MAMI FOR US

MAMI FOR US
MAMI FOR US



Lagi main sama Barbie Pi, Papi tumben banget pagi-pagi sudah kesini, biasanya lagi ngejahilin Mami, biar Mami marah-marah dan cemberut." ledek Zalfa pada sang Papi.


"Zalfa tahu banget si kalau Papi suka banget jahilin Mami?"


"Tahulah, biasanya Mami ngadu pada kami bertiga Pi" jawab Vania.


"Terus kalian jawab apa ke Mami?" tanya Zidan dengan penasaran.


" Hahahaha... kamu tertawa saja Pi, karena memang mami semenjak hamil jadi mood nya berubah-ubah." terang Vania.


"Waaah... kakak tahu, kalau wanita hamil mood nya sering berubah-ubah. Kakak ia the best deh."puji Zidan pada putri sulungnya.


"Terus kak Vika sama Zalfa gak the best ni Pi?" tutur Zalfa dengan cemberut.


"Tentunya kalian bertiga ia the best for Papi."


"Thank you Papi... " ucap kedua putri Zidan.


" Oh ya, Mami ngajak kalian jalan-jalan ke Mall, Ayuk bersiap-siap." ucap Zidan pada mereka.


"Vania gak ikut Pi, ada tugas dari sekolah." ucap Vania beralasan.


"Papi nggak ingin Mami kecewa Vania, jadi ikutlah."


bujuk Zidan pada Vania.


"Kakak jangan khawatir, ada kami, ada papi juga Mami yang akan membela kakak, jangan takut ya, biar nanti nenek lampir itu aku yang marahi balik, dan pukul laki-laki yang jahat sama kakak." tutur Zalfa berceloteh.


Semua yang mendengar pun sontak tertawa, gadis kecil yang masih manja dan sering menangis itu berbicara layaknya orang tua.


"Hai sayang... jangan pernah berkata seperti itu, kalau Mami mendengar, dia akan marah, karena Mami tidak seperti itu, lihatlah Mami, yang selalu menyayangi kalian, walau bukan anak kandungnya, jangan bilang Vania merasa Mami akan berubah ketika baby twin sudah lahir?" tanya Zidan pada Vania.


"Ha... Papi kenapa ngomong seperti itu?" Jawab Vania pada Papi nya.


" Sayang... jangan berpikir seperti itu, Mami sudah di takdirkan oleh Allah untuk kita, jadi jangan pernah melawan takdir Allah." ucap Zidan.


"Kakak... Allah sudah menakdirkan Mami menjadi MAMI FOR US, Oke... jadi seharusnya kalian bahagia, memiliki Mami yang menyayangi dan mencintai kalian seperti anak sendiri, dan tidak membeda-bedakan kalian." ucap Zidan.


Dari balik pintu ruang tengah anak-anak, telah berdiri Nadia yang sudah mendengar percakapan antar Vania dan Zidan suaminya.


Nadia menangis, melihat betapa besar pemikiran putri sulungnya, merasa bersalah dengan membawa dirinya masuk kedalam keluarga Zidan, bahkan Vania yang berpikir lebih dewasa dari anak seumur nya, membuat Nadia merasa gagal dan bersalah, mungkinkah kedatangan dirinya belum bisa membuat ketiga anaknya bahagia, atau bahkan merasa kekurangan kasih sayang dari Papi nya.


Nadia berdiri mematung, mendengar semuanya, rasa bersalah dan tidak enak hati, kemungkinan besar Vania masih sangat mencintai ibu kandungnya, hal itulah yang Nadia lewatkan, tak pernah bertanya, apakah mereka ingin bertemu dengan sang Mama kandung mereka.


Vania yang merasa bersalah pun ingin meminta maaf pada sang Mami, dan Vania sangat terkejut, ketika dia membuka pintu, Vania mendapati sang Mami berada di depan pintu dengan air mata yang membasahi pipinya, sungguh Vania merasa bersalah, harus membuat sang Mami yang menyayangi mereka dengan tulus, harus terluka, karena perkataan nya.


"Mami... kenapa tidak masuk? sini... duduk di dalam sama Papi, sini Mami..." Vania menggandeng tangan sang Mami yang masih diam terpaku.


Zidan yang melihat Nadia sedikit kacau pun akhirnya mengerti, bahwa semua yang mereka berdua katakan pasti sudah di dengar oleh Nadia langsung.


Zidan mengajak istrinya duduk di sebelahnya, di pegang nyata tangan Nadia, di ciumnya berkali-kali.


Vania yang merasa bersalah pun duduk di samping sang Mami, yang masih memandang Vania dengan wajah sayunya.


"Mami... terima kasih sudah menyayangi kami sepenuh hati, dan terima kasih sudah mengorbankan perasaan Mami untuk kami, maaf bila selama ini kami selalu membuat mami marah dan terluka, dari dalam lubuk hati yang paling dalam, Vania meminta maaf, telah membawa Mami dalam permasalahan keluarga kami, Vania minta maaf, karena Vania mami menjadi seorang istri duda tampan yang menyebalkan." ucap Vania dengan cemberut.


"Terima kasih sudah membuat Papi kami berubah lebih hangat, dan lebih baik, tidak cuek lagi, lebih perhatian, dan lebih protektif terhadap kami." Tutur Vania dengan sir mata yang sudah menetes.