
Kebahagiaan sangat terlihat di keluarga besar Zidan, setelah mendengar kehamilan Nadia yang kedua.
Sebenarnya Nadia sudah tidak ingin memiliki anak lagi, karena anak-anak perempuan sudah menginjak dewasa, bahkan Vania sudah kuliah semester pertama tahun ini, sedangkan vika sudah SMA, bahkan Zalfa SMP, namun Allah memberikan kebahagiaan bagi Nadia, dan impian zidan yang ingin memiliki anak banyak, sekarang terwujud dengan diberi nya amanah dan tanggung jawab yang lebih dengan kehadiran baby dalam kehidupananya.
Vania yang mendengar sang Momy hamil kembali merasa sedikit marah, karena dengan kehadiran si kembar saja sudah membuat dirinya lebih extra hati-hati dalam berbicara, menjaga etika dan perilaku, karena adik kembar mereka sangat pandai, bahkan lebih cepat mencerna setiap perkataan, sehingga semua yang ada di lingkungqn rumahnya benar-benar harus berbicara baik dan bermanfaat.
Nadia yang melihat gelagat putrinya merengut pun tersenyum.
"Kakak kenapa? tumben manyun begitu." tanya Nadia sembari merentangkan kedua tangannya, untuk memeluk putri kesayangan.
"Mom... kenapa momy hamil lagi? kan Kakak sudah kuliah, malu mom, kalau teman-teman datang mereka tahu kalau Vania masih punya adek bayi." jawab Vania sembari memeluk sang Momy.
"Kakak harusnya bersyukur, Momy masih di beri amanah dari Allah, coba kakak lihat diluaran sana, masih banyak orang berusaha mengadopsi bahkan merencanakan bayi tabung untuk memiliki anak, lagi pula, Kakak sudah remaja dan sebentar lagi pasti menikah, Momy sama papi nggak kesepian kalau di tinggal kalian, masih ada si kembar sama adeknya." Nadia membelai rabut putri tercinta.
"Maaf Momy, kakak egois, tapi kakak berjanji, tidak akan sedih lagi, karena Momy selalu menyayangi kakak, dan tidak pernah berubah sampai sekarang."
ucap Vania. Tanpa di sadari keduanya, si gemas Fahad datang dan menyela perkataan mereka berdua.
"Kalian sedang membicarakan apa? kok seriaus baget? Kak Vania Nangis di putusin pacarnya ya Momy?" Sontak pertanyaan adek kembar nya itu membuat Vania melotot.
"Siapa yang pacaran? kakak gak pernah pacaran sayang nya kakak Vania"Vania mencubit hidung Fahad dengan gemas.
"Auuu... sakit kak, nanti hidung abang yang mancung bisa copot kalau di cubit." Ucap Fahad mengaduh.
Sontak gaya bicara Fahad yang sok dewasa membuat sang Momy dan kakaknya tertawa lepas, bahkan Vania tak mampu menahan air mata karena tertawa.
"Nah... gitu kan enak di lihat, jangan ada tangis menangis, repot amat jadi orang dewasa, apalagi cewek." Fahad menepuk jidatnya.
"Sayang... kok pinter sekali ngomong nya, Momy jadi gak pengen kakak cepet gede." Nadia yang gemas pun memeluk anak laki-laki satu-satunya.
"Momy... abang... abang... bukan kakak, nggak mau ya, abang di panggil kakak, masak di samain sama kakak-kakak cewek, abang... pokoknya abang, titik." Dengan wajah marah Fahad berjalan meninggalkan dua wanita yang paling dia sayangi.
Nadia dan Vania menggelengkan kepalanya bersamaan. "Mom, mirip siapa ya, kok Fahad sangar seperti itu?" tanya Vania.
"Hah... Dia mirip banget sama mendiang kakeknya Vania, Ayah Momy seperti itu, bahkan beliau sulit mengekspresikan perasaan beliau, jadi Momy paham betul menghadapi sikap adikmu. " terang Nadia.
"Pantes... Momy santai banget melihat Fahad yang pinter menjawab dan pelit bicara, namun sekali ngomong bikin sakit hati. " kekeh Vania pada sang Momy.
