
Setelah menimbang-nimbang dengan matang, akhirnya Sherin memilih untuk mengirim lokasi terkini kepada Kevin. Tentu saja karena tidak ada pilihan lain lagi, dari pada dia harus menunggu di jalanan sepi seperti itu sampai pagi. Sherin berjongkok sembari berdoa di dalam hati agar tidak ada apapun yang mengganggunya. Baik manusia jahat ataupun makhluk tak kasat mata yang menyeramkan seperti di film-film horor.
Cukup lama dia menunggu kedatangan Kevin, kurang lebih hampir satu jam dia menunggu dengan gelisah dan pada akhirnya sebuah mobil sport melaju ke arahnya. Dan tepat di hadapan Sherin, mobil itu berhenti.
" Masuklah! " Titah Kevin setelah membuka kaca mobilnya. Tak mau membuang banyak waktu lagi, Sherin langsung masuk ke dalam mobil. Tidak usah perdulikan bagaimana caranya berterima kasih. Toh, semua ini terjadi juga karena dia kan? batin Sherin menggerutu.
Setelah Sherin memasang sabuk pengamannya, Kevin langsung melajukan lagi mobilnya. Sejujurnya Sherin sedikit terkejut melihat mobil yang di gunakan Kevin. Mobil itu adalah mobil Sport yang ia tahu jika mahal. Entah apa kelebihannya dia sama sekali tidak perduli tentang hal itu.
Ternyata dia kaya juga ya?
" Anda tidak bertanya kenapa saya ada di sana tadi? " Tanya Sherin yang justru di buat penasaran karena sepertinya Kevin tidak terlihat ingin bertanya. Padahal dia sudah menyiapkan kata-kata yang sopan tapi tersampaikan rasa kesalnya. Sayang, pria itu malah diam dan hanya fokus menyetir.
" Tidak. " Jawab Kevin singkat.
Sherin menghela nafas kesal nya dengan sengaja. Tentu saja dia kesal, bagaimanapun, semua kejadian ini terjadi adalah karena kesalahannya yang tidak menghargai kekasihnya.
" Dokter Kevin, entah anda mau mempercayai saya atau tidak, tapi setelah ini saya harap kita tidak usah saling bertegur sapa. Tidak usah terlalu dekat dengan ku juga. Anda memiliki kekasih yang membutuhkan anda. Saya tidak mau disalah pahami oleh kekasih anda juga. Anda juga pasti tahu kan? banyak sekali partner kerja kita yang selalu menatap ku kesal karena anda? tolong mengertilah Dokter Kevin, ini semua sungguh tidak mudah untuk saya. "
Kevin menepikan mobilnya, melepas sabuk pengamannya, meraih tengkuk Sherin dan mencium rakus bibir Sherin. Awalnya Sherin ingin bertanya kenapa mendadak menghentikan mobil, tapi baru saja membuka mulut, pria itu langsung menyergap bibirnya dengan buas. Tentulah dia menolak, Sherin memukul-mukul dada Kevin agar pria itu menjauh darinya. Sayang bukanya menjauh, Kevin justru semakin terprovokasi. Sebelah tangannya menjalar ke bawah dan hampir mengenai dada Sherin. Untunglah, gadis itu tidak terbuai dan dengan sigap menahan tangan Kevin.
" Dokter Kevin! " Setelah mendapatkan celah, Sherin akhirnya bisa menjauhkan tubuh Kevin darinya.
" Apa yang anda lakukan?! " Protes Sherin yang benar-benar terlihat kaget.
Kevin memang sudah lepas dari tubuh Sherin, tapi tatapannya dan jarak mereka juga masih terbilang dekat.
" Kenapa kau masih bertanya? bukanya sudah jelas kalau barusan aku mencium mu? "
Sungguh, rasanya ingin sekali menampar wajah Kevin, tapi karena Kevin semakin tampan saat di lihat dari dekat, rasa-rasanya sayang juga kalau harus merusak wajah tampan itu.
