
Setelah beres menemui Ibunya, Sherin dan Kevin kini memutuskan untuk betjalan-jalan sebentar. Disebuah pantai yang cukup ramai, sungguh inilah tempat yang disukai oleh Sherin. Iya, meskipun Kevin sangat enggan berada di tempat wisata yang seramai ini, tapi demi kebahagiaan istrinya, maka dia juga tidak bisa mengedepankan apa yang dia sukai saja kan?
Kevin mengambil beberapa photo secara diam-diam saat Sherin tengah sibuk bermain pasir bersama anak-anak yang juga mengunjungi pantai hari ini. Kevin tersenyum saat memperhatikan satu persatu photo yang ia dapatkan. Sungguh sangat indah lekukan bibir Sherin saat tersenyum, apalagi saat tertawa, benar-benar tidak ada duanya. Iya, mungkin seperti inilah cara seseorang melihat orang yang dia cintai.
Setelah puas bermain, Kevin mengikuti saja apa yang diinginkan istrinya. Mulai dari mencicipi banyak makanan tradisional kesukaannya, membeli banyak boneka, dan juga camilan yang semakin membuat mobilnya penuh.
" Oh iya, tadi pagi Vanya mengirim pesan tentang liburan kita di Maldives, sepertinya lusa kita sudah harus berangkat. Bagaimana menurut mu? " Tanya Sherin sembari memasang sabuk pengamannya.
" Ok! sekarang juga tidak masalah. " Jawab kevin.
Sesampainya mereka di apartemen, Kevin dan Sherin meminta bantuan dua orang penjaga untuk membawa barang-barang yang tadi dibeli oleh Sherin.
" Hah! lelah sekali. " Ujar Sherin.
" Istirahatlah lebih dulu, biar nanti aku saja yang membereskannya. " Ucap Kevin. Sherin tersenyum sembari mengangguk.
Benar, lebih baik mereka pergi berlibur. Setidaknya Sherin akan semakin bahagia dan tidak akan begitu memikirkan apa yang terjadi beberapa hari belakangan ini. Mengenai Rici, besok dia akan segera menyelesaikannya agar Rici tidak lagi menggangunya, terlebih mengganggu Sherin.
Setelah selesai membereskan barang-barang yang tadi dibeli Sherin, sekarang sudah waktunya untuk dia mandi, lalu menyusul istrinya tidur. Tidur? heh! enak saja! dia sudah tiga hari libur silat di atas ranjang, masa iya hari ini harus libur lagi?
Bergegas Kevin masuk kedalam kamarnya, dilihatnya Sherin yang tengah menyisir rambutnya. Dia tersenyum sebentar, lalu kembali melanjutkan langkahnya untuk menuju kamar mandi. Secepat kilat dia mencoba membersihkan diri agar bisa lebih cepat bersama istrinya.
" Eh? " Kevin mengeryit mencari keberadaan istrinya. Sialan! padahal dia sudah mulai on sedari tadi hanya dengan membayangkan tubuh istrinya.
" Kau mencari ku? " Sherin ternyata berdiri disamping pintu menunggunya keluar.
" Sa sayangku? " Kevin menelan salivanya, sungguh ini benar-benar perdana. Sherin menggunakan lingerie berwarna merah, bibirnya yang tersenyum indah seolah menambah kesan seksi. Memang benar, Sherin tidak memiliki bagian bokong dan dada yang besar, tapi itu sama sekali tidak mengurangi indahnya tubuh Sherin di mata Kevin.
" Kenapa? kau tidak suka? "
" Su suka! suka sekali! " Kevin langsung menyambar tubuh Sherin, mengangkatnya dan membawanya ke tempat tidur. Benar-benar mendukung sekali. Dia yang hanya menggunakan handuk saja tentu sangat memudahkan segalanya. Lingerie yang Sherin gunakan juga mudah untuk ditanggalkan.
Sebenarnya, sedari perjalanan pulang tadi Sherin terus berpikir. Bagaimana dia akan bisa menyenangkan Kevin? walau bagaimanapun, Kevin lah yamg selama ini menjaganya, dan juga membantunya dalam banyak hal. Memang sih, pada awalanya Kevin sangat menyebalkan dan gila. Tapi seiring berjalannya waktu, Kevin adalah satu-satunya pria yang mampu membuatnya merasa tidak harus mengandalkan diri sendiri, dan mencoba untuk mempercayakan hidupnya kepada seorang pria yang yang lain adalah Kevin. Untunglah, dia memilki sahabat yang begitu mahir dalam menyenangkan suami, jadi dia tidak lagi kebingungan. Bahkan, lingerie yang ia pakai juga milik sahabatnya, Vanya. Eh, tapi lingerie nya belum dipakai Vanya sama sekali ya.
