
Belum juga selesai Kevin berbicara, Sherin sudah lebih dulu menyambar senjata api yang tersimpan di balik jaket Kevin.
" Wah, ini keren sekali. Aku akan mengambil ponselku dan mengambil beberapa gambar. "
Kevin terperangah melihat betapa girangnya Sherin yang kini tengah memegang senjata api. Ngeri, Kevin hanya bisa menahan ngilu kalau kalau Sherin tidak sengaja menarik pelatuk senjata api itu.
Cekrek!
" Sayangku! " Kevin dengan cepat berjalan menghampiri Sherin, dia meraih ponselnya Sherin lalu menghapus gambar yang Sherin dapatkan tadi.
" Kenapa kau menghapus gambarnya?! " Sebal Sherin.
" Sayangku, maaf sekali ya? tapi negara kita tinggal, ataupun negara lain tidak melegalkan memiliki senjata api pada orang biasa seperti kita. "
" Biasa apanya? kau kan mafi- " Kevin membungkam mulut Sherin sebelum Sherin bisa melanjutkan kata-katanya yang berbahaya itu. Tentulah Sherin kesal, diabjuga memukul mukul tangan Kevin yang membungkam mulutnya.
" Sayangku, dengar. Di manapun dan kapanpun kita berada, tolong jangan membicarakan ini. Kalau identitasku bocor, bukan aku yang akan banyak mengalami bahaya, tapi kau juga. Jadi jangan menyebut itu lagi ya? "
Sherin terdiam sesaat. Iya, memang di salah satu novel dia pernah membaca kisah tentang mafia, banyaknya musuh, dan juga cara mereka membalas dendam memang sangat luar biasa sadis.
" Baiklah, maaf. "
Kevin tersenyum, dia mengambil senjata api dari tangan Sherin, lalu memasukkan kembali ke dalam jaketnya. Dia meraih pergelangan tangan Sherin, lalu membuat tubuhnya mendekat kepadanya. Dengan lembut Kevin memeluk tubuh Sherin.
" Sayangku, hari ini aku akan pergi untuk mengurus beberapa hal. Tunggu aku kembali ya? kalau kau kesepian, ganggu saja salah satu sahabatmu. "
Sherin mengurai pelukannya. Dia menatap Kevin penuh tanya.
" Apa yang mau di urus? aku ikut boleh tidak? "
Kevin menggeleng dengan bibir uang tersenyum. Dia menggerakkan tangannya untuk menangkup wajah Sherin.
" Sayangku, maaf sekali untuk yang satu ini. Besok baru kita pergi kemana kau mau, tapi malam ini aku harus membereskan kecoak yang mengganggu kita. "
Sherin mengeryit bingung. Di tatapnya kedua bola mata Kevin yang begitu tidak bisa ia baca. Kecoa? kecoa macam apa yang membutuhkan senjata api? apa kecoa nya sebesar mobil?
" Kevin, kenapa aku tiba-tiba merasa takut? " Ucap Sherin.
" Takut apa? "
Iya, bukan masalah membayangkan kecoa yang sebesar mobil, tapi dia teringat kembali dengan Kevin yang saat itu memiliki luka robek yang cukup parah di bagian lengannya setelah cuti beberapa hari dari rumah sakit. Bukan hanya di lengan saja, tapi dia bagian tubuh Kevin yang lain terdapat bekas peluru, ada juga bekas tusukkan benda tajam.
" Aku, " Sherin kembali menatap Kevin yang sedari tadi menatapnya menunggu Sherin menjawab pertanyaannya.
" Apa tidak bisa jangan pergi? "
Kevin tersenyum, lalu dia mengusap kepala Sherin lembut.
" Apa kau khawatir padaku? "
Sherin menundukkan pandangannya, sungguh dia sangat khawatir, tentu saja dia juga tidak mau menjadi janda secepat ini.
" Kalau aku bilang iya, apa kau akan kembali dengan selamat? "
Kevin terdiam sesaat. Dia meraih dagu Sherin, lalu membuat pandangan mereka saling bertemu.
" Kalau begitu, aku akan berusaha. Tapi, agar aku lebih semangat lagi, beri tahu aku bagaimana perasaan mu untukku sekarang? "
Sherin menjauhkan tangan Kevin dari dagunya.
" Baik! aku akan kembali secepatnya. "
Setelah menyepakati itu, Kevin mulai beranjak untuk pergi.
