Marry Me, Please

Marry Me, Please
Menghilangnya Berly



Sherin membuka pintu apartemennya yang terasa sangat sepi hari ini. Dia mengeryit bingung karena apartemennya terlihat sangat berantakan. Tadinya ia berpikir kalau Nathan dan Berly habis bermain, tapi sepertinya bukan juga itu alasannya.


" Be! " Panggil Sherin hingga beberapa kali. Tadinya dia ingin langsung masuk ke kamarnya Berly, tapi gadis kecil itu biasanya kan marah. Awalnya Sherin berpikir kalau adiknya sedang mandi, tapi setelah beberapa kali memanggil namanya, Berly sama sekali tidak keluar. Sudah lah, dia tida mau membuang waktu lagi karena dia memang sudah sangat cemas. Dia meraih handle pintu dan langsung membukanya. Betapa terkejutnya Sherin karena kamar Berly juga terlihat berantakan. Padahal Berly adalah gadis kecil yang cerewet dan tidak suka berantakan. Sherin berjalan cepat lalu membuka lemari pakaian Berly.


Bruk....!


Sherin menjatuhkan tubuhnya dengan posisi duduk karena merasa lemas. Ternyata seluruh baju Berly tidak ada, kopernya juga ikut menghilang. Sherin Perlahan-lahan mulai bangkit untuk mencari petunjuk siapa yang membawa adiknya pergi. Benar saja, Berly meninggalkan selembar kertas yang ia tulis. Meskipun masih acak-acakkan, tapi Sherin tahu itu memang tulisan Berly. Gadis galak itu memang pandai bicara, tapi dia masih belum rapih saat menulis.


Kakak, Ibu memaksa mu ikut. Ibu bilang, kakak akan akan menjemput ku saat kakak menikah nanti. Kakak, jaga diri baik-baik. Aku akan menunggu kakak. Jangan lupa titip salam untuk Nathan.


Sherin kembali menjatuhkan tubuhnya dan menangis. Lagi-laginulah Ibunya, dia sampai tidak bisa bernafas karena takut terjadi sesuatu dengan Berly. Sherin menghapus air matanya dan bangkit perlahan.


" Jadi Ibu menggunakan Berly untuk mengancam ku? " Sherin mengepalkan tangannya kuat. Bisa saja dia datang ke rumah Ibunya saat ini juga, tapi untuk apa? meskipun dia menyayangi Berly, Berly tetaplah anak kandungnya. Sebagai seorang Ibu, tentu dia akan melindungi Berly kan?


" Be, kakak akan datang menjemput mu. Tapi tunggu sebentar lagi ya? kaka akan berusaha keras mendapatkan suami. Setelah kakak menikah, kakak akan menjemput mu. Kakak tidak akan sudi menikah dengan laki-laki yamg dijodohkan Ibu. Ibu pasti, dia, dia pasti menjual ku kan? " Sherin kembali menangis. Sudah beetahun-tahun dia hidup sendiri dan berdiri dengan kakinya sendiri. Makan mengandalkan dirinya sendiri, tidur dengan caranya sendiri, menjadi seorang Dokter juga berkat usahanya sendiri. Lalu dimana hak seorang Ibu yang tidak pernah mengurus hidupnya untuk menjual nya?


" Ibu, kau dan suami mu sekarang pasti berkomplot kan? aku benar-benar tidak akan pernah sudi menikah dengan laki-laki itu. "


Sherin berjalan meninggalkan kamar Berly dengan langkah kaki yang gontai. Entah mengapa hari ini begitu sial baginya.


