MAMI FOR US

MAMI FOR US
PINGSAN



Enam tahun kemudian, kebahagiaan keluarga Zidan semakin bertambah, karena Nadia di beri amanah Oleh Allah dengan hadirnya buah hati bagi mereka berdua, kehamilan Nadia kali ini, bukan di sengaja, bahkan Nadia sendiri masih mengkonsumsi pil KB, karena siklus datang bulan yang tidak teratur itu,membuat dirinya cuek saja ketika satu bulan ini Nadia terlambat datang bulan, namun atas izin Allah, bayi yang ada di kandungan Nadia sehat sehat saja.


Pagi itu, ketika Nadia akan berangkat mengantar sekolah Fahdah dan Fahad, tiba-tiba saja Nadia merasa pusing, bahkan ia hampir saja jatuh pingsan karena pusing yang berlebihan.


"Mbak... mbak yuni..., tolong mbak..?" ucap Nadia sedikit berteriak.


Mbak Yuni yang bertugas membantu Nadia merawat si kembar pun menoleh sebelum melangkah pergi, di lihatnya majikan yang kelihatan pucat dan berjalan sedikit sempoyongan, dengan cepat kilat mbak Yuni menaruh tas si kembar Fahad dan Fahdah ke lantai.


"Bu... Bu Nadia... kenapa?" ucap yuni sambil menghambur memeluk tubuh sang majikan yang hampir jatuh pingsan.


Suara Yuni yang nearing menggemparkan rumah yang selama ini sangatlah damai dan sepi, karena anak anak yang sudau beranjak dewasa, ditambah si kembar sekarang sudah sekolah.


Ketiga Art yang sedang bekerja pun langsung berlari menuju ke sumber suara, betapa kaget melihat majikan nya sudah berada dalam pelukan Mbak Yuni, dan hampir tak sadar kan diri.


Kepanikan mereka bertambah ketika baby kembar berteriak untuk berangkat ke sekolah.


"Mama... kenapa lama ci... kan cudah telambat... "ucap Fahdah yang memang belum fasih mengucapkan huruf S dan R.


"Jangan teriak dek, tunggu sebentar." ucap Fahad pada adiknya yang manja.


"Sepertinya mama sakit dek, yuk kita telpon papa, biar papa cepat pulang."


Fahad berlari menuju ke pos depan, dan meminta pak satpam untuk menelpon sang papa.


"Pak Hadi, Fahad minta tolong telpon papa sekarang, mama sakit, suruh papa cepat pulang."ucap Fahad.


"Baik den, sekarang juga saya telpon Tuan." Tanpa menungggu lama, pak Hadi pun menelpon ke kantor Zidan, dan menyampaikan kepada sekertaris Zidan, bahwa nyonya Nadia sedang sakit, dan mengharap Tuanya segera pulang.


Sedangkan Fahad kembali masuk menemui sang mama, melihat keadaaan nya sekarang, dilihatnya sang Mama yang terbaring lemah di sofa ruang tengah, dilihatnya wajah ceria sang mama, yang selama ini selalu menaninya setiap hari, disamping sang Mama, Fahdah menangis tersedu di sebelah sang mama.


Mbak Yuni yang sedari tadi berusaha menyadarkan sang majikan pun masih saja memberikan Minyak Telon di hidung Nadia, bahkan berkali kali Mbak Yuni mengoleskan kepada Nadia majikanya.


Sementara Fahad sendiri duduk menyendiri di tangga, dirinya takut kehilangan sang mama, sungguh diluar perkiraan, Fahad sangat terpukul dengan jatuh sakitnya sang mama. Air matanya tak berhenti, sampai sang mama tersadar dari pingsanya.


"Mbok, tolong ambilkan air untuk Nyonya, beliau sudah sadar sekarang. " teriak mbak Yuni pada mbok Jum.


Mbok Jum pun berlari tergopoh gopoh membawa air minum untuk Nadia.


"Bagaimana dengan Nyonya mbak Yuni? apakah sudah sadar?" Tanya mbok Jum.


"Alhamdulillah mbok, sudah sadar, apa kita harus bawa kerumah sakit mbok ?"tanya mbak Yuni. "Ya Allah... kita sampai lupa, kalau kita harus memberi tahu Tuan Zidan. "ucap mbak Yuni.


Fahad dan Fahdah pun langsung memeluk sang Mama, mereka menangis sejadinya, mengingat kejadian tadi, membuat mereka berdua ketakutan.