" Kembalilah dengan utuh, jangan biarkan tubuhmu terluka. " Ucap Sherin sebelum Kevin benar-benar meninggalkan kamar mereka. Kevin membalikkan tubuhnya, dia kembali berjalan mendekati Sherin dan mengecup bibirnya singkat.
" Aku akan segera kembali, sayangku. "
Sherin masih berdiri memandangi punggung Kevin yang menjauh dan semakin jauh hingga berakhir saat Kevin masuk kedalam lift. Sherin menutup pintu kamar hotelnya, dia duduk dipinggiran tempat tidur sembari memikirkan beberapa hal, terutama tentang Kevin. Dia mengingat kembali saat pertama kali bertemu dengan si Dokter mesum yang kini sudah menjadi suaminya itu. Waktu terus berjalan, hal kecil yang kadang menyenangkan, menyebalkan, semua terasa berbeda dari hari-hari yang Sherin lalui sebelumnya. Jujur, adanya Kevin memang seperti sebuah pelangi di dalam hidupnya.
Sherin menghela nafasnya. Sekarang yang ia ingat adalah bagaimana seorang Kevin berubah menjadi sosok suami yamg luar biasa. Memang pada awalnya Sherin tidak mau berharap banyak tentang suaminya itu, tapi setiap hari kevin selalu menunjukkan padanya bahwa Suami yang ia nikahi adalah pria yang bisa diandalkan.
***
Setelah mendapatkan kabar dari beberapa rekannya, Kevin memutar balik arah laju mobil yang ia minta untuk disiapkan oleh si pengirim senjata. Hampir satu jam, sekarang Kevin sampai di sebuah jalan yang jarang sekali ada kendaraan yang melintas, ditambah lagi di sisi kanan dan kiri adalah hutan.
" Dimana dia? " Tanya Kevin kepada salah satu rekannya.
" Kami tahan di sebelah sana. " Kevin mengikuti langkah kaki rekannya hingga sampailah dia disebuah rumah kecil yang hanya memiliki penerangan minim.
" Dia orangnya? " Tanya Kevin seraya berjalan mendekati seorang pria yang kini tak berdaya akibat beberapa pukulan yang diberikan oleh rekan Kevin.
" Apa dia salah satu anggota musuh kita? " Tanya Kevin kepada rekannya karena dia tidak mengerti bahasa daerah sana.
" Bukan, Bos. Dia adalah pekerja kebun yang dibayar untuk membunuh istri anda. "
Kevin menajamkan mata karena marah dan terkejut. Membunuh Sherin, kalau saja dia tidak cepat tanggap tadi, dia pasti sudah kehilangan istrinya.
" Kau sudah tanya siapa yang menyuruhnya untuk membunuh istriku? " Tanya Kevin.
" Dia bilang seorang wanita, tapi tidak dapat mengenali wajahnya karena memakai penutup wajah. "
Kevin mengeraskan rahangnya.
" Ambil ponselnya, retas, dan cari tahu petunjuk. "
" Sudah, Bos. Tapi kita membutuhkan waktu lagi. "
" Habisi dia, jangan biarkan siapapun hidup saat memiliki niat mencelakai istriku. " Titah Kevin.
" Bos, awalnya juga saya ingin melakukanya. Tapi lihatlah ke dalam rumahnya dulu. "
Kevin mengeryit bingung, tapi dibanding harus bertanya lagi, dia memilih untuk masuk kedalam rumah itu, tak lupa dia membenahi penutup wajahnya agar tidak ada cela bagi siapapun untuk mengenalinya. Dengan satu gerakan pintu yang terbuat dari kayu itu terbuka.
" Siapa dia? " Tanya Kevin saat mendapati seorang wanita tengah memeluk seorang balita. Tubuh wanita itu gemetar karena ketakutan.
" Dia istri dari pria yang berniat mencelakai istri anda. Dia menerima pekerjaan itu karena membutuhkan uang untuk anaknya yang sedang sakit parah. "
Kevin menghela nafasnya. Dia kembali mengingat cara pria itu saat akan mencelakai Sherin. Tangannya gemetaran, tatapannya tidak fokus, keringat juga begitu banyak membasahi bagian mata dan keningnya. Jelas sekali memang kalau dia sama sekali tidak pernah mencelakai orang sebelumya.
Kevin berjalan mendekat, dia memegang pergelangan tangan balita yang berada di dalam dekapan Ibunya.
" Katakan pada wanita ini untuk meletakkan anaknya di tempat tidur, nadinya sudah melemah, nafasnya juga, biarkan aku memeriksa dengan benar kondisinya. "
TBC