MAMI FOR US

MAMI FOR US
SEMUA INI MILIK KAMU SAYANG



Nadia yang mendengar langsung menundukkan kepalanya, karena malu.


"Zidan, nasib kamu itu, mau buka puasa saja harus nunggu anak-anak tidur, eh... giliran tidur harus nemenin anak-anak mu." ejek Rain adik Zidan.


Semua orang yang mendengar pun tertawa, tak terkecuali Bu Asiyah, wanita paruh baya yang paling bahagia, mendengar majikannya telah menikah. Oma dan Opa pun paham dengan nasib anaknya, dengan telaten Oma memberi alasan pada ketiga cucunya untuk mandiri.


"Vania, Vika, dan Zalfa, suatu hari nanti kalian akan memiliki adek bukan? tentunya mami dan papi harus tidur bersama kalau pengen cepet punya adek, dan lagi kalian kan sudah besar, Vania, dan Vika sudah jadi perempuan lagi, jangan manja ya, nanti mami ninggalin kalian mau?" nasehat Oma untuk Vania dan Vika.


"Nggak mau Oma, tapi apakah nanti kau mami sudah memiliki anak dari rahim mami, mami akan mengurangi cinta nya pada kami?" tanya Vania dengan tatapan memelas kepada Nadia.


"Kata siapa mami akan mengurangi cinta mami, justru mami akan semakin sayang sama kalian, karena mami ingin kakak Vania, kak Vika dan kak Zalfa, menyayangi pula pada adek nanti." jelas nadia pada ketiga putrinya.


"Ya sudah, sekarang kita bobok dulu ya, Oma, Opa, Uncle Rain, Vania, Vika dan Zalfa mau bobok dulu, selamat malam, assalamualaikum." ucap Nadia menggantikan anak-anaknya ngomong, lalu menuntun mereka masuk ke kamar mereka masing masing, untuk berganti pakaian, menggosok gigi, dan berwudhu.


Nadia dan bi Asiyah menyiapkan tempat tidur mereka, Nadia berada di tengah, kanan dan kiri ada Vania dan Vika, sedangkan Zalfa dalam pelukan Nadia. Nadia mengajak ketiga putrinya untuk berdoa sebelum tidur.


"Yuk baca doa dulu sebelum tidur


بسمالله الرحمن الرحيم


بسمك اللهم احي وبسمك اموت


Nadia menuntun ketiga anaknya untuk berdoa dan tak lupa ber solawat dan membaca ayat kursi.


Tak menunggu lama, ketiga putrinya pun terlelap, Nadia bangun dan kembali keruang tengah, kebiasaan mereka, bila sudah tidur tidak akan bangun di malam harinya, sampai adzan subuh.


Melihat Nadia kembali ke ruang tengah, Oma, Opa dan Uncle Rain pun bergegas menuju ke kamar masing masing yang ada di lantai bawah, sedangkan lantai atas hanya ada 3 kamar yaitu kamar Zidan dan Nadia, serta dua kamar untuk anak-anak merak nanti.


"Sudah pada tidur mereka sayang." ucap Zidan sembari meraih tangan Nadia. Nadia merasa gugup, di panggil sayang, dan belaian tangan Zidan yang lembut membuat jantungnya berdetak lebih kencang.


"Sudah mas bawa ke atas, kekamar kita, namun belum mas tata, nunggu kamu, ya sudah yuk kita ke atas." ajak Zidan menarik Nadia agar berdiri.


"Baik, tapi anak-anak Bagaimna?" tanya Nadia polos.


"Kamar ayah dan ibu di sebelah mereka sayang, jadi jangan kahawatir, kalau mereka bangun pasti ada mereka yang tenangin." jelas Zidan pada Nadia.


"Oke lah, takutnya mereka cari Nadia nanti mas."


" Aku jamin tidak, Ayuk... mas sudah capek pengen tidur ini."


Nadiapun mengekor di belakang Zidan, rumah baru merka sangat besar, bahkan lebih besar dari pondok pesantren milik Abah.


Nadia tertegun dengan dekorasi kamar Zidan, warna biru muda dan turkuwaz, membuat kamar Zidan sangat indah, disana terlihat hanya ada ranjang berukuran king size, sebuah sofa, serta meja rias dan kursi.


"Nadia, koper kamu ada di dalam walk in closet, disebelah sini..." Zidan membuka sebuah ruangan di belakang ranjang, disana terdapat lemari yang banyak, tempat sepatu dan tas branded, yang Nadia sendiri tak tahu milik siapa.


"Mas, ini sepatu dan tas milik siapa? kok ada disini?"


Nadia memperhatikan tas-tas mahal yang berjejer.


"Semua ini milik kamu sayang, maminya anak-anak." Zidan memeluk Nadia dari belakang. Rasa syukur Zidan yang tak terucap, Nadia mau menerima kehadiran dirinya dan ketiga putrinya.


"Apa gak berlebihan mas." Nadia menatap suaminya dengan malu-malu.


Zidan sangat bahagia, Nadia sudah mau memanggilnya dengan panggilan mas, dengan suara lembut dan merdu, membuat Zidan sudah kalang kabut, bahkan si Otong yang berpuasa pun sudah ingin melepaskan diri dari sarangnya.