
Seperti yang sudah Zidan rencanakan, sehari setelah dirinya mengetahui Nadia sedang hamil anak kembar, dua kamar yang berada di lantai bawah, di bongkar, di berinya pintu diantara dua kamar tersebut, yang bertujuan bila twin telah lahir, maka kamar sebelah akan menjadi kamar twin.
Zidan juga menambahkan dua ruangan dari arah luar, yang terhubung dengan kamar utamanya di lantai bawah, dengan bertujuan untuk memperluas kamar, untuk meletakkan barang-barang miliknya dan Nadia nanti.
Seminggu sudah semenjak Zidan mengetahui kehamilan Nadia, pagi hari ini Zidan ingin mengantar seluruh anak dan istrinya untuk mengunjungi Abah dan Umi di pesantren, alasan sebenarnya adalah Zidan ingin memasang CCTV di dalam dan luar rumahnya.
"Sayang... sudah dua bulan lebih kita tidak mengunjungi Abah dan Umi, bagaimana kalau kita kesana, tapi nanti aku tinggal ya, karena ada sedikit pekerjaan yang harus aku lakukan nanti." ucap Zidan setelah solat subuh berjamaah.
"Beneran mas? aku juga sudah kangen banget sama Abah dan Umi, anak-anak pasti senang mendengar nya." timpal Nadia sembari bergelayut manja.
"Iya... sekarang bersiap siap lah, biar aku yang sampaikan pada anak-anak, agar bersiap lebih cepat, karena jam 10 nanti aku harus menemui seorang klien." ucap Zidan pada Nadia.
Namun bukan Nadia kalau tidak membuat Zidan gemas, mendengar akan pergi Nadia malah tertidur pulas dengan mukena nya.
Melihat Nadia yang tertidur, Zidan melepas mukena Nadia, dan membaringkan tubuhnya di kasur besar mereka. Setelah itu Zidan melipat mukena Nadia dan mengembalikan ketempatnya semula.
Zidan melangkah meninggalkan kamarnya, turun menuju kamar ketiga putrinya.
Zidan sungguh terkejut, kala dirinya melihat ketiga putrinya sedang membaca Al Qur'an. Sungguh Zidan melewatkan momen momen perubahan keluarga kecil mereka.
Memang Nadia membiasakan ketiga putrinya, untuk membaca Al Qur'an setelah solat subuh, dan Nadia akan menemani mereka bertiga ketika Zidan terlelap kambali.
Zidan membuat ketiga kamar putrinya lebih tertutup dari ruangan keluarga dan ruang tamu, agar ketika ketiga putrinya telah dewasa, tidak perlu malu apabila ada teman mereka yang berkunjung.
Zidan mengetuk pintu besar ruangan tengah diantara ketiga kamar putrinya.Disana terlihat Vika , Vania dan Zalfa sedang membaca Al Qur'an, yang tentunya dengan suara yang lembut, karena Nadia mengajarkan mereka mengaji setiap pagi.
"Assalamualaikum... selamat pagi anak-anak Papi yang cantik dan Sholehah, wah pinter sekali kalian mengaji, pasti Mami yang ajarin kalian?" ucap Zidan menghampiri ketiga putrinya.
"Waalaikum salam papi..." jawab mereka bertiga.
"Tentunya kami pinter baca Al Qur'an, Mami selalu mengajarkan kami setiap pagi, setelah solat subuh, Papi si... Setelah solat tidur lagi, jadi gak liat Mami mengajar kami." ucap si kecil Zalfa.
" Kenapa hari ini Mami gak ngajar kamlian? tanya Zidan penasaran.
"Papi... Papi... kalau hari minggu, Mami menyuruh kami MUROJAAH, yaitu mengulang kembali apa yang sudah Mami ajarkan pada kami selama satu minggu." jawab Zalfa dengan ketus.
"Kamu ya... semakin hari semakin tambah pinter saja, siapa yang ngajarin kamu ngomong seperti ini? Mami kamu hah?" Zidan menggelitik perut Zalfa.
Vania dan Vika tertawa bersama. Sepertinya Zidan memang sudah ketinggalan jauh, dalam mengikuti perkembangan anak mereka serta istrinya.
"Putri Papi yang cantik-cantik, bersiap-siaplah, jam 8 nanti kita berangkat mengunjungi Abah dan Umi, sudah lama kan kalian tidak kesana?" tanya Zidan pada mereka bertiga.
"Asiiiik.... Zalfa akan bertemu denga Mbah kung dan mbah Uti." Zalfa sangat bahagia.
"Baiklah Papi, kami akan bersiap siap." ucap Vania.
"Bawalah pakaian ganti untuk kalian, siapa tahu Papi menjemput kalian sore." terang Zidan.
"Biklah Papi." Zalfa dan Vika pun masuk ke kamar mereka masing-masing.
Zidan sendiri meninggalkan ruang tengah kamar putrinya, Mamuju kamar atas membangunkan Nadia, yang tidur setelah solat subuh.
"Sayang... bangun... kamu gak mau bersiap-siap, anak-anak sedang mandi, bawa pakaian kamu jugaya... siapa tahu aku jemput nya kesorean atau bahkan kemalaman." Zidan membelai lembut pipi Nadia.
" Mas... hari ini aku males mandi, mager banget, nanti sore aja ya, males banget bangun nya, boleh gak Nadia minta bantu? mas saja ya... yang siapin baju-baju Nadia, bener mata Nadia sudah gak bisa di buka." terang Nadia pada Zidan.
"Bener gak mau mandi? ya sudah kita mandi bersama saja, biar lebih mudah dan lebih cepat." ucap Zidan.
Zidan masuk ke kamar mandi, menyalakan air hangat di dalam butuh up, kemudian menggendong Nadia masuk ke dalam kamar mandi. Zidan pikir Nadia akan terbangun dan membuka matanya, tapi tidak, Zidan salah prediksi, Nadia justru tersenyum dan melingkarkan tangannya di leher Zidan, dan merapatkan tubuhnya.
Zidan sudah gemessss sama Nadia, tapi dia harus menahan gejolaknya, demi twin yang ada di dalam perut istrinya.
Zidan meletakkan tubuh Nadia dan melepaskan seluruh pakaian Nadia, Nadia masih bertahan dengan mata tertutupnya, yang membuat Zidan tak mampu membuat istrinya terbangun dan membelalakkan matanya.
Ya... Nadia harus terbangun karena tangan suaminya yang sudah nakal kemana-mana.
"Stop... mas boleh pergi, Nadia mau mandi sendiri." ucap Nadia tegas.
"Ya sudah kembali ke kasur kembali yuk, kamu pasti gak mau kan di dalam kamar mandi?" goda Zidan.
"Tidak tidak... Nadia mau mandi saja sayang, biar cepet ya..." Nadia yang sudah polos mendorong suaminya keluar kamar mandi.
Namun bukan Zidan namanya, bila sudah bergelora tak bisa di tunda lagi, di gendongnya Nadia keluar kamar mandi,dan di letakkan di atas ranjang besar mereka, dan Nadia pun tak mampu berkata-kata, bila sudah seperti ini.
Jadwal keberangkatan ke rumah Abah dan Umi pun tertunda satu jam, yang seharusnya jam 8, mundur menjadi jam 9.