"Mama... jangan bikin adek takut, jangan sakit lagi, dedek sangat sedih."ucap Fahdah.


"Mama, kakak sudah telpon papa, mama tidak apa-apa kan? sebentar lagi juga akan datang." ungkap Fahad yang merasa bahagia karena sang mama sudah siuman.


"Mama bikin kakak sama adek takut, jangan sakit ya ma, kakak todak ingin mama pucat seperti ini." tutur Fahad dengan berlinang air mata.


"Udah... mama tidak kenapa-kenapa, ini mama juga sudah sehat, jangan nangis lagi ya, kakak kan cowok, harus kuat, dan terimakasih sudah jagain mama dan adek." ungkapan Nadia dengan membelai putranya.


Di kantor Zidan, yang baru saja mendapatkan kabar sang istri pingsan pun langsung meninggalkan kantor tanpa berbicara sepatah kata pun, bahkan sang sekertaris terkejut ketika sang bos membatalkan acara meeting hari ini dengan mendadak.


"Zein, batalkan semua meeting hari ini, buat janji terbaru, hari ini semua pekerjaan aku serahkan kepadamu." Perintah Zidan pada sekertaris nya, tanpa memberi tahu alasan kepadq Zein.


"Baik bos."ucap Zein terkejut.


Zidan melangkqh sedikit berlari menuju lift didepan ruang kerjanya. Entah apa yang ada di pikiran Zidan sekarang ini, sakit yang Nadia aluminium benar-benar membuat Dunia nya runtuh, kebahagiaan selama 6 tahun ini, seakan-akan hilang berganti dengan kesedihan.


Dunia seakan merasakan kesedihan dan ketakutan Zidan, jalan yang sepi, tak ada arus lalu lalang, menambah kesunyian yang Zidan rasakan, semilir angin berhembus sepoi-sepoi, tak seperti biasanya padat dan panas, Zidan menarik nafas dalam-dalam, waktu yang dia tempuh sangatlah cepat, tak seperti biasanya.


Klakson Zidan pencet dengan keras, agar pak Hadi membukakan pintu gerbang secepatnya, pak Hadi yang mendengar pun langsung membuka pintu gerbang dengan cepat, tanpa mengambil kunci mobil, Zidan meninggalkan mobil dengan tergesa-gesa. Bahkan dirinya membuka pintu rumah dengan sangat keras.


Jederr...


Pintu utama terbuka, semua mata yang sedang duduk di ruang tengah tertuju pada sumber suara.


Fahad yang melihat sang papa datang pun segera berlari mendekati dan menangis.


"Papa... mama sakit... huaaaa..."


Semua yang melihat terkejut, dan menoleh kearah Fahad, karena sejak tadi Fahad tidak terlihat menangis, namun setelah kehadiran sang Papa, Fahad baru meluapkan kesedihan yang dia rasakan.


"Sabar ya sayang, Mama pasti sehat kembali, sekarang kita lihat keadaan Mama dulu yuk, setelah itu kita bawa ke dokter biar mama cepet sembuh." ucap Zidan sembari menggendong putranya.


"Baik pa, mama sudah siuman barusan, sekarang sedang minum teh hangat." ungkap Fahad.


Sementara yang lain langsung berdiri dan meninggalkan Nadia kecuali mbak Yuni.


"Assalamualaikum sayang, apa kabar, kok bisa seperti ini, memang tqdi belum sarapan ?"tanya Zidan pada Nadia.


"Sudah sayang, bahkan sudah minum susu, tapi entah mengapa, kepalaku serasa mau pecah, bahkan berputar-putar, untung saja sebelum aku jatuh mbak Yuni ada di sebelahku." jelas Nadia.


" Terima kasih mbak Yuni, sebaiknya kita ke Dokter Ma, aku takut Mama kenapa-napa."Tutur Zidan.


"Tapi anak-anak gak usah di kasih tahu dulu, biarkan mereka sekolah dengan tenang." permohonan Nadia agar ketiga putrinya tidak mengetahui kejadian ini.


"Pastinya, asal Fahad dan Fahdah tidak berbicara, karena Fahad yang menyuruh pak Hadi untuk menelpon ke kantor."


Mendengar itu Nadia langsung menoleh ke putranya, di ciumnya putranya yang sangat bertanggung jawab dan menyayqngi keluarga.


"Terima kasih ya sayang, kakak menjadi anak yang sangat membanggakan, adek juga, selalu berada di samping Mama, kalian berdua memang anak soleh dan solehah." Ucap Nadia sembari membelai putra dan putrinya.