
Zidan membalik tubuh Nadia, di belainya pipi Nadia, jari jemari Zidan menari nari di wajah Nadia, terlihat deru nafas berat Nadia semakin berat, di pegang nya tangan Zidan yang sangat jahil, Nadia membuka matanya, pandangan matanya semakin sayu, terlihat wajah Nadia sudah memerah, di bawanya tangan Zidan di dadanya, agar Zidan merasakan debaran dada yang saat ini Nadia rasakan.
Perlahan Zidan pun mendekat dan mengikis jarak di antara mereka, Nadia semakin gelisah, tak mampu menatap Zidan dengan lama, semakin mendekat Nadia semakin menunduk, Nadia yang sudah mulai terbakar oleh permainan Zidan pun sudah tak tahu harus bagaimana, perlahan Zidan mencium kedua mata Nadia, lalu turun ke pipi, dan setwlah itu bibir Nadia, namun hanya ciuman singkat.
Zidan mulai memeluk Nadia, dengan erat, Zidan tahu Nadia belum pernah melakukan seperti ini, sehingga dengan perlahan lahan Zidan akan mengajak Nadia untuk meminta lebih.
Zidan menyibak rambut Nadia yang panjang kebelakang telinganya, terlihat di sana, kulit putih Nadia yang selalu tertutup oleh kerudung, diciumnya leher putih Nadia, di bisikkan nya di telinga Nadia, kata kata cinta, yang selalu Nadia dengar setiap hari dan setiap saat.
"Nadia... aku mencintaimu, sungguh aku sangat mencintaimu, maukah kamu menemaniku sampai tutup mataku?" Nadia hanya bisa mengangguk.
Zidan melepas kan pelukannya, di lihatnya Nadia hanya bisa tersenyum.
"Mas aku ke kamar mandi sebentar, hanya sebentar oke." Nadia pun bangkit berjalan ke kamar mandi.
"Jangan lama-lama sayang, aku sudah nanggung."
Zidan berbicara dengan suara yang sudah berhasrat.
"Iya... hanya sebentar saja kok, nggak akan lama."
Nadia berlari masuk ke kamar mandi.
Nadia membuka gamis yang di pakainya ternyata Nadia sudah memakai lingerie yang Zidan belikan saat seserahan pernikahan. Dengan malu Nadia menatap dirinya di depan cermin di kamar mandinya, perlahan Nadia berjalan keluar kamar mandi.
Nadia menengok ke dalam kamar, di lihatnya Zidan sedang bermain handphone milik Nadia Nadia berdehem, menarik perhatian Zidan. Sontak Zidan pun menoleh ke pintu kamar mandi.
Zidan tersenyum, karena hanya ada satu kaki Nadia yang terlihat, lalu sebelah tangan Nadia, dan Sekarang sebelah badan Nadia terlihat, yang membuat Zidan terbelalak, untuk pertama kalinya, Zidan melihat tubuh seksi istrinya, dengan di bungkus lingerie warna merah yang dulu ia berikan.
Zidan yang sudah tidak kuat pun langsung berdiri dan ingin menghampiri Nadia, namun Nadia melarangnya.
"Stop... jangan mendekat, niali dulu penampilan Nadia, lebih indah mana tubuh Nadia dari tubuh kak Selly?" tanya Nadia pada Zidan.
Zidan tersadar, ternyata di dalam hati seorang Nadia yang polos dan baik juga memiliki rasa kecemburuan yang tinggi, bahkan lebih mengerikan dari Selly. Perlahan Zidan yang sudah berhasrat pun menjawab.
"Kalau sama Nadia? apa mas juga merasakan detak jantung seperti Nadia saat ini?" ucap Nadia mendekati Zidan,dan mengambil tangannya ditempelkan nya di jantungnya.
"Dengar lah jantung mas sayang..." Damar memeluk Nadia dan mengarahkan telinganya di jantungnya.
