
Kevin dan Sherin kini mulai menikmati makan siang mereka, tidak ada percakapan diantara Kevin dan Sherin. Kenapa? itu semua karena Rici ikut nimbrung diantara mereka. Jujur saja Sherin memang sedikit kesal, tapi dia juga tidak bisa mengusir Rici meski dia adalah istri dari pemilik rumah sakit.
" Ayam ini kenapa rasanya asam ya? " Gumam Sherin sembari membolak balikkan ayam yang kini ia tusuk menggunakan garpu.
" Mau punyaku? " Kevin memotong ayam mentega miliknya lalu memberikan kepada Sherin.
" Coba ini dulu, kalau rasanya enak bagimu, baru kau ambil saja semua. " Sherin tak menjawab, dia membuka mulutnya lalu melahap sesendok makanan yang disodorkan Kevin padanya.
" Bagaimana? " Tanya Kevin.
" Tidak enak. " Sherin menjauhkan piringnya lalu menenggak segelas susu murni yang ada dihadapannya.
" Sayangku, apa kau mual? " Tanya Kevin. Mual? Sherin sempat mengeryit, tapi saat matanya menatap Rici, dia langsung menjawab pertanyaan Kevin dengan tegas.
" Iya, aku mual sekali. " Ujar Sherin dengan tatapan sebal meski tak ia arahkan secara langsung ke wajah Rici.
" Benarkah? " kevin tersenyum seolah dia tengah mengharapkan sesuatu.
" Iya. Aku mual, sebal, kesal, dan banyak lagi rasa-rasa yang lain. Hah! sampai-sampai aku tidak bisa mengartikan apa nama rasa itu. " Sherin mengeluarkan ponselnya karena ada satu pesan yang masuk kedalam ponsel miliknya. ibu? Sherin memasukkan kembali ponselnya. Iya, sudah hampir dua minggu dia tidak bertemu Ibunya semenjak terakhir kali dia marah karena Sherin lebih memilih untuk menikah dengan Kevin.
" Sayangku, kau baik-baik saja? " Tentu Kevin dengan jelas bisa melihat perbedaan ekspresi wajah istrinya setelah membaca pesan dari ponselnya. Bahkan sekarang Sherin jelas sekali nampak khawatir.
" Dokter Kevin, makanan mu nanti dingin dan tidak enak, lebih baik kau makan saja dulu. " Sela Rici yang merasa kesal karena mata Kevin terus saja memperhatikan Sherin sedari tadi. Kevin mengeryit lalu menatap Rici kesal. Sungguh dia baru kali ini bertemu dengan wanita yang sangat tidak tahu diri seperti Rici.
" Istriku tidak nafsu makan, bagaimana aku bisa makan? " Kevin mengakhiri tatapan tajamnya lalu kembali menatap Sherin dengan tatapan khawatir.
" Aku kembali duluan ya? " Sherin mulai bangkit dari duduknya, tentu saja Kevin juga ikut bangkit. Tidak ada lagi usaha untuk membuat cemburu Sherin atau apapun itu, karena yang paling penting Sherin sudah bersedia terus bersamanya. Dengan langkah sedang mengimbangi Sherin, Kevin merangkul pundak Sherin dengan hangat. Sesekali memang Kevin memperhatikan bagaimana wajah Sherin, iya dari ekspresi Sherin jelas mengatakan jika ada hal yang sedang terjadi, dan pasti itu buruk.
" Sayangku, apa yang terjadi? " Tanya Kevin tapi tak menghentikan langkah kaki mereka berhenti.
" Jangan dijalan seperti ini, takutnya ada yang tidak sengaja mendengar. " Karena Sherin mengatakan seperti itu, maka Kevin berinisiatif membawa Sherin ke lantai paling atas dari rumah sakit. Sungguh Sherin tida bisa berkata-kata walau hanya untuk sekedar kemana Kevin akan membawanya. Kini sampailah mereka di sebuah yang cukup megah.
" Kenapa photo pernikahan kita ada disini? " Tanya Sherin yang langsung bisa melihat photo pernikahan mereka saat dia masuk kedalam ruang kerja yang sepi, barang-barang disana juga tersusun dengan rapih. Buku-buku pengetahuan tentang ilmu kedokteran juga tersusun rapi memenuhi lemari buku yang berukuran besar di sudut ruangan.
