Marry Me, Please

Marry Me, Please
Jangan Pedulikan Mereka!



Kevin menunduk tak berani menatap Sherin. Tentu aja karena perasaan takut juga pasrah. Walau bagaimana pun, dia memang harus jujur dan menerima konsekuensinya jika sudah mengatakan segalanya kepada Sherin. Sial! dia benar-benar menyesal sekarang. Kalau saja Sherin sampai meminta cerai, tentu dia akan membuat hamil Sherin terlebih dulu, dengan begitu kan tida mungkin Sherin masih ingin meminta cerai. Batin Kevin sudah memikirkan tindakan untuk pencegahan. Sementara Sherin, gadis cantik itu masih saja terdiam entah apa yang dia pikirkan. Kevin saja yang ada di hadapannya tida bisa menebak karena wajah Sherin benar-benar tida terbaca apa yang sedang di pikirkan nya.


" Sayang ku, aku tahu ini sama sekali bukan hal yang kau inginkan, tapi aku sudah tidak seaktif dulu kok. Aku hanya akan datang saat ada darurat saja. Aku janji, aku tidak akan membuat mu dalam bahaya karena latar belakang ku sebagai Dokter mafia. " Kevin kembali menatap bola mata Sherin dan menunjukkan betapa tulusnya dia melalui kata-kata dan tatapan matanya.


" Jadi, kau adalah pria tampan yang seorang mafia seperti di novel dan komik yang aku baca? "


" Eh? " Kevin mengeryit bingung karena wajah Sherin tiba-tiba terlihat begitu penuh kekaguman. Ini sungguhan apa sedang meledek sih? gerutu Kevin di dalam hati.


" Jadi kau sungguh adalah seorang mafia tampan seperti Novel yang sering aku baca? jadi aku menikah dengan pria keren begitu? " Sherin kini menangkup wajah Kevin dan menatapnya dengan tatapan bangga atau bisa dibilang bahagia.


" Apa menurutmu seorang mafia itu keren? " Tanya Kevin yang sama sekali tidak paham dengan jalan pikiran Sherin yang tidak masuk akal.


Sherin menganggukkan kepala dengan cepat. Masa bodoh dengan bahaya nya. Karena yang dipikirkan Sherin adalah kebanyakan tokoh pria tampan yang memiliki profesi sebagai mafia itu adalah sosok pria yang cool dan keren. Apalagi, kebanyak novel dan komik yang ia baca adalah tentang kesetiaan seorang pria mafia kepada satu perempuannya. Sama hal nya dengan kesetiannya kepada pasukannya.


" Apa aku boleh mengumumkan di akun media sosial ku kalau kau adalah seorang mafia? para gadis yang mengejar mu pasti akan semakin kebakaran jenggot. " Sherin berucap dengan begitu polos, dan berbanding terbalik dengan ekspresi Kevin yang membelalak kaget. Gila ya?! bisa-bisa dia dalam masalah besar kalau sampai Sherin benar-benar melakukan itu.


" Bagaimana? boleh tidak? " Tanya lagi Sherin yang tentu saja mendapatkan gelengan kepala dari Kevin.


" Sayang ku, seorang mafia tidaklah sekeren yang kau bayangkan. Jika sampai identitas ku bocor, bisa-bisa keluar dari rumah aku sudah ditembak mati oleh sniper. " Sherin sontak terdiam karena terkejut. Setelah dia ingat lagi, dunia mafia memang menyeramkan dan penuh dengan konflik.


" Dengar Sayang ku, aku tidak pernah memberitahu siapapun tentang ini. Kau adalah satu-satunya orang selain kedua sahabat terdekat ku yang bisa ku percaya untuk mengetahui tentang ini. Jadi, sekarang ini kau bisa saja membunuh ku kalau sampai kau membocorkan identitas ku. "


Sungguh sangat di sayangkan. Padahal dia punya niat untuk pamer dengan teman-temannya agar bisa menyombongkan diri. Tapi Kevin adalah suaminya sekarang jadi dia tidak bisa membahayakan nya.