Sherin kembali ke kamarnya dan duduk di pinggiran tempat tidur. Entah dosa apa yang pernah ia lakukan sehingga Tuhan menghukum seperti ini. Tadinya dia pikir semua akan baik-baik saja selama dia hidup sendiri dan melakukan apapun sendiri. Tidak ada cinta atau pasangan hidup juga tidak masalah. Tapi semenjak adanya Berly dan juga Kevin, dia menjadi sosok yang sedikit berbeda. Dia mulai menghargai adanya seseorang yang hidup bersamanya. Dia mulai tahu bagaimana rasa cinta dan ketertarikan, dia tahu bagiamana rasanya bertanggung jawab karena memiliki seseorang yang menunggunya dirumah. Dan sekarang? Hilang! semuanya hilang secara bersamaan. Seolah datang seperti angin sejuk yang hanya sesaat lalu diterpa dengan angin panas dan berdebu.


" Lebih baik mencari suami yang biasa-biasa saja. Wajah biasa, harta sedang juga tidak masalah. Pokonya aku harus menikah. Tapi, tidak boleh dengan orang seperti Dokter Kevin. " Ucap Sherin. Tak lama kemudian, suara notifikasi dari aplikasi pencarian jodoh online itu berbunyi. Sherin membuka notifikasinya dan tersenyum .


" Ya ampun! dia lumayan tampan juga rupanya. Biarkan saja lah, mau dia kaya atau miskin, yang penting wajahnya cocok di bawa ke pesta. " Ujar Sherin lalu menekan tombol konfirmasi. Setelah beberapa saat, mereka akhirnya terhubung dan kini sudah bisa saling mengirim pesan secara pribadi. Tentu saja seperti pada umumnya, mereka akan menanyakan hal-hal kecil untuk saling mendekatkan diri satu sama lain. Lalu setelah itu, mereka akhirnya memutuskan untuk bertemu di salah satu kafe.


" Oh, ya ampun! dia mengajak ku bertemu besok? " Pipi Sherin merona bahagia hingga tanpa sadar dia memutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Maklum saja, ini adalah kali pertama baginya ingin bertemu pria, jadi dia agak sedikit over.


Sherin bangkit dari tempat tidurnya lalu berjalan mendekati lemari pakaiannya. Dia mulai memilah baju yang akan ia gunakan untuk besok malam. Satu persatu dress dari dalam lemari akhirnya tersusun di tempat tidur nya. Setelah memutuskan yang mana dress yang akan ia gunakan besok, sekarang tinggal memilih tas yang cocok dengan dress nya. Lanjut, akhirnya dia ke sepatu lalu ke perhiasan. Untunglah dia hanya memiliki tiga pasang anting-anting dan dua kalung saja. Jadi dia tidak membutuhkan waktu lama untuk memilih bagian yang itu.


Sherin menghela nafas lega. Dress, tas, sepatu, perhiasan, parfum, make up dan tatanan rambut sudah ia tentukan. Sekarang dia mulai merawat wajahnya. Dia memakai masker disekuruh wajah lalu berbaring. Tidak lupa, mentimun yang sudah ia potong tipis ia tempelkan di kedua matanya yang tertutup. Rasanya lagi-lagi dia ingin tersenyum. Tapi tahan, saat ini sedang menggunakan masker wajah. Tidak tahu sih besok akan bagaimana, tapi yang saat ini ia pikirkan adalah cepat menikah agar perjodohannya di batalkan.


***


Diluar apartemen Sherin, Kevin kini tengah berdiri sembari terus menghubungi Sherin. Satu, dua, tiga, hingga enam kali masih juga tidak terhubung. Kevin menghela nafasnya. Dia mencoba mengetuk pintu apartemen Sherin tapi juga tidak mendapat jawaban. Merasa sudah cukup lama berada disana, Kevin memutuskan untuk masuk ke apartemennya. Dia langsung menuju kamar mandi setelah sampai di kamarnya. Setelah beberapa saat, Kevin kembali menghubungi Sherin. Masih tidak di angkat, padahal entah sudah berapa puluh kali dia mencoba menghubunginya. Dia bahkan sampai tidak memperdulikan tubuhnya yang masih basah setelah mandi.


" Sherin, sebenarnya kau kemana? apa terjadi sesuatu padamu? apa kau marah karena tadi pagi? "


TBC