" Karena ini adalah ruangan ku. " Sherin tersentak, sungguh dia masih tidak percaya jika dia menikah dengan pria kaya. Iya, walaupun awalnya terpaksa, tapi kalau suaminya kaya begini siapa juga yang tidak akan tergiur.
" Ruangan ini hanya digunakan untuk pengurusan rumah sakit, jadi aku jarang datang kesini. Selain aku perlu menyembunyikan identitas, ada seorang asisten yang aku percaya. Dia menggantikan ku mengurus sebagian pekerjaan mengenai rumah sakit. " Sherin manggut-manggut saja karena tidak tahu harus mengatakan apa. Bingung? tidak! itu semua karena imajinasinya sedang menari-nari bahagia. Walau bagaimanapun, dia tidak perlu merasa takut kelaparan lagi kan? apalagi, suaminya mirip seperti tokoh kartun yaitu, seorang mafia kaya. Heh! andai saja bisa menyombongkan, sudah pasti akan Sherin lakukan.
" Sayangku, apa yang ingin kau beri tahu tadi? " Kevin meraih tangan Sherin, membawanya ke sofa yang terletak tak jauh dari dinding kaca.
" Ibuku mengirim pesan, katanya perusahaan suaminya mengalami penurunan secara drastis selama satu minggu terakhir ini. Tidak tahu apa masalahnya, tapi Ibuku lagi-lagi meminta untuk memikirkan lagi tentang perjodohan kemarin. "
Kevin mengeryit bingung. Iya tentu saja dia bingung, Bagaiamana bisa sebuah perusahaan menurun drastis hanya dalam waktu satu minggu? jelas sekali Kevin sudah memberikan modal besar beberapa saat lalu agar hidupnya dengan Sherin tidak diganggu gugat.
Ini, Ayah tirinya Sherin yang bodoh, atau ada sesuatu?
" Bagaimana menurutmu? " Tanya Sherin yang bingung karena Kevin tidak merespon apa yang dia ucapkan.
" Sebenarnya aku juga bingung. Sayangku, sebenarnya setelah pernikahan kita beberapa hari, aku memberikan modal yang jauh lebih besar dari pada janji dari pria yang akan dijodohkan untukmu. Tapi aku heran, bagaimana bisa sedrastis itu hanya dengan satu minggu? "
" Kau, memberikan mereka modal? kenapa? " Sherin menatap Kevin dengan tatapan penuh tanya. Apakah harus sampai sebesar itu? pantas saja Ibunya sama sekali tidak pernah lagi menghubunginya. Padahal, dia pikir Ibunya merasa takut dengan Kevin, tapi nyatanya Ibunya sudah mendapatkan uang.
" Karena aku tidak ingin selalu melihatmu tertekan. Setiap kali hal yang berhubungan dengan Ibumu, kau akan menjadi murung dan tertekan. Aku tidak menyukai istriku yang seperti itu. " Kevin menangkup wajah Sherin lalu mengecup keningnya.
Sialan! aku sangat terharu sampai ingin mencium bibirnya, tahan Sherin! tahan! jangan sampai kelepasan!
" Sepertinya Ibuku berpura-pura mengungkit soal pernikahan itu untuk memintaku agar kau mau membatu mereka lagi. " Ujar Sherin yang yakin sekali jika tebakannya itu benar.
" Iya, memang begitu lah jalan pikiran Ibumu. " Sherin mendesah sebal. Iya, kalau anak yang lain, mungkin akan marah jika ada yang menggunjing Ibunya. Tapi masalahnya, apa yang Kevin iyakan itu juga memang kenyataan.
" Menurutmu aku harus bagaimana? " Tanya Sherin.
" Berikan aku waktu untuk mencari tahu. Setelah dipikir-pikir, sepertinya ada yang tidak biasa. Meskipun suami Ibumu itu sembrono, tapi dia adalah seorang pembisnis yang sudah cukup lama bergelut di bidang bisnis. Tentu ada hal lain yang membuat perusahaan itu merosot dengan cepat. "
***
" Tuan Hanung, rencana kita berjalan mulus. Sekarang tinggal bagaimana kita mendekatkan Putramu dengan Putriku. Ini adalah kali pertama putriku sangat menyukai seorang laki-laki, jadi aku tidak ingin gagal. Bagaimanapun caranya, jadikan Rici sebagai istrinya dalam waktu dekat. " Dua pria paruh baya kini tengah bersalaman dengan wajah sumringah dan puas.
TBC