MAMI FOR US

MAMI FOR US
BERAPA KECEBONG YANG JADI BAYI



Semenjak masuk kelas 1 MA, Vika memang sudah di lamar oleh guru agamanya, beliau lulusan dari Cairo Mesir, dan juga seorang putra kyai besar di sekolahnya, selain tampan dan berwibawa, Gus Mirza memang seorang yang sangat kharismatik, alasan inilah yang membuat Vika memikirkan kembali lamaran guru Agamanya.


Namun di cerita ini Author anya ingin bercerita tentang perjaanan Nadia yang menjadi ibu sabung bagi Vania, Vika dan Zalfa.


Nadia yang melihat suaminya terdiam pun mulai mencairkan suasana yang sedikit mencekam, Vania yang sedikit mengetahui Cerita tentang Vika pun tidak berani bersuara.


"Papi, Seorang ayah pasti akan takut kehilangan putrinya, terutama ketika akan di bawa oleh suaminya, tapi, mami sarankan, Papi harus bisa merelakan dan mengikhlaskan, apabila kelak anak-anak kita akan menikah, tolong jangan kekang mereka, karena jodoh itu tidak bisa kita duga, siapa tahu dengan Vika menikah muda, membuat Vika lebih dewasa, dan kalaupun beliau sudah serius ingin meminang Vika, berarti sudah sanggup untuk menafkahi lahir dan batin untuk Vika. " Nadia memberikan sedikit saran kepada suaminya.


"Bukan Papi tidak setuju, Ma, tapi, Vika kan baru masuk MA, tentunya belum bisa merawat dan melayani suami dengan baik, Papi hanya takut nanti suaminya kecewa sama Vika." Zidan beralasan, namun Nadia sendiri faham dengan keinginan suaminya.


"Baiklah, kalau itu memang keputusan dari Papi, tapi alangkah baiknya Papi memberikan kesempatan pada beliau, siapa tahu Papi bisa berdiskusi dengan beliau." Saran Nadia memang ada benarnya batin Zidan.


Sebelum melanjutkan perkataanya, Zidan mendekati putri sulungnya, Vania, lalu memegang tangan putri cantiknya, dan seraya berkata, "Papi harap, anak Papi yang cantik ini tidak berkecil hati, kak Vania sangat cantik, namun mungkin Allah belum memberikan jodoh yang dekat pada kakak, jadi Papi harap, kakak bisa mengerti dan ikhlas, apabila Vika menikah terlebih dahulu." Zidan memberikan pengertian kepada Vania.


"Papi, kalau Vania pengen menikah, sudah ada kok yang mau mengajak Vania menikah, tapi Vania masih ingin belajar dan bekerja, sebagai anak pertama biar Vania sedikit membantu Papi di perusahaan, biar nanti ketika Fahad sudah bisa membantu Papi, Vania baru akan resigned dari perushaan Papi dan fokus pada kehidupan rumah tangga, InsyaAllah. " Ucap Vania meyakinkan sang Papi.


"Alhamdulillah, kamu sangat dewasa sekali nak, semoga kelak kamu memiliki suami yang sayang dan pengertian kepadamu." Doa Zidan kepada putri sulungnya.


Zidan sendiri merasa, bahwa Vania memiliki rasa trauma dalam berumah tangga, karena masalah yang di hadapi olehnya dan mantan istrinya, yaitu ibu kandung ketiga anaknya. Walau perasaan itu di tepis oleh Zidan, namun dilihat dari penuturan dan kata ikhlas dari Vania, Zidan memang merasakan ada kejanggalan di setiap penekanan kata dari Vania.


"Kakak, mami berharap, kakak selalu bahagia, dan lihatlah mami, jangan lihat yang lain, lihat Papi sekarang, bukan Papi yang dahulu, ambil sisi baik dari kehidupan kita, buang sisi buruk nya, dan jadikan sebagai pembelajaran, kakak pasti lebih tahu kemana arah Papi dan mami berbicara." Nadia membelai rambut panjang Vania.


