
"Kenapa berbohong? Aku kan sudah bilang menerima kamu apa adanya, bukan ada apanya?" terang Zidan pada Nadia, lalu memeluk nya, Zidan sangat bahagia, sebenarnya Zidan sempat hampir ilfil dengan kata-kata Nadia, namun Zidan tepis karena ketulusan hati Nadia.
"Nadia hanya ingin Mas menerima Nadia apa adanya, karena selama ini Mas tak pernah melihat rambut dan wajah Nadia tanpa kerudung, jadi apa salahnya Nadia jahilin mas." senyum smirk Nadia pada Zidan.
"Aku kira, gadis cantik putrinya Abah ini, sangat pendiam, dan susah beradaptasi, tapi ternyata, diluar ekspektasi, kamu adalah seorang gadis yang sangat welcome pada siapapun." puji Zidan pada Nadia.
"Sebenarnya ini bukan pribadi Nadia, tapi... apa salahnya menyenangkan suami sendiri, mungkin mas jadi ilfil dan kecewa ya sama Nadia, karena kepribadian Nadia tak seperti yang mas bayangkan." ucap Nadia sedikit murung.
"Mas nggak mungkin kecewa, justru mas sangat bahagia, berarti Nadia sudah menerima mas dan anak-anak dengan tulus."
"Kata siapa dengan tulus, tapi dengan FULUSSSS..." canda Nadia pada Zidan sembari menunjukkan jari jempol dan telunjuk yang di gerak gerakkan, sembari menaik turunkan alisnya.
Zidan sungguh bahagia, mendapatkan istri yang cantik, Soleha, serta humoris, mulutnya yang comel, perhatian, sudah Zidan dapatkan di hari pertama pernikahan nya dengan Nadia.
Zidan memeluk Nadia, dan membelai rambut gadis cantik yang telah dia nikahi beberapa jam yang lalu.
Sifat Nadia yang apa adanya,dan tidak menutup nutupi apapun itu, membuat Zidan semakin mencintai Nadia.
"Terima kasih sayang, sudah membuat hidup mas bahagia, bahkan mas sudah lupa, kapan terakhir kalinya mas tertawa seperti ini." terang Zidan pada Nadia.
"Mulai sekarang, Nadia akan membuat mas dan anak-anak selalu bahagia, dan Nadia tak ingin mendengar tangisan dirumah ini, kecuali tangisan bahagia." Nadia memandang wajah suaminya, dan membelai wajah dewasa suaminya, yang sebenarnya sudah Nadia kagumi sejak pertemuan pertama mereka, saat tragedi air lumpur di depan pasar.
"Benarkah? lalu sejak kapan mas jatuh cinta sama Nadia?" selidik Nadia, sembari menatap manik mata suaminya.
"Sejak saat mendengar Vania memanggilmu bunda, dan mendengar suara Kamu yang pertama kali, dari sana, hatiku selalu bergetar, entah mengapa, saat menelpon mu malam itu, aku seperti pernah mendengar suaramu, namun setelah kamu mengatakan kamu di pondok pesantren, aku sedikit lebih lega, pasti ya anak santri dari Abah yang menjaga Vania."
"Mas nggak marah waktu Vania memanggil bunda?"
" Nggaklah, justru sejak saat itu, aku baru menyadari, ternyata anak-anak sangat membutuhkan sosok ibu yang menyayangi dan mengayomi, selain seorang ayah yang bertanggung jawab, awalnya aku kira aku mampu menjadi ayah sekaligus ibu bagi ketiga putriku, tapi ternyata tidak, seorang anak butuh sosok yang sangat berharga bagi dirinya, sesuai dengan kapasitas, kadar dan kebutuhan."
"Kalau tugas seorang bapak itu apa?"
Zidan pun menjelaskan tugas seorang suami dan seorang ayah, dan juga tugas seorang istri dan seorang ibu bagi suami dan anak anaknya.
Tiba saatnya Zidan bertanya pada Nadia, apakah Nadia mencintai dirinya.
"Sayang.... kamu sudah dengarkan, kalau aku sudah mencintai kamu, sekarang mas mau tanya, apakah sayang sudah mencintai mas?" tanya Zidan penuh selidik pada Nadia.
"Menurut mas bagaimana?" Nadia kembali bertanya pada suaminya, dengan wajah menggoda.