
Sherin memelototkan mata sembari membaca satu persatu komentar yang kini tengah membanjiri kolom komentar pada salah satu photo yang baru saja ia unggah di laman media sosialnya. Sungguh dia ingin sekali berteriak histeris dan menghancurkan dunia jika bisa. Bagaimana tidak? karena Kevin memberikan satu komentar gila, hampir semua pengikut di akun media sosialnya juga ikut memberikan komentar. Dan yang lebih mengejutkan lagi, banyak sekali akun-akun tidak dikenal ikut-ikutan memenuhi kolom komentarnya.
" Apa-apaan ini?! dasar Dokter mesum gila! brengsek? bajingan! lihat saja kau ya, aku akan mensleding kepalamu, aku akan mengoyak tubuh mu, mencincang tubuhmu, dan akan ku berikan potongan daging mu kepada anjing jalanan yang kelaparan. " Maki Sherin. Nafas menderu kesalnya begitu terlihat jelas, dadanya juga naik turun seraya tarikan nafasnya. Sungguh dia sangat membenci tindakan Kevin yang kurang ajar ini. Kenapa sepertinya dia memiliki banyak waktu senggang untuk mengganggunya? padahal, dulu orang-orang mengatakan jika Dokter kevin adalah pria tampan yang gila kerja.
" Cih! gila kerja apanya?! yang ada, otaknya gila karena tidak bisa jauh dari ************. Berani-beraninya dia memberikan komentar menjijikkan seperti ini. "
Sherin akhirnya memutuskan untuk menghapus photo itu. Tentu tujuannya adalah untuk tidak lagi membiarkan orang lain yang tidak dikenal ikut-ikutan memberikan komentar menyebalkan. Mulai dari tuduhan perusak hubungan lah, wanita tidak tahu malu, wanita berwajah malaikat tapi hati serigala, rubah betina, dan masih banyak lagi makian yang lain.
Baru saja dia mulai merasa lega karena tidak lagi mendapatkan komentar, ternyata kelegaan itu tidak berlangsung lama. Beberapa detik setelahnya, banyak sekali akun yang mengiriminya pesan pribadi yang sudah pasti tujuannya untuk mencaci Sherin.
" Ih!!! ini semua gara-gara Dokter mesum sialan itu! tidak bisa dibiarkan begitu saja, aku harus menemuinya dan membuatnya memperbaiki citraku yang buruk ini. "
Sherin memutuskan untuk datang ke unit Kevin yang berada tepat disebelah unit nya. Tidak tahu kebetulan atau apa, tapi sepertinya menghindari kevin adalah hal yang sulit sekarang ini. Dengan langkah cepat Sherin melangkahkan kaki menuju unit Kevin. Sesampainya disana, Sherin memencet bel pintu. Cukup lama dia berdiri karena pintu itu tak kunjung terbuka.
" Apa dia kabut karena tahu aku akan datang? " Gumam Sherin.
" Apa aku telepon saja ya? " Sherin menyalakan ponselnya untuk menghubungi Kevin. Tapi belum juga terhubung, pintu apartemen Kevin sudah terbuka.
" Hai.. " Sapa Kevin. Sherin yang tadinya fokus melihat ponsel, akhirnya tersentak dan menatap Kevin yang sudah berada di ambang pintu. Sungguh, tadinya dia ingin langsung memaki Kevin. Tapi penampilan Kevin saat ini benar-benar membuat mulutnya terkunci rapat dan matanya melotot kaget.
Kevin tersenyum menyambut kedatangan Sherin. Tentu saja dia sudah menebak jika Sherin akan datang untuk memprotes tindakannya. Tapi dengan penampilannya saat ini, mana mungkin Sherin berani melakukanya.
" Kenapa membuka pintu dengan penampilan seperti ini?! " Sherin menutup mata menggunakan telapak tangannya. Bagaimana tidak? Kevin membuka pintu hanya menggunakan handuk yang melingkar di pinggang hingga batas lutut. Dadanya yang berotot terekspos nyata begitu menggoda. Apalagi, ada sisa tetesan air yang tertinggal disana. Tentulah Sherin bisa menebak jika Kevin baru saja mandi.
" Karena sepertinya, kau sangat tidak sabaran, sayang. " Kevin tersenyum melihat tingkah konyol Sherin yang masih saja enggan membuka matanya.
