
Tuan Hanung kini sudah berada di dalam apartemen Sherin, tentu saja sebagai seorang menantu, Sherin memperlakukan sebaik mungkin Ayah mertuanya yang terlihat tidak menyukainya itu. Mulai dari memberikan minuman, mengajaknya untuk makan meski ditolak, berbicara dengan lembut sama seperti saat dia berbicara dengan orang yang lebih tua. Tapi tetap saja tatapan tidak suka dari mata Tuan Hanung masih saja tak menghilang, malah semakin lama, tatapan itu seolah mengisyaratkan bahwa bahwa Sherin benar-benar bukan menantu yang dia inginkan.
Melihat istrinya yang merasa tidak nyaman, Kevin mencoba menenangkan dengan membawa tangan Sherin kedalam genggamannya. Matanya lembut menatap Sherin lalu tersenyum seolah-olah mengisyaratkan bahwa semua akan baik-baik saja.
" Sayang ku, masuk saja kedalam dan istirahat, kau hari ini sudah sangat lelah. " Mendapat angin segar akhirnya Sherin dengan cepat mengangguk, dia tersenyum sopan kepada Ayah mertuanya lalu memohon izin untuk masuk kedalam kamar. Tidak menjawab ataupun bergeming, Tuan Hanung malah lagi-lahi menatapnya dengan sinis.
" Apa hak anda menatap istriku begitu? " Tanya Kevin yang kini sudah bisa bicara sesuka hati karena Sherin sudah masuk kedalam kamar. Tentu sedari tadi ia memilih diam agar sifat buruknya ini tidak di lihat oleh istrinya, dan membuat Sherin merasa menyesal telah menikah dengannya.
" Karena dia bukan wanita yang tepat untuk mu. " Satu kata yang keluar dari mulut Tuan Hanung ini benar-benar sudah membuat Kevin amat kesal, untung saja ini di apartemen, kalau tidak sudah pasti dia tidak akan segan-segan meneriaki laki-laki yang dulu ia panggil Ayah, dan sekarang dia anggap sebagai orang asing yang tida penting dari masa lalunya.
" Jaga kata-kata anda! anda bukanlah siapa-siapa yang patas membahas hal pribadi ku. Apalagi mengkomentari seorang istri yang sudah aku pilih. " Kevin mengeraskan rahangnya menahan diri sekuat mungkin agar mudah melampiaskan rasa marahnya.
" Kevin, Ayah tahu hubungan kita tida baik selama ini, tapi percayalah, Ayah tidak pernah tidak merindukan mu. " Tuan Hanung menatap Kevin seolah-olah benar begitu apa yang dia rasakan selama ini. Tapi sayang sekali, bahkan Kevin sama sekali tidak bisa melihat kesungguhan dari kata-kata Tuan Hanung karena yang bisa ia lihat hanyalah kebohongan dan maksud terselubung yang belum tahu apa itu.
" Berhentilah bersikap seolah-olah anda Ayah yang baik. Katakan saja apa yang kau inginkan, dan pergilah cepat dari sini. " Kevin berbicara tanpa mau menatap Tuan Hanung yang terus mengamati bagaimana reaksi Kevin. Padahal, dia sempat berharap agar Kevin luluh dan memeluknya agar bisa lebih mudah untuk membujuk Kevin. Tapi sepertinya ini tidak akan mudah, sekarang dia harus perlahan mendekatkan langsung anak dari rekan nya agar bisa merebut hati Kevin.
" Kevin, Ayah tahu Ayah sudah melakukan banha kesalahan, tapi Ayah bersungguh-sungguh ingin memperbaiki hubungan kita. Sudah lima belas tahun, dan Ayah tidak ingin hubungan kita memburuk lebih lama lagi. Berikan Ayah kesempatan untuk menjadi Ayah yang baik, dan menebus segala kesalahan yang Ayah lakukan di masa lalu. " Benar, seperti inilah kata-kata yang biasanya akan ampuh untuk menyentuh hati seorang anak kan? Tuan Hanung tersenyum tipis berharap Kevin akan tersentuh dan mulai memberikan ruang baginya agar rencananya lebih cepat berjalan.
