
Nadia yang melihat pun tertawa, dan tersenyum getir, dalam hatinya, apakah ini yang dirasakan mamanya anak-anak, sehingga rela meninggalkan anak-anaknya demi kepuasan dirinya.
Dengan ragu Nadia menanyakan hal ini pada Rain.
"Rain... apa penyebab perceraian mas Zidan dan mamanya anak-anak juga di sebabkan masalah seperti ini?" tanya Nadia dengan suara lirih.
"Bisa di bilang iya, bisa juga tidak, karena mereka menikah hanya atas dasar perjodohan, dan hadirnya anak-anak karena desakan dari orang tua Selly sendiri, yang menginginkan cucu laki-laki."ucap Rain.
"Kenapa bisa begitu? bukankah anak itu titipan Allah? gak bisa kita memintanya."tutur Nadia pada Rain.
"Ya begitulah, karena anak kak Zidan semua perempuan, jadi keluarga kak Selly tidak pernah menganggap cucu mereka ada, apa kakak pernah dengar, anak-anak bercerita tentang Oma dan Opanya dari mamanya?" tanya Rain pada kakak iparnya.
" Iya ya, aku tak pernah dengar, segitu kah mereka tak menganggap cucu-cucunya, karena mereka perempuan?" tanya Nadia pada Rain.
"Iya kak, bahkan Selly terancam tidak mendapatkan hak waris, kalau belum memiliki anak laki-laki." terang Rain.
"Huh... mereka belum pernah merasakan kehilangan keluarga, jadi masih saja membedakan anak laki-laki dengan anak perempuan."ucap Nadia dengan kesal.
"Seperti keluarga kami, kakak dan adik kami, sampai sekarang belum punya anak, jadi ketika Vania, Vika, dan Zalfa datang, mereka akan sangat senang, bahkan kakakku yang selalu bertanya tentang mereka, kebahagiaan keluarga memang anak, tapi keluarga kami pun tidak terlalu memikirkan Semuanya, toh kalau Allah belum memberikan amanah, apa yang bisa kita perbuat, betul tidak kak?" ungkap Maria pada Nadia.
" Iya... bersyukur itu yang paling utama." ucap Nadia penuh semangat.
"Kalau kakak mau langsung hamil atau di tunda dulu?" tanya Rain pada kakak iparnya.
"Sedikasih Allah saja, kita gak bisa menolak, dan Kaka juga gak mau mencegah, kalau Allah sudah memberikan, siap gak siap harus siap, ya nggak Maria?" tanya Nadia pada Maria.
Makan siang dengan keluarga sungguh mengasyikkan, kebersamaan Nadia dengan ketiga putrinya, mengurangi rasa marahnya pada Zidan.
Sesampainya mereka di apartemen Rain yang ada di kawasan Jakarta pusat, Nadia dan ketiga putrinya masuk ke kamar yang telah di tempati ketiga putrinya.
Sore harinya, Nadia melihat ruangan apartemen adik iparnya, terlihat seluruh ruangan yang sangat tertata rapi. Nadia kembali masuk ke kamar mereka, seluruh kamar terlihat bersih, bahkan seluruh pakaian anak-anak nya sangat tertata rapi, Nadia memandang ketiga putrinya yang sedang tertidur.
Nadia yang melamunkan nasib ketiga putrinya yang tidak di anggap oleh keluarga dari mamanya.
Apakah salah jika Nadia sangat menyayangi mereka, bahkan lebih dari suaminya. Akhirnya Nadia menemukan alasan bagi dirinya untuk setia di samping suaminya Zidan. Ya... alasan Nadia adalah ketiga putrinya yang sangat dia cintai.
Sebenarnya Nadia sangat merindukan sang suami, entah mengapa kebersamaan nya dengan Zidan beberapa hari ini, membuat Nadia sangat merindukan sentuhan-sentuhan lembut dari suaminya, tidak di pungkiri Nadia sudah sangat kecanduan, bahkan sedih, keputusan nya berpisah dari suaminya, dengan alasan kengen dengan anak-anak, tak membuat Zidan faham akan kode Nadia.
Bahkan parahnya Zidan tidak memberikan kabar ataupun menanyakan kabar Nadia, sehingga membuat Nadia uring-uringan, sendiri.
Vania yang sudah terbangun dari tidurnya, menghampiri sang mami yang sedang melamun di pinggir jendela.
" Mami kenapa? jangan melamun, nanti kesambet setan lo, Vania gak punya mami lagi nanti." goda Vania pada sang mami.
"Nggak melamun kok sayang, bisa bisanya papi kamu gak menelpon kita, bahkan gak memberi kabar, atau sekedar menanyakan kabar gitu kek, kan mami jadi kesal."
"Mami yang sabar ya, pasti papi belum terbiasa dengan keberadaan mami, karena papi sudah terbiasa sendiri, kalau kemana-mana, nanti Vania yang akan bicara sama papi." bujuk Vania pada sang mami.
Sedangkan Rain yang berada di luar kamar, sempat mendengar ungkapan hati istri kakaknya, membuat rain sedikit memiliki perasaan bersalah, karena seharusnya mereka berbulan madu, namun rain yang merasa istrinya sering sakit-sakitan, akhirnya dengan terpaksa menyuruh sang kakak untuk menyelesaikan pekerjaan yang seharusnya Rain kerjakan.