Marry Me, Please

Marry Me, Please
Maldives part 2



Gila!


Itu adalah satu-satunya kata yang terus di batin oleh Sherin. Alasannya tentu saja Kevin. Benar-benar luar biasa, setelah bangun pagi, Kevin terus saja bersantai dengan memaksanya untuk tetap tidur. Tidur? mama mungkin! tubuhnya memang berbaring, tapi hati dan mulutnya selalu lelah memaki Kevin. Bagaimana tidak? tangan Kevin benar-benat seperti tukang pijit yang terus menggerayang kesana kemari. Al hasil, tentu saja berujung olah raga pagi di tempat tidur. Setelah sarapan, barulah mereka keluar untuk berjalan-jalan bersama dengan dua pasang sahabat mereka. Seperti yang Kevin katakan, sebelum makan siang ketiga pria itu sudah mengajak istri mereka kembali ke kamar. Marah? tentu saja marah, keluar dari kamar pukul sembilan tiga puluh, diminta untuk kembali pukul dua belas tiga puluh.


Tak mengunakan kendaraan, ketiga pasang suami istri itu berjalan kaki untuk menuju tempat istirahat mereka.


" Cih! ini liburan atau hukuman sih? " Gerutu Sherin.


" Iya, aku malah merasa kita begitu sial, padahal aku sudah menyiapkan banyak baju ganti. Tidak disangka, mereka malah memikirkan soal kamar terus menerus. " Ujar salah satu teman Sherin yang bernama Devi.


" Sudahlah, mau bagaimana lagi? kegiatan di kamar kan tida buruk juga. " Ujar Vanya.


Tentu saja Vanya mendapatkan acungan jempol dari suami dan juga kedua sahabatnya. Tapi tidak dengan Sherin dan Devi.


" Vanya, apa urat malu mu kendur? " Tanya Sherin kesal.


" Bukan kendur, tapi dia lahir tanpa punya saluran urat malu. " Sela Devi.


Vanya menanggapinya dengan sebuah cengiran, sementara Sherin dan Devi melirik kesal.


" Sayangku, janganlah terus marah-marah. Besok kita akan menghabiskan waktu sebanyak yang kau suka. " Kevin mengecup punggung tangan Sherin ya g sedari tadi ia genggam jemarinya.


" Promise? "


" Iya. " Kevin tersenyum menatap Sherin yang sudah mulai memudar kekesalan di wajahnya. Tapi saat pandanganya teralihkan kepada seorang laki-laki yang memakai pakaian serba hitam, mengenakan topi dan masker menuju ke arahnya, dia tahu kalau ada yang tidak beres.


" Sayangku, pipiku gatal sekali. Coba lihat ada apa! " Ucap Kevin untuk mengalihkan Sherin agar tak melibat pria itu. Kevin yang saat itu memakai kaca mata hitam tentu saja leluasa untuk mencuri pandang. Saat jaraknya dengan Sherin mulai dekat, pria itu mengeluarkan sebuah pisau lipat berwarna hitam. Sherin yang tak melihat ke arah pria itu begitu kaget saat Kevin meraih pinggangnya lalu memindahkan posisi tubuhnya dari sebelah kiri menjadi ke sisi kanan Kevin.


" Kevin! "


Bruk!


Pria itu jatuh tersungkur.


" Hati-hati saat kau berjalan! kalau kau sembarangan, aku bisa saja menjadi perantara malaikat maut untuk mu. " Kevin menatap tajam pria itu, dengan cermat dia mengamati sepasang bola mata dari pria tersebut. Pria itu bergegas bangun, dia berjalan cepat pada mulanya, lalu beberapa detik kemudian dia berlari menjauh dari Sherin dan Kevin.


" Kevin, kenapa kau galak sekali? dia pasti tidak sengaja. " Ujar Sherin.


Kevin tersenyum, dia mendorong pelan kening Sherin.


" Sayangku, dengan IQ yang kau miliki, kau tidak pantas berbicara seperti itu. "


Sherin terperangah kesal.


" Jangan lupa, aku masuk dalam jajaran Dokter muda terbaik. "


" Syukurlah, setidaknya IQ mu itu berada di garis rata-rata. " Kevin terkekeh lalu membawa Sherin untuk melajukan langkahnya. Tentu Sherin merasa tidak terima, dia masih saja mengoceh entah apa saja. Sementara Kevin, dia menoleh kebelakang dan memperhatikan pria yang tadi berniat buruk kepada Sherin.


