
Tiga hari sudah Sherin di kurung di dalam apartemen. Tidak pernah melihat bagaimana matahari terbit dan tenggelam selama tiga hari full. Jangan tanya apa saja yang dilakukan oleh mereka, karena jawabannya pasti mudah untuk ditebak.
" Aw! " Sherin memegangi punggungnya yang terasa sangat pegal. Hah! bahkan sudah seperti patah tulang belakang. Dengan alasan agar bisa cepat hamil sebelum Ibunya datang, Kevin benar-benar tidak membiarkannya istirahat dengan baik.
" Apa masih sakit? " Kevin yang mendengar suara Sherin mengaduh buru-buru ia bangun untuk melibat bagaimana keadaan wanita yang kini sudah menjadi istrinya. Dengan sigap dia menekan bagian punggung Sherin dan memijatnya lembut. Sial! melibat punggung mulus Sherin, lagi-lagi keinginan yang kurang ajar itu kembali ia rasakan. Tapai sudahlah, sepertinya dia harus menahannya karena Sherin dan dia harus pergi bekerja sebelum mereka berangkat ke Maldives minggu depan.
" Bagaimana sekarang? " Tanya Kevin tapi tak menghentikan tangannya yang masih memijat punggung Sherin.
" Saat di pijit memang sedikit membaik, tapi tidak tahu bagaimana nanti. Hari ini aku harus bekerja, jadi mau tidak mau aki harus bertahan sampai liburan ke Maldives. " Sherin menghela nafasnya. Sebenarnya dengan keadaan tubuhnya yang lelah, remuk dan terasa sakit di sekujur tubuh, jujur saja dia jadi malas bekerja. Tapi mau bagaimana lagi? dia tidak bisa mengabaikan pasiennya juga kan.
" Kalau begitu, tinggalah saja dirumah. Aku akan mencari Dokter terbaik untuk menggantikan mu. Kau fokus saja menjalankan tugas mu sebagai istri. Bagaimana? "
Sherin mendesah sebal. Enak saja kalau bicara.
" Kau pikir, rumah sakit itu milik nenek moyang mu? "
Kevin mengeryit lali tersenyum. Benar, selama tiga hari ini yang ada di otaknya hanyalah untuk menikmati hari-hari sebagai pengantin baru hingga dia lupa kalau belum menceritakan apapun tentang dirinya.
" Rumah sakit itu bukan milik nenek moyang ku. "
" Tentu saja aku tahu. Maka dari itu, kita tidak bisa bersantai-santai selama kita masih muda. Setidaknya kita harus menyiapkan tabungan untuk masa depan kita. " Tangan Kevin terhenti dan kini memeluk tubuh Sherin dari belakang. Dikecupnya pundak Sherin dan membenamkan wajahnya di sana.
" Rumah sakit itu milikku. Jadi kau tidak perlu khawatir. Soal masa depan, tentu saja kita tidak akan mati kelaparan meskipun kita tidak bekerja. "
" Pft.....! " Sherin menahan tawanya lalu melepaskan kedua lengan Kevin yang tengah memeluknya.
" Kau ini belum juga sadar dari tidur mu ya? " Tanya Sherin sembari meraih ikat rambutnya laku menggulung tinggi rambutnya ke atas. Kevin kembali memeluk Sherin dan mencium tengkuknya.
" Aku tidak berbohong, sayangku. Kau mau bukti? "
" Jangan bicara omong kosong. Lepaskan aku dan biarkan aku mandi. Kau ini tidak tahu ya kalau membuang banyak waktu sama saja membuang uang. " Sherin mencoba melepaskan lengan Kevin tapi pria itu tak memberikan kesempatan sedikitpun agar bisa terlepas darinya.
" Maksud mu, Time is money? "
" Sejak kapan peribahasa itu diganti dengan bahasa Inggris? "
" Eh? "
" Lepaskan aku! " Pinta lagi Sherin yang masih terus berusaha melepaskan kedua lengan Kevin.
" Aku bersungguh-sungguh. Rumah sakit itu benar-benar adalah milikku. Jika kau merasa lelah, aku harap kau tinggal saja di rumah. Lebih bagus lagi kalau kau lebih fokus menjadi istriku dan melayani ku setiap saat. " Kevin cekikikan karena merasa bahagia seandainya hal itu benar-benar terjadi.
