MAMI FOR US

MAMI FOR US
DI ABAIKAN



Perjalanan ke Bangka Belitung, yang Nadia kira akan membuat mereka lebih romantis ternyata hanyalah semu, karena Zidan sangat sibuk, bahkan Nadia melihat permasalahan yang di hadapi Zidan sangatlah berat, sehingga Nadia pun mengurungkan niatnya untuk menggoda suaminya.


Jadwal kantor yang seharusnya bisa dikerjakan dalam waktu 3 hari, ternyata tidak sesuai dengan rencana, sehingga Nadia memutuskan pulang ke Jawa sebelum anak-anak pulang dari liburan.


Pagi ini jadwal Nadia meninggalkan Bangka Belitung, rasa kesal nya kepada suaminya tak sebanding dengan rasa kangen Nadia kepada ketiga putrinya, sehingga Nadia memutuskan untuk bertemu dengan ketiga putrinya di Bandung.


Setelah mendarat di bandara internasional Soekarno-Hatta, Nadia telah di jemput oleh ketiga putrinya, adik Zidan serta adik iparnya.


Kebahagiaan ketiga putrinya bisa di lihat dari wajah yang ceria Vania, Vika dan Zalfa.


"Mami... Zalfa kangen sama mami, mami gak kangen sama Zalfa?" Ucap Zalfa sembari memeluk sang mami.


"Kangen lah, masak gak kangen, kalau tahu ikut sama papi sering di abaikan, mending mami ikut kalian saja, kan bisa main-main bareng kalian, bener gak?" ucap Nadia dengan sedikit memelas.


"Mami... jangan harap ya, papi kalau lagi punya masalah di kantor, gak bakalan lihat kita, jadi mami harus sabar, paling nanti juga kalau urusan kantor sudah selesai, papi akan menyesal." terang Vania pada maminya.


"Jadi seperti itu, sikap papi kalau lagi ada masalah kantor?" tanya Nadia pada Vania.


"Iya mam, jadi jangan di ambil hati ya mam, kami sudah biasa kok, untung saja sekarang kita ada mami, sedang liburan pula, kalau tidak lagi liburan, kita juga sering di tinggal papi, hanya ada bi Asiyah yang selalu mengurus kami." terang Vika pada sang mami.


"Jangan sedih ya, sekarang ada mami yang akan bikin kalian happy, dan satu lagi, bagaimana kalau kita balas papi, biar papi merasakan bagaimana rasanya di abaikan."


"Bener juga mam, tapi Vania takut papi marah."


"Tapi mami bener juga kak, sekali-sekali kita kasih pelajaran buat papi, biar papi tahu rasanya di abaikan."


"Ok, Uncle dan Aunty akan bantu kalian, dengan syarat... traktir makan ya..."


"Kalau itu mah kecil... Ayuk mam, kita ke mall, traktir Uncledan Aunty, kasihan nanti dede bayinya, biar gak ileran."Celetuk Vania pada maminya.


Nadia mengangguk dan menggandeng Zalfa, keluar dari bandara, menuju Mall yang di inginkan oleh nya.


Sesampainya di Mall, dan memasuki roofcourt yang dipilih ketiga putrinya, Nadia memilih duduk di sebelah dengan Maria, sedangkan Rain menghendle ketiga keponakannya.


"Kamu lagi hamil Maria? selamat ya, semoga sehat sampai melahirkan nanti." Ucap Nadia dengan senyum bahagia, dan memeluk adik ipar suaminya.


"Alhamdulillah kak, padahal pernikahan kami sudah hampir 8 tahun, kalau dulu aku tidak keguguran, mungkin seumuran Zalfa." ucap Maria pada Nadia dengan wajah sedihnya.


"Syukuri saja, semua sudah Allah takdirkan, mungkin Allah belum memberikan anak pada waktu itu, karena Allah ingin kalian menjaga anak-anak dari mas Zidan, dan sekarang, Allah memberikan kalian anak di waktu yang tepat, terima kasih ya, sudah menjaga anak-anak beberapa hari ini, kalau tahu kamu sedang hamil, aku tidak akan membiarkan mereka bersama kalian." ucap Nadia meras tidak enak, karena merepotkan Maria yang sedang hamil muda.


"Nggak juga kak, sebenarnya kami baru tahu Maria hamil juga sebelum berangkat menjemput kakak ke bandara, jadi ini hadiah buat bulan madu kakak." jawab Rain saat meenaruh makanan di meja Nadia dan Maria.


"Kamu bilang bulan madu Rain, kakakmu aja pulang malam pergi pagi, Karena merasa bosan dan hanya di abaikan, makanya aku memilih berlibur bersama kalian saja." jawab Nadia kesal.


" Ya seperti itulah suami kamu kak, gila kerja, dan selalu mengabaikan orang-orang yang ada di sekelilingnya." jawab Rain asal yang mendapatkan pelototan mata dari Maria.


Nadia yang melihat pun tertawa, dan tersenyum getir, dalam hatinya, apakah ini yang dirasakan mamanya anak-anak, sehingga rela meninggalkan anak-anaknya demi kepuasan dirinya.


Dengan ragu Nadia menanyakan hal ini pada Rain.