
Sementara di kota Bandung, Rain yang sudah menangkap Monic lewat tangan kanannya pun sedang menginterogasi Monic.
"Apa keperluan kamu ingin menculik Nadia?" tanya Rain pada Monic.
"Aku benci sekali dengan orang orang yang dekat dengan mas Zidan, sejak kuliah aku sudah jatuh cinta padanya, tapi kenapa malah Selly yang menikah dengannya, bahkan sekarang mas Zidan sudah menikah lagi dengan gadis ingusan, anak penjual keripik yang sudah meninggal dunia." jawab Monic pada Rain.
"Aku tak ingin tahu masalah kamu, mengapa kamu begitu senang melihat penderitaan orang lain, yang hanya akan membuat dirimu tersiksa, apakah kamu tidak merasakan sebagai seorang wanita, yang harus berpisah dengan anak-anaknya?" ucap Rain dengan lemah lembut.
"Aku iri... semua orang memiliki orang yang mereka sayangi, sedangkan aku... aku tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari orang yang paling aku sayang, banyak orang yang membenciku, hanya karena aku adalah anak haram." ungkap isi hati Monic yang terdalam.
"Lalu ... apa hubungannya dengan Selly dan Nadia? bukankah mereka tidak pernah menyakiti perasaan mu?" ucap Rain penuh kelembutan.
"Ceritanya sangat panjang, berawal dari meninggal nya kekasih ku karena telah menolong Selly, dari situ aku selalu mencari tahu tentang Selly, dan tak aku duga, sahabat kekasihku adalah mas Zidan, bahkan almarhum kekasihku selalu membicarakan tentang kebaikan mas Zidan, dari situ aku sangat terobsesi untuk memiliki mas Zidan hanya untukku." ucap Monic dengan lantangnya.
"Kamu pikir mas Zidan akan melirik istri dari sahabatnya sendiri?" Monic terkejut dengan ungkapan Rain.
"Mas Zidan selalu mengirimkan uang dan makanan untuk anakmu dan mertuamu, bahkan anakmu sempat meminta untuk mengembalikan kamu padanya, kamu egois." terang Rain.
"Dari mana kalian tahu, kalau aku sudah punya anak? bukankah kalian tidak mengetahui anakku berada?" tanya Monic penuh keheranan.
"Aku kira justru kamu yang kehilangan jejaknya, karena kamu tidak pernah perduli dengan anakmu." ucap Rain dengan sedikit emosi.
"Benar... aku yang meninggalkan dirinya setelah kematian bapaknya, bahkan aku tak berpamitan padanya, mungkin sekarang sudah sebesar Vania, anak mas Zidan." ucap Monic memelas.
"Ingatlah Monic, keluarga kami tidak menyukai tindakan kekerasan, dan tidak ingin menyakiti orang lain, namun bila sudah ada yang mengusik ketenangan kami, jangan harap bisa lari dan bersembunyi, karena sekecil apapun lubang tentang informasi kamu, dengan izin Allah akan kami temukan, jadi jangan harap kalian akan lolos dari azab Allah."
"Kamu tahu kan? mas Fahri selalu memanjakan aku dan calon buah hati kami, tapi belum sempat dia melihat putrinya, beliau sudah pergi dari kehidupan kami." Monic menangis terisak-isak, mengingat kebersamaannya dengan suaminya yang sangat dia sayangi.
"Ingat... jangan kamu menyalahkan takdir, mungkin Allah sedang menguji keimanan dan kekuatan kamu, dalam mengahadapi dunia ini, jadi... aku mohon sadarlah, mas Fahri akan marah kalau kamu menyia-nyiakan anak kamu."
"Tapi apa keluarga mas Fahri akan menerima kedatanganku kembali, Rain? sedangkan aku telah membuat malu keluarga besar mereka." ucap Monic sedih.
"Aku rasa mereka akan menerima mu dengan lapang dada, karena mereka juga merasa bersalah dengan kepergian mas Fahri, kembalilah, anakmu sangat membutuhkan kamu, dan jangan terbakar karena DENDAM MU AKAN MEMBAKARMU." terang Rain pada Monic.
"Aku akan pulang, tapi aku ingin meminta maaf pada mas Zidan dan Selly, karena sudah memisahkan mereka berdua." ucap Monic bersedih.