" Akal mu banyak sekali ya? berbohong sampai seperti itu hanya untuk membuat ku diam di rumah. "
Kevin menghela nafasnya. Dia melepaskan kedua lengannya dari tubuh Sherin untuk meraih ponselnya.
" Ini? " Sherin mengeryit lalu menatap Kevin seolah meminta penjelasan agar dia tidak salah paham dan tidak salah beranggapan.
" Aku sudah janji akan memberitahu mu semua tentang ku kan? ini adalah kebenaran tentangku. "
Sherin sontak langsung tersenyum karena merasa yakin kalau apa yang di ucapkan oleh Kevin adalah kebenaran.
" Jadi, kau adalah orang kaya? "
" Menurutmu? "
" Apa kau bisa menjamin kalau aku tidak akan kelaparan nantinya? " Tanya Sherin yang terlihat antusias.
" Tentu saja. Kau dan anak-anak kita tidak akan ku biarkan kalian kelaparan. "
" Sekarang aku tahu kalau kau cukup kaya. Jadi, apakah aku bisa menguasai semua gaji mu? "
Kevin tersenyum menatap bola mata Sherin yang nampak sekali begitu bahagia saat membicarakan uang.
" Tentu saja. Kau bisa mengambil semua gaji ku. Pendapatan dari rumah sakit itu juga akan menjadi milik mu. "
Semu pendapatan? oh ya ampun! Sherin benar-benar tidak bisa menahan diri untuk tidak jatuh cinta saat membicarakan tentang uang. Bukan tanpa alasan, selama ini dia begitu susah payah dan begitu irit agar bisa menyisihkan uang sebagai tabungan di hari tua. Tapi sekarang dia tidak perlu memikirkanya lagi.
" Oh, bagus sekali. Dengan banyak uang, aku akan memakan makanan apapun yang belum aku makan. Steak di hotel bintang lima waktu itu sepertinya sangat enak. Hari libur nanti, aku benar-benar akan mengajak Vanya dan Devi makan di sana. "
" Apakah yang ada di otak mu hanya makanan? " Tanya Kevin bingung. Wanita yang menyukai uang tentu saja itu biasa dan umum. Tapi wanita yang memiliki banyak uang tapi yang dia inginkan hanyalah makanan maha rasanya sangat jarang. Bahkan tadinya Kevin pikir, Sherin akan gila-gilaan belanja saat Kevin memberikannya banyak yang.
" Kau tidak tahu ya? selama ini aku selalu makan makanan yang low budget. Tentu saja karena aku memikirkan hari tuaku agar nantinya aku tidak susah. Tapi dengan banyaknya uang yang akan kau berikan nanti, tabungan hari tua dan asuransi ku kan kau yang bayar. Jadi gaji ku bisa aku gunakan untuk makan mewah. "
" Kenapa kau benar-benar tidak seperti yang lainya. " Kevin kembali memeluk tubuh Sherin dan memberikan beberapa kecupan disana.
" Sayangku, kita tidak usah bekerja dulu ya? " Kevin mulai menjalankan ciumannya ke beberapa bagian. Tangannya juga sudah menjalar kesana kemari. Tapi sepertinya keberuntungan kini menjadi milik Sherin. Suara bel pintu terdengar beberapa kali di pagi hari begini.
" Sialan! siapa yang datang sepagi ini? " Kesal Kevin saat Sherin mendadak bangun dan langsung memakai bajunya.
" Aku buka pintu dulu. " Ucap Sherin lalu berjalan keluar meninggalkan Kevin yang terlibat kesal.
" Kalau saja itu Nath atau Lexi, aku benar-benar akan mencaci maki mereka sampai puas. " Gerutu Kevin laku mulai bangkit dan memunguti bajunya yang tergeletak di lantai. Setelah memakai baju lengkap, barulah dia berjalan keluar untuk menyusul istrinya dan melihat siapa yang mengganggu di pagi hari seperti ini.
" Sayang? " Kevin mengeryit melihat Sherin memegangi pipinya dengan mata yang menahan tangis. Kevin berjalan mendekati Sherin laku menaikkan tangan Sherin dari pipinya. Bekas tamparan. Itulah yang dengan jelas dapat Kevin lihat. Kevin mengaihkan pandangan menatap wanita paruh baya yang juga menatapnya marah.
TBC