" Dasar mesum! aku akan kembali nanti. " Tadinya Sherin hendak melangkahkan kaki untuk kembali ke apartemennya, tapi tangan Kevin lebih cepat menahan tubuhnya dengan memegang lengan Sherin. Cukup terkejut memang, tapi keterkejutan itu tidak berhenti disana. Kevin menarik lengan Sherin dan membawanya masuk.
" Mau kemana? " Tanya Kevin setelah mendekatkan tubuh Sherin hingga menempel dengan tubuhnya.
" Kenapa pulang? bukankah kau datang karena ada sesuatu yang ingin kau bicarakan? " Ujar Kevin yang dengan kurang ajarnya malah mendekatkan wajah mereka.
Sherin yang terkejut mencoba untuk sejauh mungkin menghindari tatapan aneh Kevin yang seperti singa kelaparan itu.
" Nanti pasti aku kembali, kalau kau sudah berpakian. " Ujar Sherin.
Ini adalah kali pertama Sherin tidak menggunakan bahasa formal kepadanya. Sungguh ha itu membuat Kevin semakin menyukai Sherin yang sekarang ini. Sudah tidak lagi memiliki dua wajah ketika berbicara dengannya. Karena biasanya, Sherin sudah pasti akan mengumpat di dalam hati dan bibir tersenyum hanya untuk sekedar menghormati. Awalnya itu adalah hal yang menarik, tapi Sherin yang apa adanya pasti akan menjadi lebih menarik kan?
" Aku tidak keberatan, jika kau ingin bicara maka bicaralah sekarang. " Kevin memindahkan tangannya ke pipi Sherin dan mengusap lembut. Tentulah Sherin kesal dan menepis tangan Kevin dengan cepat.
" Dengar ya, Dokter Kevin. Saya selama ini menahan segala amarah yang menggebu-gebu terhadap anda. Saya pikir, anda adalah senior yang harus saya hormati, tapi nyatanya, anda sama sekali tidak menghormati saya. Anda tidak lebih dari laki-laki mesum yang gila. Anda juga dengan bangganya menyakiti hati wanita. Dan apa anda tahu? semenjak anda terus mengganggu saya, hidup saya menjadi tidak tenang. Para gadis ya g tak lain adalah penggemar anda, mereka semua menatapku sinis setiap kali melihat ku. Jadi tolong, tolong menjauhlah dari hidup saya, Dokter Kevin yang terhormat. "
Bukanya marah atau merespon seperti yang seharusnya, Kevin justru kembali meraih tangan Sherin. menariknya, lalu membawanya ke dalam apartemennya.
" Apa yang anda lakukan?! " Sherin menghempaskan tangan Kevin menjauh dari pergelangan tangannya.
" Apa anda tidak tahu? membawa wanita lajang ke apartemen akan menimbulkan banyak kemungkinan buruk? " Sherin menatap kesal manik mata Kevin yang justru menatapnya intens tanpa ekspresi.
Karena tak juga mendapatkan respon, Sherin akhirnya memutuskan untuk keluar dari apartemen Kevin. Sayang, lagi-lagi tangan Kevin mencegahnya dan kembali membuat tubuh Sherin menabrak tubuhnya.
" Kau tidak boleh pergi. " Kevin meraih paksa pinggang Sherin dan memeluknya erat, bahkan sangat erat.
" Wanita yang sudah masuk ke apartemen ku, tidak boleh pergi begitu saja. " Bisik Kevin ditelinga Sherin. Entah apa juga, Sherin seperti tersihir oleh hembusan nafas Kevin yang begitu hangat. Bahkan aroma tubuh Kevin yang baru saja mandi itu, begitu membuat Sherin kehilangan fokus. Meski tubuh Kevin terasa begitu keras karena otot-otonya yang menyembul membentuk bagian-bagian indah, Sherin justru semakin merasa nyaman berada dipelukkan Kevin. Menang, awalnya dia begitu menolak, tapi entah setan dari mana, atau mungkin setan cabul sahabatnya, Vanya pindah ke tubuhnya, Sherin justru begitu menikmati momen berpelukan dengan pria yang dia anggap menyebalkan itu.
" Sherin, biarkan saja aku masuk ke hatimu. Jangan menolak dan mendorongku untuk menjauh. Karena aku, tidak akan pernah menyerah. "
TBC