"Jangan kau sesali, memang semua adalah kesalahan kamu, tapi... mungkin semua sudah takdir Allah, dan memang jodoh mereka segitu."
"Terima kasih mas Rain, atas nasehat dan masukannya." ucap Monic.
" Sama-sama... esok pagi aku akan mengantarmu menemui anakmu, dan aku harap, kesempatan ini kamu pergunakan sebaik-baiknya, agar keluarga besar mas Fahri almarhum, memaafkan kamu."
"Iya mas, terima kasih, maaf apa kabar dengan Maria?"
"Kabarnya baik, tapi sekarang dia juga sedang hamil, hampir bersamaan dengan Nadia, jadi aku sendiri jarang ke Jawa, karena urusan perusahaan dan juga Maria."
"Terima kasih, dan sekarang istirahat lah, dan jangan berpikir bisa kabur, karena di tubuhmu, sudah aku pasang chip, apapun dan di manapun, aku akan menemukan kamu, ingat itu!" Pesan Rain yang lembut, namun momok bagi Monic, karena dirinya tahu, kalau sudah berhubungan dengan Rain, jangan tanya, pasti akan habis dan tak bersisa.
Berbeda dengan Rain, Zidan lebih kalem dan pendiam, namun bila memang sudah keterlaluan, jangan harap bisa lari darinya, ke lubang semut pun akan dia cari
Permasalahan Monic sudah Rain selesaikan, karena memang keluarga besar Zidan tidak suka dengan kekerasan, melainkan dengan kelembutan dan pendekatan, sehingga akan dengan mudah untuk mengetahui kelemahan dan kebutuhan lawan kita.
Setelah menyelesaikan masalah dengan Rain, Monic menelpon anak huah yang sudah dia sewa, untuk menangkap Nadia, dan membatalkan perjanjian mereka, dengan konsekuensinya tidak mengembalikan uang muka yang sudah Monic berikan.
Keputusan Monic yang ingin bertemu dengan anaknya pun mengiyakan syarat mereka, dan menutup obrolan dengan membuang nomer telepon mereka.
Malam ini Monic kembali tersenyum, ternyata dirinya lupa,bahwa di sana masih ada orang yang menunggu dan mengharap kehadirannya.
" Naina... Mama akan pulang dan akan berada di sisimu selalu sayang,maafkan mama nak." Monic menangis, meninggalkan anak semata wayangnya hanya demi membalas dendam kematian suaminya, yang memang tidak ada tindakan kejahatan dalam kematiannya.
Sementara itu Zidan yang sedang berpeluh ria dengan nadia, merasa terganggu dengan adanya telepon masuk dari adiknya Rain.
"Mas... ang... kat dulu, siapa tahu penting..." ucap Nadia yang masih bergairah dan bergelora.
"Nanti saja sayang, sedikit lagi, nanggung banget." ucap Zidan malas.Tanpa basa basi, justru Nadia mendorong suaminya hingga terpental ke pinggir ranjang.
" Assalamualaikum Halo... Rain, apa kabar? bagaimana dengan Maria? aku doakan sehat selalu." ucap Nadia tanpa jeda.
"Alhamdulillah sehat semua, mas Zidan nya ada?"
"Ada tu... lagi ngambek. jawab Nadia.
" Bisa nggak aku ngomong sama mas Zidan? " tanya Rain pada kakak iparnya.
"Bisa... mas ini Rain ingin bicara." Nadia menyerahkan telepon genggam milik nya.
"Assalamualaikum rain, ada perlu apa? ganggu aja, padahal tinggal sedikit lagi, dasar kamu, dari dulu suka mengganggu."
" Hehehe... tapi kabar ini pasti akan membuat kakak bahagia."
"Cepat katakan, aku gak punya banyak waktu."
"Aku sudah bereskan si ular jadi-jadian, dan besok aku akan mengantarnya pada keluarga nya."
"Itu baru adikku, ya sudah,aku mau lanjut lagi, sebelum kakak iparmu berubah pikiran." Zidan menutup teleponnya dengan sepihak.
"Enak banget kamu mas, bisa berolah raga, sedang nasibku, tidur seranjang saja sangat susah, hikshikshiks dasar nasibku koyo ngene." gumam Rain dengan suara yang hampir tak terdengar.