Kevin sempat terdiam sembari memikirkan beberapa hal, mulai dari seringnya dia melihat air mata Ibunya, belum lagi Ayahnya yang selalu saja memukulinya dan mengatakan banyak hal yang menyakitkan. Kevin kini menghela nafas tapi masih saja enggan menatap bola mata Ayahnya.
" Dengar, di dunia ini tidak ada kesalahan yang bisa di tebus. Ha yang menyakitkan di masa lalu tidak mungkin bisa diobati hanya dengan sebuah kata-kata tanpa niatan merealisasikan. Sakit, kesedihan, kekecewaan, semua hal itu anda lakukan paling sering dengan Ibuku. Mintalah pengampunan itu darinya, dan jangan pernah datang lagi padaku. Hubungan Ayah dan anak di antara kita, sudah tidak lagi berlanjut saat kau membawa putra mu ke hadapan ku tepat saat Ibuku meninggal. "
Sial! Tuan Hanung mengepalkan kedua tangan sembari menahan diri agar tidak memukul Kevin. Iya, tabiatnya yang suka sekali memukul itu benar-benar belum hilang, bahkan anak laki-laki yang tinggal bersamanya juga sering mendapatkan pukulan darinya. Tapi jika dia memukul kevin sekarang, yang ada semua rencana nya akan gagal, dan dia tidak akan mendapatkan untung apapun. Sungguh, saat ini dia tidak memiliki pilihan selain memisahkan Kevin dan Sherin, lalu menjodohkannya dengan putri dari rekannya.
Kevin tersenyum miring, lalu kini ia dengan tegas menatap manik mata yang jelas ia tahu sedari tadi menatanya tanpa henti untuk memerhatikan bagaimana Kevin akan berekspresi.
" Semua saudara Ibu sama sekali tidak membutuhkan kebaikan dari anda. Aku sudah cukup bagi mereka, kebutuhan hidup mereka sama sekali tidak memiliki kekurangan sekarang. Bahkan, pendidikan anak-anak mereka juga sudah aku jamin sampai sarjana. Jadi, berhentilah bersandiwara karena kau tidak akan mampu memberikan apa yang mereka inginkan dan butuhkan. "
Dijamin sampai sarjana? sial! sebenarnya sebanyak apa harta Kevin sekarang ini? ah! sialan! aku benar-benar menyesal sudah membuat anak sialan ini membenciku.
Setelah terus mendapatkan penolakan dari Kevin, Tuan Hanung sudah tidak bisa lagi berkata apapun lagi. Selain dia tidak mau memperburuk suasana saat ini, dianjuga perlu baik-baik memikirkan bagaimana rencana selanjutnya agar tidak salah langkah. Bukan tanpa alasan, saat Tuan Hanung menatap bola mata Kevin tadi, dia benar-benar merasakan suatu perasaan yang membuatnya tertekan dan merasa takut salah bicara. Tidak tahu apa yang dimiliki oleh bocah yang dulu sangat suka bertengkar dengan teman-temannya, dan membuat onar disekolah, rasanya Kevin benar-benar membuatnya merasa tidak nyaman dan takut hanya dengan melihat tatapan matanya sekali.
" Sialan! " Kesal Tuan Hanung saat kembali mengingat ucapan Kevin yang menyatakan bahwa dia sudah membantu kedua saudara Ibunya, bahkan menjamin anak-anak mereka sampai sarjana. Iri? iya, mungkin inilah kata ganti yang cocok untuk menggambarkan bagaimana suasana hati Tuan Hanung saat ini.
" Ayah mu sudah pulang? " Tanya Sherin saat mendapati Kevin masuk kedalam kamar.
" Sudah. " Kevin membuka kancing kemejanya lalu mengambil posisi berbaring dan memeluk Sherin yang tengah berbaring sembari memainkan ponselnya.
" Kau tidak bilang jika ada Ayah, Dia pasti marah karena kita menikah diam-diam ya? " Sherin mengabaikan sebentar ponselnya untuk menatap Kevin yang malah sibuk memainkan jemarinya untuk menggelitik punggung Sherin.
" Jangan perdulikan orang itu. Lain kali, saat kau tidak sengaja bertemu dengannya, abaikan saja dan berpura-pura tidak kenal. "
" Kenapa? "
TBC