" Sayangku, malam ini kau begitu luar biasa. " Kevin tersenyum meledek Sherin yang masih saja membelakangi Kevin karena merasa malu. Iya, saat sedang melakukan hubungan badan, dia begitu terbawa suasana dan mengikuti semua saran dari sahabatnya, yaitu Vanya. Mulai dari beberapa gaya, dan juga tahu bagaimana harus menyentuh di bagian-bagian sensitif Kevin.
" Diam! kalau kau tidak suka, lain kali aku tidak akan begitu. " Ucap Sherin. Dia sedikit meninggikan selimutnya hingga menutup separuh wajahnya. Iya, tentu saja dia sangat tidak ingin Kevin melihat bagaimana wajahnya saat ini.
" Suka, aku suka sekali! " Kevin menyusupkan tangannya, memeluk Sherin dari belakang.
" Sayangku, kau tahu apa yang membuat laki-laki merasa puas dan bahagia saat berhubungan suami istri? "
" Tahu! saat istri lebih aktifkan? "
" Bukan, sayangku. Hal yang paling membahagiakan bagi seorang laki-laki saat melakukan hubungan badan adalah, ketika pasangan wanitanya merasakan dan menikmati apa yang sedang di lakukan. Seperti kau malam ini, kau terlihat lebih tulus dan lebih menikmati. Sebenarnya, aku tidak terlalu terpengaruh dengan macam-macam gaya seperti itu. "
" Oh? " Ujar Sherin. Iya dia juga begitu hanyut malam dalam permainan mereka hari ini. Mungkin, karena Sherin mulai menyadari betapa Kevin memperlakukannya dengan baik, jadi dia merasa nyaman dan tidak perlu lagi memikirkan hal yang sudah lalu tentang Kevin.
" Oh? hanya oh? padahal aku sudah seperti menjelaskan satu mata pelajaran. "
Sherin membalikkan tubuhnya menatap Kevin. Iya, meskipun dia sempat merasa malu, tapi lebih baik kalau dia memberanikan diri saja. Lagi pula, lama kelamaan juga akan terbiasa.
" Karena kau tidak seperti mereka. " Jawab Kevin.
" Hanya itu? "
" Iya. "
" Apa kau menyamakan ku dengan spesies langka? "
Kevin menghela nafasnya. Dia meraih pinggang Sherin dan membuat tubuh mereka saling menempel erat.
" Lalu kau maunya aku menjawab seperti apa? "
" Misalnya, aku cantik. Baik, montok, manis, lucu, Atau apapun itu. "
" Cantik? iya. Baik, manis, juga iya. Kalau montok, maaf saja sayangku. Kau sangat jauh dari itu. "
" Sialan! "
Next!
Esok harinya.
Kevin memenuhi undangan dari Rici untuk makan siang bersama. Tentu Kevin sudah meminta izin terlebih dulu kepada Sherin.
" Dokter Kevin, kenapa semalam tidak datang ke acara ulang tahunku? padahal aku menunggumu loh. "
Kevin memaksakan senyumnya.
" Aku sangat sibuk, istriku sangat manja semalam. Jadi aku tidak tega meninggalkannya. "
Rici mengeryit sebentar, lalu dia kembali tersenyum.
" Begitu ya? "
Rici menenggak sisa jus kiwi miliknya. Sebentar dia menatap kevin yang lebih banyak fokus kepada ponsel dari pada dia.
" Dokter Kevin? "
" Iya? " Kevin menatap Rici.
" Aku, sebenarnya sudah memendam ini dari pertama kali kita bertemu. Tapi sekarang aku semakin tidak bisa menahannya lagi, Dokter Kevin, aku benar-benar menyukaimu. "
Kevin menghela nafas, lalu meletakkan ponselnya.
" Rici, berhentilah berpura-pura menjadi polos. Kau tidak bodoh dan buta, tentu saja kau tahu jika aku sudah memiliki istri. Aku datang menemui mu hari ini karena ingin memperingatkan mu. Jangan berbuat macam-macam lagi, keluargamu sudah kehilangan banyak sekarang, jangan sampai aku menghancurkan mu, beserta keluargamu sampai menjadi debu. "
TBC