MAMI FOR US

MAMI FOR US
WE LOVE YOU PAPI



Zidan membiarkan Vania untuk sendiri, untuk melepaskan semua beban pikiran yang ada.


Hari ini Zidan tidak masuk ke kantor, dengan masalah putri sulungnya yang meninggalkan rumah, membuat dirinya merasa tidak sanggup pergi jauh dari mereka.


Setelah makan siang, di ruang kerja Zidan, Zidan mencoba berdiskusi dengan ketiga putrinya, karena sudah menjadi rutinitas mereka, membahas masalah dengan tuntas, sebelum meninggalkan ruangan tersebut.


"Vania, ada sesuatu yang ingin kakak sampai kan ke Papa? dan Papa mohon, jangan berbohong, karena papa tidak suka dengan anak yang berbohong.


"Pa... Nia pengen bunda madia menjadi mama buat kami, Vania sangat nyaman dipeluk bunda saat tidur, bahkan bunda selalu membelai punggung Vania sat tidur." Ucap Vania pada sang Papa.


"Vika nggak setuju pa."Jawab vila pada Papa dan Kakak nya Vania.


"Zalfa juga tidak mau, Zalfa maunya mama tetap menjadi mama." tutur Zalfa menolak memiliki mam selain mamanya.


" Kenapa kalian masih mengharapkan mama, mama sudah tidak mau melihat kita, bahkan mama tidak mau melihat kakak." Ucap Vania sambil menangis dan jatuh terduduk.


"Kenapa kakak mengatakan itu, bukankah mama sangat mencintai kita, kakak pasti bohong." Sanggah Vika.


"Iya, mama sangat menyayangi kita." Imbuh Zalfa.


" Mama tidak ingin melihat kita, bahkan mama tak mau tahu tentang kita, karena semalam kakak menemui mama, dan dipan suami mama, mama memukul kakak, bahkan suami mama mendorong kakak, kakak salah, ternyata apa yang papa katakan, semuanya benar, pa... kenapa mama sangat membenci kita, apa salah kita pa, bahkan mama mengusir aku pa, Nia sakit hati pa, saat kakak terpuruk, bunda yang hanya orang asing membawa kakak kedalam pelukannya." Vania menangis dan memeluk Papa nya.


" Sedangkan mamaku sendiri membuangku dan mengusir ku, perasaan nyaman dan hangat dalam dekapan bunda, tak pernah Vania dapatkan dari mama pa, Vania sayang sama bunda, Vania ingin bunda menjadi mama Vania pa." dalam tangisnya Vania selalu mengatakan ingin bunda menjadi mamanya.


Mendengar penuturan sang kakak,kedua adik ya pun menangis, dan ikut memeluk bersama sama. Zidan sendiri membayangkan betapa hancurnya perasaan putri sulungnya, yang mendapat penghinaan dari ibu kandungnya sendiri.


Dengan tekad yang bulat, Zidan memutuskan untuk meminang Nadia menjadi mama bagi ketiga putrinya. Walau belum ada cinta di hatinya,namun perlahan dia akan membuka pintu hatinya, demi ketiga putrinya.


"Sekarang Papa mau tanya,apakah Vika Sam Zalfa mau menerima bila bunda Nadia menjadi mama kalian?" Tanya Zidan kepada kedua putrinya.


"Ya sudah, nanti malam kita membeli cincin buat mami, sekarang kalian panggil nya mamidan papi, oke sayang? besok malam kita melamar mami, dan kalian bertiga yang akan memilih kan untuk mami, Bagaimana menurut kalian?" tanya Zidan pada ketiga putrinya.


"Oke papi... we love you papi." Jawab ketiga putrinya untuk sang papi.


Zidan pun berencana untuk membeli rumah baru, setelah melamar Nadia, Zidan tak ingin Nadia masuk ke dalam rumah yang penuh dengan masa kelam bagi mereka.


Zidan ingin kehidupan rumah tangganya yang baru, akan berada di rumah yang baru juga. setelah mengantar ketiga anaknya untuk tidur siang, Zidan menelpon Nadia.


Tut


Tut


Tut


Nadia yang mendengar suara telepon berdering pun bergegas menekan tombol hijau dan berbicara sembari tiduran, karena matany enggan untuk terbuka.


"Hallo... Assalamualaikum...


"Waalaikum salam, maaf Nadia, mengganggu istirahat Anda, terima kasih sudah menolong anak saya,dan menjadi sandaran disaat harinya sedang tersakiti." ucap Zidan.


"Tidak apa-apa pak, kebetulan juga Umi mengajak saya ke Mall." jawab Nadia.


"Nadia, saya sedikit ingin menceritakan kisah kehidupan saya dan ketiga putri ku, tapi kalau kamu masih mau istirahat, gak apa-apa, lain kali saja." Tutur Zidan, yang merasa tidak enak mengganggu tidur siang Nadia.


"Eh... nggak apa-apa kok pak, kebetulan sebentar lagi juga mau asar, jadi sekalian nunggu asar." jawab Nadia.


"Ceritanya panjang, apa kamu siap mendengar nya?" tanya Zidan pada Nadia.