
Zidan yang melihat Daren datang bersama Selly, mantan istrinya, keputusan dirinya mengajak Nadia dan meminta Daren membawa Selly, ternyata membuat suatu kelegaan di hati Zidan, karena Zidan sudah tidak ingin menyembunyikan apapin dari Nadia istrinya.
"Selamat datang Tuan Daren." Zidan bersalaman dengan Daren.
"Selamat datang Selly." Zidan menyalami Selly juga tanpa rasa kecanggungan diantara mereka.
Tampak rona kebahagiaan di wajah mereka berempat. Zidan memperkenalkan Nadia kepada Daren dan Selly.
"Oh ya, kenalkan... ini istri saya... Nadia." ucap Zidan kepada Daren dan Selly.
" Nadia..." Nadi menangkupkan kedua tangan nya di depan dadanya, saat Daren ingin menjabat tangannya. Daren yang melihat pun menarik kembali tangannya dan membalas dengan senyuman.
"Saya Daren, dan istri saya Selly." ucap Daren
"Kak Selly, apa kabar, Sepertinya pernah melihat?" tanya Nadia pada Selly.
"Tentu... tapi kamu masih kecil waktu itu, betul kan sayang?" tanya Selly pada Daren.
"Iya... kamu kan sering bantu bapak kamu jualan keripik di depan SMA, masih ingat kan?" Daren mengingat kan Nadia.
"Iya... Nadia masih ingat, apa kabar kakak?" Nadia memeluk tubuh Selly, dan memandang wajah cantik yang dulu selalu dia idolakan.
"Kabar ku baik-baik saja." ucap Selly.
Zidan yang di cuekin pun ikut nimbrung.
"Hai... perempuan kalau sudah ketemu, jadi suka lupa para suami." ucap Zidan kesal.
" Sayang... bukan lupa, tapi... kamu tahu?" tanya Nadia pada Zidan.
"Nggak, dan nggak mau tahu." jawab Zidan merajuk. Yang membuat Daren dan Selly tertawa lepas.
"Mas... ingat umur apa? malu kan sama orang, masak kamu marah gara-gara gak diajak ngomong." ucap Nadia masih mencoba membujuk Zidan.
Karena tak ingin membuat istrinya kepikiran, Zidan pun membelai lembut pipi Nadia.
"Dengar... mas nggak marah, malah mas bahagia, karena kamu menerima Selly dan Daren dengan baik, walau sebelumnya mas belum menceritakan kedatangan mereka." ucap Zidan pada Nadia di depan Selly. Yang membuat Selly terkejut, karena Zidan sudah banyak berubah, dan itu membuat dirinya lebih bahagia, karena mantan suaminya juga bahagia dengan pernikahan mereka.
"Kak Selly adalah mama dari anak-anak, dan sampai kapanpun anak-anak adalah anak kak Selly, walau apapun alasan kak Selly meninggalkan kakak, itu urusan pribadi kak Selly, aku tidak berhak menghukum nanya bahkan membenci nya, karena Nadia sendiri akan menjadi seorang ibu." ucap Nadia pada Zidan.
"Terima kasih Nadia, kamu sudah menyayangi anak-anak ku seperti anak-anakmu sendiri." ucap Selly.
"Kak.. semua sudah berlalu, dan mereka adalah anak-anak kita, dan ada satu permintaan dari Nadia, untuk mas Zidan dan mas Daren." ucap Nadia pada Zidan dan Daren.
"Nadia minta sama mas Zidan, tolong maafkan kak Selly, dan jadilah teman yang baik, demi anak-anak, dan berkolaborasi lah, demi kebahagian anak-anak. Kalau kak Selly tidak bisa berbicara langsung dengan mas Zidan, kak Selly bisa meminta saya untuk menjadi perantara di antara kalian, dan begitu juga sebaliknya untuk mas Zidan." Yang di balas anggukan Zidan dan Selly.
"Dan untuk mas Daren, aku mohon... bagilah cintamu untuk ketiga putri kita, berikan kasih sayang dan perhatian kecil untuk mereka, jangan terlalu kaku, karena sebenarnya mereka sangat menginginkan kalian, bahkan mereka merasa bahagia, memiliki keluarga besar. Jika ada yang ingin di tanyakan tentang anak-anak, saya sarankan mas Daren lebih baik menghubungi suamiku, karena aku tak ingin ada kesalah pahaman di antara kita." ucap Nadia tegas.
