
Zidan yang menyadari Nadia sudah terlelap pun hanya mampu mendesah kesal. Terpaksa bernyanyi solo lagi.
Dalam lamunan Zidan, berbagai kejadian beberapa tahun ini terpampang jelas di matanya, kegagalan rumah tangga nya bersama Selly, membuat dirinya menyendiri, dan tidak memiliki kekuatan untuk mencari kebahagiaan untuk dirinya sendiri, yang Zidan pikirkan adalah kebahagiaan ketiga putrinya.
Namun Zidan tak menampik, kehadiran Nadia kedalam kehidupannya, membawa dampak baik, bahkan perubahan kepribadian dirinya, serta keluarga besar nya, dan sangat bisa di lihat dari kebahagiaan yang Zidan rasakan sekarang ini, menanti kehadiran baby twin, dan perkembangan ketiga putrinya pun tak luput dari perhatian Nadia sang ibu sambung, Zidan sangat beruntung memiliki istri yang baik hati, dan lebih dewasa dari umurnya.
Saat ini Zidan hanya kepikiran, bagaimana cara menjelaskan kepada ketiga putrinya, bahwa sang Mama ingin bertemu dengan mereka. Memang susah menaklukkan hati ketiga putrinya, Zidan hanya memiliki satu jalan, jurus ampuh Zidan adalah, mempergunakan sang istri, untuk mencoba mendekatkan mereka bertiga, untuk memaafkan dan bertemu dengan sang Mama, dan tugas ini Zidan serahkan kepada Nadia istri cantiknya.
Setelah selesai bermain solo dan merenung dalam kamar mandi, terbersit keinginan Zidan tidur di samping sang istri, namun karena kepikiran dengan anak-anak, membuat dirinya enggan menyusul sang istri meraih mimpi indahnya sore ini.
Zidan melangkah keluar menuju ke ruang tengah kamar anak-anak nya. Sebelum masuk, Zidan mengetuk pintu, agar anak-anak tidak terganggu aktifitasnya, bila kedatangannya tanpa mereka ketahui.
Tok... Tok... Tok...
"Assalamualaikum..." ucap Zidan di balik pintu.
"Waalaikum salam, masuk Pi..." jawab Vania.
"Kakak sedang apa?" tanya Zidan basa-basi
"Sedang mengerjakan tugas sekolah Pi, Papi sendiri tumben gak nyusul Mami tidur?" tanya Vania heran.
"Lagi pengen gangguin kakak aja, adek-adek kemana kak?" Zidan menoleh kanan dan kiri, mencari keberadaan Vika dan Zalfa.
"Setelah solat asar mereka tidur lagi Pi, paling sebentar lagi juga bangun." Jawab Vania.
"Kak... papi boleh tanya tidak?" Zidan mencoba bertanya tentang kesediaan Vania di ajak bicara.
"Tanya aja Pi, jangan bertele-tele." jawab Vania sambil terkekeh.
" Kamu ini, suka banget ketawain papi, gini Kak... seandainya Mama pengen bertemu kalian, apakah kakak mau?" tutur Zidan.
"Kenapa tidak?" jawab Vania tegas.
" Beneran kakak mau bertemu dengan Mama?"jawab Zidan terheran-heran.
"Ya iyalah, kata Mami, jangan pernah dendam, apalagi Mama adalah ibu kandung Vania, Mami selalu bilang, apapun kesalahan Mama, tentu bukan maksud Mama membenci kami, aku sangat bahagia, ternyata Mami sangat mencintai kami."ucap Vania .
"Apa maksudnya kak?" Zidan menautkan kedua alisnya.
"Papi tahu yang Mami katakan?" tanya Vania penuh selidik.
"Kata Mami kepada kami, kami tak boleh membenci Mama, kata Mami, lihatlah Mami sedang mengandung adik kalian, coba kalian bayangkan, bagaimana Mama kalian mengandung kami, 9 bulan 10 hari, kalau Mama tidak menyayangi kami, pasti Mama akan menggugurkan kami, aku bersyukur, Mami menyadarkan kami betapa sulitnya seorang ibu mengandung Pi, jangan takut lagi Pi, kami sudah memaafkan Mama, sejak mama hadir dalam kehidupan kita, terima kasih ya Pi, sudah membawa mami dalam kehidupan kita, aku bahagia melihat Papi bahagia." tutur Vania tulus.
"Papi juga berterima kasih kepada kamu sayang, karena kamu lah yang membawa Mami kepada kita, sungguh kebahagiaan Papi berlipat-lipat ganda." Zidan memeluk Vania.
"Papi tahu apa permintaan Mami kepada kami?"ucap Vania mengagetkan sang Papi.
"Apa itu?"
"Kata Mami, walau kami sudah memaafkan Mama, tapi mami meminta, jangan pernah meninggalkan Mami, karena Mami bilang, karena Kamilah alasan Mami berada di sisi Papi." ucap Vania.
"Masya Allah... betapa mulia Mami kita ya kak? lalu apa yang kalian katakan pada Mami?" Zidan nampak kepo dengan putrinya.
"Tentu saja kami mengatakan kepada Mami, kami tak akan meninggalkan Mami, walau kami saling memaafkan, tapi bagiku Mami tetap di hati."jawab Vania sembari menaik turunkan alisnya.
"Tapi kakak juga harus ingat, surga di telapak kaki ibu." pesan Zidan.
"Tentu nya Pi, dan aku bahagia, karena telapak kaki ibu Vania sekarang banyak, jadi Vania mau cari pahala yang banyak, dengan berbakti dan menjadi anak yang Sholehah, bagi papi, Mami, Mama, dan juga papa Daren."
"Pooh pinternya anak Papi, Terima kasih sayang, kalian sungguh anak-anak Papi yang the best."
" Sama-sama Pi, ternyata kita sangat bahagia tapi, bila saling memaafkan, karena sudah tidak ada kebencian dan dendam di hati kita, awalnya Vania berpikir, bahwa kehidupan yang kita alami setelah perceraian Papi dengan mama, akan terlihat suram dan penuh kekecewaan dan kesedihan, dan jauh dalam hatiku, bahwa kita akan sebahagia ini Pi, tapi Allah berkata lain, ternyata kehidupan kita lebih bahagia dan lebih indah dari yang kita kira." terang Vania pada Zidan Papi nya.
"Bener banget, sekarang kita hanya berpikir untuk menjadi yang lebih baik, pengalaman masa lalu, kita jadikan sebagai pelajaran yang baik bagi kita, dan untuk kita jadikan sebagai ujian kehidupan yang lebih baik." ucap Zidan.
"Terimakasih Ya Allah, engkau berikan kami seorang Mami yang baik hati dan mulia, serta tulus dan ikhlas menyayangi dan mencintai kami." Vania memeluk sang Papi dengan penuh kebahagiaan.
" Allah mengirimkan MAMI FOR US sayang."
"Iya MAMI FOR US."
-------------------------
Mami for US 1 segera berakhir.
Bagaimana kalau Mami for US ke dua kita lanjut aja.
Bagaimana pendapat kalian, silahkan di comen ya, saya tunggu.