"Vania mengerti, dan Vania juga bersyukur, memiliki Momy yang sangat pengertian kepada Vania." Vania memeluk Nadia, disusul Vika dan Zalfa, jangan di tanya kemana perginya si cantik Fahdah, gadis kecil berumur 6 tahun itu sudah tertidur pulas di pangkuan sang Papi.


Perbincangan sore itu terhenti kala suara adzan Asar berkumandang, mereka semua bergegas mengambil air wudlu, kecuali Nadia dn Fahdah yang sedang tertidur, biasanya gadis kecil yang cerewet itu yang paling depan saat solat berjamaah.


Setiap hari Senin sampai Kamis, anak-anak jarang makan siang di rumah, karena biasanya mereka pulang jam 4 sore, sehingga Nadia hanya menyiapkan makan siang untuk Fahad dan Fahdah saja, begitupun hari ini, di rumah bibi hanya menyiapkan cemilan untuk mereka berbincang di dalam kamar kedua orangtuanya.


Dua minggu kemudian, pembahasan Vika akan di lamar guru sekolahnya, sekaligus menjadi menantu Kyai terbesar di kota tersebut menjadi perbincangan di keluarga besar Zidan dan juga keluarga Besar pondok pesantren, Ayah angkat Nadia.


"Oh iya Pi, Papi beneran mengijinkan Vika menikah muda? soalnya, keluarga Pak Yai tidak main-main dalam berkata, kemungkinan mereka juga sudah memantau, dan, pastinya bukan karena wajah dan nasab, tentunya dengan meminta petunjuk dan ijin dari Allah." ungkap Nadia.


"Papi sudah memikirkan semuanya, semoga saja Vika bisa mengangkat derajat kita di hari kiamat nanti, dengan kita berteman dan berkumpul dengan orang sholeh dan berbakti kepada Allah dan Rosulnya, InsyaAllah kita akan mendapatkan syafaat Nya kelak di hari kiamat."


"Amiin, terimakasih sayang, sepertinya Vika akan menikah terlebih dahulu, semoga suaminya bisa menuntun Vika menjadi seorang istri yang baik dan bermanfaat di dunia da di hari kiamat nanti." Ucap Nadia penuh berhrap.


"Amiin "


Ngidam mual dan pusing yang Nadia rasakan di kehamilan kedua ini hanya bertahan satu bulan saja, bahkan bisa di bilang tidak terlalu menyulitkan, hanya saja Nadia merasakan kalau seluruh tubuhnya tidak berenergi, selalu mudah lelah dan cepat lapar, walau sudah makan satu piring, pasti selang 1 jam kemudian Nadia merasakan lapar kembali, membuat penasaran bagi Nadia sendiri juga seluruh ART di rumah, kerena Nadia selalu meminta cemilan dan makan kembali.


Malam harinya, setelah pulang kerja, Zidan menghampiri Nadia yang sedang makan cemilan yang di inginkan olehnya, "Sayang... Papi dengar dari mbo Jam, hari ini mami sudah makan lebih dari lima kali, apakah benar itu?" Tanya Zidan penuh hati-hati, takut mood ibu hamil berubah bila tersinggung.


"Bener banget Pi, Mami juga heran sendiri, kenapa bisa cepet lapar ya?"Nadia menatap heran pada suaminya.


"Mungkin dedek bayinya kembar lagi Mi, tapi perasaan kehamilan si kembar kemarin tida separah ini deh, bahkan mami lebih sering mual dan muntah, nah ini ngidamnya cuma sebulan juga tidak ada, Papi jadi penasaran, ada berapa kecebong Papi yang berhasil jadi bayi di sini." Zidan mengusap perut Nadia yang sedikit membuncit walau masih berumur 9 minggu itu.


"Papi bisa ae, bersyukur kalau kembar lagi Pi, tapi mami rasa perut mami lebih buncit dari kehmilan si kembar kemarin Pi, lihat deh, masak dua bulan sudah segede ini, jangan jangan anak kita kembar tiga atau empat, hehehe..."goda Nadia pada suaminya.


"Ngawur kamu mi.....