"Kamu tahu, mas belum pernah merasakan jatuh cinta, dan berdebar-debar seperti ini, mas baru merasakan saat bertemu dengan kamu, bahkan dulu saat bersama dengan mamanya anak-anak, mas nggak pernah merasakan cemburu, hanya karena anak-anak saja kami bertahan." Zidan memandang wajah Nadia, ditatapnya wajah cantik Nadia yang sangat menggemaskan.
Perlahan Zidan mencium bibir Nadia, yang membuat mata Nadia membulat karena tak ada persiapan. Jantung Nadia seakan melompat dari tubuhnya, perlahan Nadia merasakan kehangatan dan membalas setiap apa yang dilakukan suaminya.
Masalah ciuman memang sudah tak asing bagi Nadia, karena semenjak pernikahan mereka, Zidan tak pernah absen untuk mencumbu istrinya, di belakang anak-anak.
Zidan yang sudah tak dapat menahan gejolaknya, membawa Nadia naik ke atas ranjang besar mereka.
Perlahan Zidan melepas lingerie yang dipakai Nadia, bahkan penutup gunung kembar pun sudah terbang entah kemana, segitiga Bermuda sudah hilang dari tempatnya.
Sungguh Nadia merasakan perasaan yang sama sekali tidak pernah dia bayangkan sebelumnya, memang benar kata sahabat Nadia, duda lebih hot dari bujang, bahkan Zidan tahu bagaimana membuat Nadia mengalami pelepasan berkali-kali sebelum rudal milik Zidan meluncur. Zidan sangat pandai memuaskan Nadia, bahkan Nadia sudah tak sanggup untuk tidak mendesah berkali kali.
Setelah 3 kali Nadia mengalami pelepasan, Zidan sudah membuat Nadia terangsang kembali, saking mahirnya belaian lembut dari Zidan, dengan secepat kilat Nadia mengalami pelepasan kembali.
Kini saatnya Zidan ingin meluncurkan rudalnya yang sudah puasa bertahun-tahun.
"Sayang... aku akan melakukan dengan pelan-pelan, bersiaplah, tapi setelah itu kamu pasti ketagihan deh, jangan malu ya kalau masih pengen, aku tidak akan menolak, bener deh, asal kamu mau kapanpun akan aku layani, aku siap 24jam." ucap Zidan sembari membelai rambut Nadia, Nadia yang mendengar pun mengangguk dan tersenyum bahagia.
Zidan mengarahkan rudal nya, sembari meremas gundukan bukit kembar Nadia, Nadia yang sudah kepanasan, kembali melenguh dan mendesah.
Zidan sangat paham saat rudal akan meluncur, Zidan membungkam bibir istrinya dengan bibir nya, sehingga tak terdengar Nadia meringis dan kesakitan, saat rudal sudah sampai dasar lembah, Zidan membiarkan rudalnya merasakan kelembaban lembah yang sangat sempit itu, Nadia hanya bisa merasakan perih dan mengganjal, namun saat itu juga Nadia merasakan perasaan yang tak terduga, nikmat dan seperti terbang melayang, bahkan lebih nikmat dari pelepasan sebelumnya.
Sungguh Zidan yang berpengalaman, dia menunda pergerakannya, agar lembah yang baru kedatangan rudal menerimanya dengan perlahan-lahan. Setelah dirasa lembah menerima rudalnya, Zidan melanjutkan aktivitasnya, Nadia sudah meracau tak karuan, dia sudah tak mampu berkata-kata lagi, beginilah nikmat dunia, yang membuat manusia melupakan beban dan masalah mereka hanya untuk sesaat.
Zidan benar-benar melakukan dengan perlahan-lahan, tak ingin membuat Nadia kelelahan, Setelah dia sudah sadar merasakan pelepasan yang pertama, Zidan menyudahi permainan nya bersama Nadia.
Zidan beranggapan, sekali saja sudah membuat dirinya mabuk kepayang, ingin rasanya Zidan menghabiskan malam ini dengan bercinta, namun Zidan tak ingin egois, masih ada hari esok, dan selama dirinya masih bernafas, dia masih bisa melakukannya berulang kali, sehingga Zidan memutuskan, hanya sekali saja malam ini.