama menatap mata Kevin. Tidak tahu apa yang dimiliki pria tampan itu. Setiap kali menatap dengan begitu lembut, rasanya sungguh menenangkan dan membuat ketagihan.
Mendengar ucapan terimakasih dari Sherin, Kevin justru merasa kalau Sherin benar-benar lucu. Di dalam hati dia bertanya-tanya, apakah begitu tidak menyentuhnya ucapan mengharukan dari dirinya? padahal Kevin sendiri hampir menangis loh karena terharu dengan ucapan nya sendiri. Tapi ya sudahlah, memang seperti itulah Sherin. Bahagia ataupun sedih, dia tidak akan langsung menunjukkannya secara di hadapan orang lain. Orang lain? sialan! membatin tentang kata itu ternyata cukup membuatnya kesal. Padahal kan sudah suaminya sendiri. Kevin membatin sebal.
Sherin memberikan kecupan di pipi Kevin karena melihat wajah Kevin yang terlihat sedikit murung. Hah! benar saja, setelah mendapatkan kecupan singkat itu dia terlihat berbinar-binar. Senyumnya juga begitu mengembang hingga barusan gigi rapih dan putihnya terlihat begitu jelas.
" Ini benar-benar pertama kalinya kau mencium ku. " kevin benar-benar tidak bisa menutupi raut bahagia nya. Memang terllau biasa kecupan di pipi seperti ini. Tapi ketika yang melakukanya adakah Sherin, rasanya begitu luar biasa hingga ingin sekali rasanya dia mendapatkan ciuman itu lagi.
" Aku, hanya tidak tahu bagaimana caranya mengatakan apa yang aku rasakan. Jadi hanya begitu saja yang bisa aku lakukan. " Sherin berucap tanpa berani menatap wajah Kevin. Tidak tahu lah, rasanya begitu malu dan canggung masih saja tidak hilang dari dirinya.
" Yang kau lakukan barusan itu benar-benat membuat ku bahagia loh. " Ucap Kevin sembari menggoda Sherin. Sherin yang tidak tahu harus menanggapi apa, dia hanya berdecih sebentar.
" Oh iya. Ngomong-ngomong, bagaimana kau tahu begitu detail tentang Ibuku? " Tanya Sherin yang kini menatap Kevin dengan tatapan serius.
Benar, Kevin berhutang banyak penjelasan kepada Sherin. Tidak perlu ditunda lagi, ini adalah waktunya untuk menceritakan semua tentang dirinya. Hah! sialan! memikirkan ini malah membuatnya takut kalau Sherin akan merasa takut dan meninggalkannya.
" Sayang ku, ketika kau sudah tahu semuanya tentang ku, berjanjilah untuk tidak meninggalkan ku apapun alasannya. Bagaimana? " Sherin berpikir sejenak lalu mengangguk beberapa kali. Jujur, saat ini dia malah curiga kalau ternyata Kevin memiliki istri selain dirinya.
" Dengar, sebagian sudah aku jelaskan tentang ku. Akulah pemilik rumah sakit. Lalu aku, " Kevin menatap Sherin yang masih menunggu kelanjutannya. Takut? iya! Kevin benar-benar takut dan gelisah semisal Sherin berniat meninggalkan nya.
" Apa? kenapa diam? " Tanya Sherin karena cukup lama menunggu Kevin melanjutkan kata-katanya.
" Aku, tergabung dengan salah datu geng mafia. Saat aku pergi beberapa hari lalu dan lengan ku terluka, itu aku dapatkan dari sana. " Kevin benar-benar begitu menyesal karena mengakui nya kepada Sherin.
Sialan! apa setelah ini dia akan mati ketakutan?
TBC