" Dokter Kevin, bukankah saya sudah mengatakan apa yang seharunya saya katakan?! saya sudah menahan diri selama ini untuk tidak marah. Tapi tolong, situasi saya sulit sekarang ini. Tolong jangan seperti ini. Saya tidak bisa bernafas dengan baik saat ada terus menggangu saya. "
" Mengganggu? tidak kah kau bisa merasakan? aku sedang mengejar mu, bukan mengganggu mu. "
" Berhentilah mengatakan omong kosong, Dokter kevin. "
" Aku tidak pernah mengatakan sesuatu yang tidak aku yakini. "
" Apa anda sadar dengan apa yang anda katakan? apa anda tidak merasa bersalah karena telah menyakiti kekasih anda? "
" Tidak, aku tidak bisa melihat siapapun lagi selain kau. " Kevin semakin intens menatap Sherin yang nampak memggebu-gebh aura kemarahannya.
" Sebenarnya kenapa anda ini? "
" Ingatlah anda memiliki kekasih, Dokter Kevin. "
" Aku haha ingat, bahwa aku mencintaimu. "
" Kau tidak mencintai ku! kau hanya penasaran saja. Jadi tolong, tolong berhentilah bermain-main seperti ini. "
Hilang sudah kata-kata Formal seperti biasanya. Tentu saja, sebab utamanya adalah Sherin yang sudah tidak bisa menahan kekesalannya.
Kevin tersenyum miring seolah membantah apa yang Sherin tuduhkan padanya.
" Mengenai hatiku, apa kau benar-benar yakin? apa kau tidak mau memastikannya terlebih dulu? "
Sherin sesaat memang tergoda dengan kata-kata itu, tapi kesannya terhadap Kevin tidak ada yang baik baginya. Jadi tentulah dia akan menyakini dirinya sendiri.
" Dokter Kevin, mungkin saja anda salah. Apa ada pernah mendengar bahwa terkadang orang sulit membedakan antara cinta dan obsesi? "
Kevin kembali ke kursi duduknya. Sungguh dia ingin tertawa mendengar pertanyaan Sherin yang sangat lucu baginya.
" Sherin, hanya orang bodoh saja yang mengatakan hal seperti itu. "
" Jadi aku bodoh? " Protes Sherin.
" Tentang percintaan, kau memang sangat bodoh. Sekarang coba pikirkan, jika ada seseorang yang jatuh cinta tanpa obsesi. Orang itu hanya akan jatuh cinta tanpa mau melakukan tindakan lebih. Obsesi di butuhkan dalam cinta, Sherin. Karena kalau hanya cinta saja, tidak akan ada seseorang yang berjuang di luar akal sehat demi cinta. Seperti kau contohnya. Kau tidak memiliki obsesi dalam hubungan asmara. Itulah alasannya tidak ada kemajuan dalam hidupmu mengenai asmara. "
Sherin terdiam mencerna setiap kata yang keluar dari bibir Kevin. Iya, selama ini dia memang ikut meyakini jika cinta dan obsesi itu berbeda. Padahal kalau di pikir-pikir, cinta tentu saja membutuhkan obsesi agar seseorang mampu berjuang demi cintanya kan?
" Jadi aku salah ya? " Tanya Sherin kepada dirinya sendiri sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Kevin tersenyum karena ini benar-benar lucu. Hari ini dia melihat bagaimana sisi lain dari Sherin hang amat polos dan sok tahu tentang cinta. Padahal aslinya sama sekali tidak ada yang dia pahami.
" Sherin, aku tidak pernah sekalipun mengatakan kata cinta kepada wanita. Selalu mereka terlebih dulu yang mengatakannya kepadaku. Dulu, aku sama sekali tidak memikirkan wanita, aku selaku menyibukkan diriku di rumah sakit. Aku merasa mereka tidak penting lagi setelah aku memakainya. Tapi setelah bertemu dengan mu, tubuh dan pikiran ku berjalan selaras untuk selalu mendekatimu, menyempatkan diri se sibuk apapun diriku untuk bisa melihat mu. "
Sherin menatap lurus ke arah depan. Entah mengapa, rasanya dia tidak sanggup kalau harus melihat ke arah kevin. Jantungnya juga benar-benar tidak berhenti berdegup kencang.
" Sherin? " Panggil Kevin. Mau tak mau juga Sherin menoleh ke arah Kevin uang entah sejak kapan terus menatapnya tanpa henti.
" Kenapa? "
Kevin kembali mendekatkan wajahnya sembari meraih tengkuk Sherin dan mengulangi apa yang tadi ia lakukan.
TBC