"Baiklah, dan mulai sekarang, kita adalah sahabat teman sekaligus tempat kita dalam membahas anak-anak kita." ucap Nadia.
"Mas... seperti nya mas sudah dapat mainan baru ya?" goda Selly pada mantan suaminya, yang memang terlihat sangat bucin pada istrinya.
"Kamu tahu Selly, dia yang bucin padaku, masak setiap aku di kantor selalu menelpon, di suruh pulang, kan jadi bingung, harus bagaimana, mana setiap setengah jam sekali dia nelpon terus dan kalau tidak di angkat, bisa bisa ngambek berhari-hari." ucap Zidan menggoda Nadia.
"Mas..." Nadia membungkam mulut suaminya, Nadia malu karena Zidan selalu menggoda dirinya.
"Hei, mas tahu, karena baby twin yang sering mengajak mami jalan-jalan, sehingga mami sering pulang pergi ke kantor papi." ucap Zidan pada Nadia. Sungguh Selly tak menyangka, Nadia bisa membuat Zidan suaminya yang pendiam menjadi seorang yang penuh perhatian dan tidak cuek, seperti dengan dirinya dahulu.
"Wooow Nadia sedang hamil? berapa bulan?" tanya Selly pada Nadia.
"Baru jalan lima bulan kak, baby twin, jadi kelihatan sudah 7 bulan ya?" tanya Nadia pada Selly.
"Gak apa-apa, kan namanya juga baby twin, jadi lebih gede perutnya." ucap Selly pada Nadia
"Cowok apa cewek mas?" tanya Daren pada Zidan.
" Belum tahu, apapun jenis kelaminnya, biar jadi kejutan."ucap Zidan sambil mengedipkan matanya.
Daren yang melihat Zidan memberi kode pun tersenyum.
"Bohong dosa Lo mas... bukankah dokter Dian sudah bilang kalau baby twin cowok semuanya, dan wajahnya mirip sama kamu, dasar pelupa, namanya juga sudah tua." ucap Nadia dengan cemberut.
Sontak Selly dan Daren tertawa terbahak-bahak. Zidan pun hanya mampu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sementara Selly yang mengerti hormon kehamilan Nadia, membuat mood nya selalu berubah-ubah pun mencoba menenangkan Nadia dengan sedikit sentuhan lembut di tangannya.
"Nadia... kamu tahu, anak laki-laki selalu menjadi harapan bagi semua orang, bahkan dulu aku ingin memiliki anak laki-laki, mengapa kamu marah bila mendapat dua anak laki-laki yang tampan, bukankah itu suatu hadiah terindah untuk kalian, jangan marah ya?" tanya Selly pada Nadia, yang terlihat masih merajuk.
"Aku gak marah kak, tapi... aku tidak suka, mengapa dokter Dian mengatakan bahwa semua anakku mirip dengan Papi nya, padahal kan aku yang mengandung, aku yang kelelahan." ucap Nadia cemburu.
"Sayang... kan kita belum melihat mereka, toh mereka belum lahir, siapa tahu anak kita mirip kamu sayang." ucap Zidan, yang membuat Nadia tersenyum, sungguh Zidan sudah banyak berubah, sikap manja dan ketergantungan Nadia, membuat Zidan berubah 180 derajat.
Makan siang pun tertunda, karena drama merajuknya nyonya Zidan, setelah makan siang, Nadia yang ingin ketoilet pun meminta ijin dan di dampingi seorang pelayan, karena Zidan tidak ingin sesuatu terjadi dengan Nadia.
Saat Nadia berada di Toilet, Zidan kembali membicarakan tentang rencana Monic untuk menculik Nadia.
"Kamu tahu Selly, sahabatmu Monic berulah lagi, dia berencana menculik Nadia." ucap Zidan.
-----------------------------------
Bagaimana menurut kalian? Apakah pertemuan mereka kurang greget? atau kurang dramatis?
Apakah pertemuan antara Zidan dan Selly membuat kalian bahagia? atau tertawa?
Atau di luar dugaan kalian?
Yang penting Komen ya teman-teman, biar tambah greget.