Masih berani mengintai? benar-benar mencari mati.


Sesampainya di kamar mereka, Kevin mencari tempat yang berjarak dari Sherin agar bisa menghubungi seseorang. Sebentar dia memastikan kalau Sherin tidak ada di dekatnya, lalu menghubungi seseorang.


" Aku sedang di Maldives, ada orang yang stay disini? bagus! kirimkan senjata untukku segera! ok. "


Setelah memutuskan sambungan teleponnya, Kevin kembali mengingat sepasang mata yang ia lihat tadi. Jelas sekali kalau itu adalah seorang pria.


Sial! apa identitas ku bocor? dibanding nyawaku, tentu saja Sherin lebih penting. Benar-benar tidak bisa dibiarkan.


Kevin kembali meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang.


" Bantu aku untuk mencari tahu seseorang. Alamatnya akan aku kirim. Dia menggunakan pakaian hitam, masker dan topi. Aku melihat ada kamera pengawas disana, jadi telusuri saja. Dan, aku sudah menyelipkan GPS di sakunya. "


Sherin yang penasaran diam-diam mengikuti Kevin dari belakang.


" Cih! ternyata cuma seorang pengantar makanan. " Gumam Sherin saat melihat kalau yang diterima oleh Kevin adalah satu nampan makanan yang ditutup.


" Semuanya sudah lengkap, Tuan." Bos, maksudnya.


" Terimakasih. "


Setelah menerima nampan itu, Kevin menutup pintunya rapat, dan tak lupa menguncinya. Sherin sudah bersiap lagi karena dia pikir akan ada menu tambahan. Eh? tali ternyata Kevin membawanya kedalam kamar mandi.


" Kevin, kau mau makan sembari buang air besar? "


" Maaf sayangku, yang ini khusus untukku. "


Sherin memukul pintu kamar mandi karena kesal. Sialan! padahal dia sudah bersiap menantikan makanan tambahan, dan lagi, mana ada orang yang menikmati makanan sembari membuang limbah makanan?!


Sherin menatap sebal Kevin yang baru saja keluar dari kamar mandi. Kalau dilihat dari cara Kevin memegang nampan tadi, jelas sekali kalau isinya pasti sudah sangat bersih tak tersisa.


" Aku tidak menyangka, kau benar-benar menikmati makanan mu ya? " Sindir Sherin.


" Eh? "


" Apa rasanya begitu enak? "


Kevin menggaruk tengkuknya. Memang benar, Sherin tetaplah saja seorang perempuan yang polos meskipun setiap hari memegang pisau bedah.


" Sayang, yang tadi itu bukan makanan kok. "


" Bukan? " Sherin berjalan mendekat.


" Lalu apa? " Tanya Sherin dengan kening yang mengeryit penuh tanya.


" Sesuatu, tapi maaf sayangku, aku tidak bisa memberitahu mu. "


Sherin menatap kesal kevin.


" Kau sudah janji tidak akan main rahasia-rahasiaan denganku! "


Kevin menghela nafasnya. Iya memang benar sih, tapi coba deh dipikir-pikir, apa ada mafia yang begitu takut istri seperti ini? tapi kalau tidak jujur takutnya Sherin akan merajuk. Kasih tahu tidak ya?, batin Kevin.


" Kalau kau tidak mau meberitahu, aku akan membeli celana dalamm yang terbuat dari besi dan memiliki gembok. "


" Eh? "


" Bagaimana? " Tanya lagi Sherin. Padahal dia hanya takut kalau Kevin sedang memiliki hubungan rahasia dengan wanita lain.


Kevin mendesah pelan, dia membuka resleting jaketnya, lalu menunjukkan sebuah senjata api.


" Sayangku, aku tidak mau membuatmu takut. Tapi kau terus memaksaku, jadi- "


Belum juga selesai Kevin berbicara, Sherin sudah lebih dulu menyambar senjata api yang tersimpan di balik jaket Kevin.


" Wah, ini keren sekali. Aku akan mengambil ponselku dan mengambil beberapa gambar. "


TBC


Halo kesayangan, berhubung banyak yang minta Visual lewat chat, aku akan kasih visual di tiap judul novel di Instagram yang baru aku buat. @dewin6266


sabtu besok aki upload Visualnya ya....