MAMI FOR US

MAMI FOR US
TERSERAH KAMU...



"Sayang.... kamu sudah dengarkan, kalau aku sudah mencintai kamu, sekarang mas mau tanya, apakah sayang sudah mencintai mas?" tanya Zidan penuh selidik pada Nadia.


"Menurut mas bagaimana?" Nadia kembali bertanya pada suaminya, dengan wajah menggoda.


" Kamu itu... bikin penasaran mas saja, jawablah sayang...."


"Jawab jujur atau tidak jujur?" Nadia menggoda suaminya.


" Terserah kamu..."Zidan pura-pura ngambek.


Nadia yang melihat pun tertawa, ternyata suaminya yang ganteng dan perfect, bisa marah juga.


" Mas.... dengarkan detak jantung Nadia, detak jantung ini selalu berdetak lebih kencang, sejak pertemuan pertama Nadia dengan mas, jadi jangan pernah bertanya lagi." Nadia meraih tangan Zidan dan meletakkan di dada kirinya. nadiaalu, melihat wajah suaminya yang terlihat bahagia.


" Ternyata mas salah, mas jadi ingat, awal pertemuan kita sayang, mas jadi gemessss sama kamu." Zidan mencium seluruh wajah Nadia, dan terakhir bibir mungil istrinya.


Nadia sudah bisa menerima perlakuan istimewa suaminya, bahkan setelah perbincangan mereka barusan, membuat Nadia lebih rileks, dan yidak canggung lagi.


Zidan yang bermain-main api di bibir istrinya, akhirnya terbakar sendiri, Nadia yang awalnya sempat menolak, terbawa arus api yang Zidan ciptakan.


"Mas...suda...h, to...long... jangan diteruskan, Nadia baru mulai, tadi sore, bisa-bisa bocor ini mas."


Zidan pun akhirnya mengangguk, merapikan pakaian istrinya, yang sudah dia buka.


"Besok-besok Nadia mau tidur sama Zalfa saja, mas ganas kayak gini, bikin takut nanti kebablasan, mas... masak mas nggak tahu hukum melakukan di waktu sedang datang tamu, nanti kita harus bayar denda pada orang tak mampu bila melakukan di saat istri sedang haidh, dari sebagian ulamak ada yang mengatakan seperti itu, Nadia sendiri gak tahu kebenaranya." Zidan mencubit hidung Nadia.


Nadia merebahkan tubuhnya di samping Zalfa, tempat awal dia menidurkan mereka, melihat tidur anak-anaknya, Nadia sangat faham, bahwa ketiga anaknya sangatlah penurut, serta penyayang.


Sementara Zidan yang keluar dari kamar mandi, mencari istri cantiknya, namun tidak ditemukannya, akhirnya Zidan pun turun menuju kamar besar ketiga putrinya, disana terlihat Nadia sedang memeluk Zalfa, putri bungsunya, tanpa menunggu lama, Zidan pun tidur di belakang Nadia, dan memeluk nya dengan erat, Nadia yang merasa ada lengan kekar memeluk nya dari belakang, dipukul nya lengan tersebut, namun tak mau pergi juga, dengan terpaksa Nadia diam dan tertidur.


Malam pertama Nadia dan Zidan akhirnya tidur bersama ketiga putrinya.


Pukul 4.30, nadia terbangun, sebelum keluar, Nadia naik ke atas, menuju kamar mandi di kamarnya, di ambilnya dua sikat gigi baru, dan satu pasta gigi baru, di bawanya turun ke bawah, agar suatu saat berkumpul dan tidur bersama seperti ini, dirinya dan Zidan tak perlu keatas lagi hanya untuk mengambil pasta gigi dan sikat gigi.


Adzan subuh berkumandang, Nadia membangun kan suaminya, menyuruhnya mengambil air wudhu, dan memberikan sikat gigi serta pasta gigi baru untuk Zidan.


"Mas... bangun... sudah adzan subuh, ni peralatan nya di bawa, aku ambil yang baru, ayo cepat, keburu Ayah sama ibu solat duluan, ayo... "


Zidan pun menuju kamar mandi ruang tamu, yang ada di sebelah kamar anak-anak. 10 menit berlalu, Zidan sudah siap dengan baju Koko dan kpyahnya,


Vania yang sudah selesai mengambil air wudhu pun berjalan keluar menuju musola di rumahnya, Vika pun sedang di kamar mandi, giliran Zalfa yang terakhir Nadia bangunkan.


"Adek... sayang... Ayuk bangun, nanti subuhnya kesiangan... ya sudah mami gak bangunin lagi ya, nanti yang dosa adek ya, kan mami sudah bangunin, nanti kalau masuk neraka, mami nangis.... karena mami nggak sanggup liat adek disiksa...huhuhu..huhuhu.." Zalfa yang mendengar maminya menangis pun terbangun, dan menenangkan maminya.


"Mami jangan nangis... oke deh, sekarang Zalfa bangun, Zalfa nggak mau lihat mami nangis, makasih ya mami..." Zalfa mencium pipi Nadia dan berlari masuk ke kamar mandi, mengambil air wudhu, disusul Nadia yang harus melihat bagaimana cara Zalfa berwudhu. Setelah dirasa cukup untuk anak seusia Zalfa, Nadia mengajak Zalfa memakai mukenanya. Nadia sungguh takjub dengan Zidan, yang mendidik ketiga putrinya dengan ilmu agama yang baik dan benar.


"Alhamdulilah ya Allah... telah engkau berikan kepadaku, keluarga yang baik,dan menerima ku apa adanya."