"Kamu bisa aja merhatiin adik kamu sayang." seloroh Nadia pada putri sulungnya.
" Apa sayangnya Momy, kalau mau curhat tolong kunci pintu dulu ya, biar adik-adik kamu gak keluar masuk." perintah Nadia yang di jawab dengan anggukan oleh Vania, lalu berlari kecil menutup dan menguncinya dari dalam.
" Kakak mau sharing apa?"tanya Nadia sembari menepuk kasur disebelah nya. Vania faham bahwa sang Momy menginginkan dirinya duduk di sebelahnya.
"Mom... kalau Vania berhijab bagaimana ?" tanya Vania.
"Kakak... papi dan Momy tidak menyuruh kakak untuk berhijab karena tidak ingin kakak terpaksa, tapi... kalau kakak berhijab dengan suka rela dan dari hati kakak papi sama Momy akan sangat bahagia, karena dosa papi dan Momy berkurang." Terang Nadia pada Vania.
"Tanyakan lagi pada hati kecil kakak, apakah kakak sudah siap berhijab dan sudah mantap, karena Momy tak ingin kakak buka tutup hijab lo, makanya Momy ingin kakak benar-benar memanatapkan hati dalam mengambil sebuah keputusan besar, seperti dulu kakak pakai hijab tidak lama, lalu kembali di buka lagi." Nadia tidak ingin Vania terbebani dalam berhijab, namun dihati kecilnya dia sagat senang putri sulungnya sudah kembali memiliki niat untuk berhijab.
"Momy... sebenarnya hari ini Vania memiliki pengalaman pahit, dan itu membuka mata Vania untuk berhijb." terang Vania.
"Maksudnya?" Mata Nadia menatap pada Nadia penuh selidik.
"Ceritanya di kampus tadi pagi saat di kantin Mom. "Vania menceritakan tragedi yang menyebabkan keputusan dirinya untuk berhijab.
Flash back on
Pagi tadi Vania berangkat ke kampus pukul 8 pagi, padahal kuliahnya akan di mulai besok pagi, namun karena ada pertemuan dengan beberapa temanya yang akan membahas tentang SKS di semester pertama ini, Vania berangkat menjadi mahasiswi baru setelah mengikuti acara penerimaan mahasiswa baru beberapa hari yang lalu.
Nadia duduk di kantin sembari berbalas chat dengan beberapa teman baruhya dan seorang teman lamanya semenjak SMP dulu.
Dari kejauhan, Vania melihat seorang mahasiswi yang berpakaian seksi duduk di temani oleh tiga orag laki-laki. Dari situ Vania bisa melihat betapa gadis cantik yang sedang bercanda tersebut tidak canggung dan biasa saja ketika salah seorang dari laki-laki yang duduk bersamanya meraba bahkan memegang dua gunung kembarnya, seorang lagi membelai p aha mulus gadis tersebut. Vania melotot, dia merasa, bahwa betapa murahan gadis tersebut, yang tidak mampu menjaga kehormatan dan martabatnya sebagai seorang gadis, apalagi seorang mahasiswi.
Vania menangis dalam hati, melihat kejadian tersebut membuat tekad nya bulat untuk berhijab dan menutup semua aurot yang ada di tubuhnya, dia tak mampu membayangkan kekecewaan yang akan di rasakan oleh kedua orangtuanya. Dari situ Vania mantap untuk berhijab.
Flash back off
Nadia mendengar semua yang Vania ceritakan, menjadi seorang ibu bainseorang gadis harus benar-benar menjadi sahabat, teman bahkan kakak bagi mereka, Nadia pun bersyukur, Vania selalu bercerita apapun yang terjadi dalam kesehariannya.
"Momy... apakah keputusan Vania benar?" selidiknya sembari memperhatikan mimik muka sang Momy.
"Hah..." Nadia menarik nafas, dirinya harus extra hati-hati dalam menjawab pertanyaan putrinya. " Kakak...
Terimakasih sudah mampir di novel saya, semoga selalu dilimpahi kesehatan da kebahagiaan, bagi yang sedang belajar menulis, semangat...! jangan menyerah, ayo... kita bisa, sama-sama belajar dan berkarya.