" Baiklah aku paham. "


Kevin membenahi duduk nya lalu memeluk tubuh Sherin. Syukurlah, ketakutannya tidak terjadi. Sebenarnya Kevin bukan takut dalam bahaya kalau identitasnya terbongkar, dia hanya takut kalau sampai Sherin dalam bahaya kalau sampai musuh nya mengetahui bahwa Sherin adalah istri dari kubu musuh.


Setelah perbincangan tadi pagi, hari ini Kevin terpaksa mengizinkan Sherin untuk ikut kerumah sakit dan menjalani pekerjaannya yang sudah tiga hari tidak ia lakoni. Seperti yang di inginkan Kevin sebagai syarat agar di bolehkan untuk bekerja, Sherin harus turun mobil bersama dengannya, menggandeng tangannya dan mengizinkan Kevin mengantarnya sampai ke ruangannya, lalu memberikan ciuman sebelum berpisah karena berbeda ruangan.


" Siapa yang menyuruh mu menunduk seperti itu? " Tanya Kevin dengan tatapan matanya ya g seolah merasa tidak setuju dengan yang dilakukan Sherin.


" Aku, aku hanya tidak nyaman saat melihat tatapan mereka. "


Kevin menggenggam tangan Sherin erat.


" Dengar, jika kau merasa tidak nyaman dengan tatapan itu, maka lawan dan buat dirimu berani. Tanggapan buruk orang lain tentang mu, tidak boleh menjadikan dirimu rendah diri. Kau hanya perlu ingat ini. Kau adalah seorang dokter yang berbakat. Kau bisa sampai ketitik ini berkat dirimu sendiri dan tidak ada urusannya dengan mereka. Satu hal yang paling harus di ingat, kau adalah istri dari Kevin. Kevin suami mu adalah Pemiliki rumah sakit ini beserta dua cabang yang ada di luar kota. Kau bisa memilah mana yang pantas bekerja dan mana yang tidak. "


" Ya ampun, tiba-tiba aku merasa ingin terbang loh. " Ucap Sherin karena memang itulah yang dia rasakan. Bahagia, tentu dia sangat bahagia karena mendengar rumah sakit beserta dua cabangnya adalah milik suaminya.


" Ajak aku saat kau terbang ya? " Kevin menuntut Sherin melangkahkan kaki bersamaan dengan jemari mereka yang saling mengait. Benar, dia bisa sampai sekarang ini tentulah berkat usaha dari dirinya sendiri. Maka untuk apa dia memikirkan tatapan tidak suka dari mereka yang memang tidak menyukainya? lagi pula, apapun yang akan dia lakukan, baik itu benar atau salah, tentu saja akan dianggap salah oleh orang yang membenci nya. Sekarang dia hanya perlu melakukan yang terbaik untuk orang-orang yang dia sayangi dan yang menyayangi nya.


Seperti janji Sherin, setelah sampai di pintu ruang kerjanya, dia akan membiarkan Kevin menciumnya. Tapi sebelum itu terjadi, Sherin sudah lebih dulu menasehati Kevin agar tidak sembarangan mencium di bagian yang kurang pantas di lakukan di tempat umum seperti itu.


" Jangan mencium bibir. " Ucap Sherin mengingatkan Kevin. Bukanya lagi-lagi memikirkan pendapat dan tatapan orang lain, dia hanya merasa malu jika sampai Kevin mencium di bagian bibir.


" Kau adalah istriku, jadi itu terserah aku mau mencium dimana kan? " Kevin tersenyum lalu mengecup kening Sherin. Iya, dia tidak mungkin juga mencium bibir di tempat kerja.


" Aku ke ruangan ku ya? " Pamit Kevin setelah itu. Sherin mengangguk tanpa kata.


" Sampai bertemu di jam makan siang. "


Sherin mengeryit bingung.


" Bukanya kita datang kerumah sakit juga sudah siang? " Tanya Sherin.


TBC