
Keesokan harinya, Daren yang memang ingin meminta maaf pada mas Zidan dengan tulus pun menelpon kantor Zidan, dan meminta waktu untuk bertemu.
Rafli sang sekertaris Zidan pun menanyakan, kesediaan bos nya, kapan bisa bertemu dengan tuan Daren dari REZA GROUP.
TOK..TOK...TOK...
"Assalamualaikum bos, boleh saya masuk?"
"Silahkan, ada perlu apa? tumben tidak aku panggil sudah masuk pagi pagi." ucap Zidan menyela Rafli.
"Maaf pak, barusan tuan Daren dari REZA GROUP menelpon, ingin bertemu dengan anda, belum saya beri jawaban sebelum anda mengiyakan." jawab Rafli tegas.
"Temui aku jam makan siang di V&V RESTORAN, jam 12 ya, aku akan menunggunya."
"Baiklah pak, jadwal harinini tidak terlalu padat pak, tapi jam 10 nanti, anda akan mengantarkan nyonya untuk periksa kandungan, jadi tolong dokumen dokumen yang ada disini, labuh baik di tanda tangani dengan segera, agar tak terbengkalai." terang Rafli pada Zidan.
"Aku tahu... sudah pergi sana, aku pengen sendirian." ucap Zidan ketus.
"siap pak bos, dan terima kasih." ucap Rafli sambil berlalu keluar dari ruangan Zidan.
Zidan hanya tersenyum dan mengangguk. Sementara itu pikiran nya melayang pada pertemuan nya dengan suami dari mantan istrinya itu, Zidan berpikir keras, apa yang di inginkan oleh mereka? Bahkan masalah Gono gini juga sudah Zidan beri, walau pihak hakim tidak menganjurkan memberinya, atau ingin mengambil hak asuh anak-anakku, Zidan semakin kacau, dia tak mau anak-anak nya berada dalam asuhan mamanya, akan jadi apa anak mereka nanti, apapun yang terjadi, Zidan tidak akan pernah memberikan hak asuh ketiga putrinya pada mereka.
Zidan yang sedang galau hari ini pun memilih menelpon sang istri, yang bisa meredam kegalauan dan ketakutan yang paling berat dalam dirinya.
drt.. drt... drt...
"Kenapa Nadia tidak mengangkat telepon dari ku?" ucap Zidan sembari membuka CCTV rumahnya dari laptop miliknya. Saat melihat CCTV di dalam kamarnya, Zidan tertawa terbahak-bahak, ternyata sang istri sedang mencoba memakai pakaian yang masih muat di tubuhnya, bermacam macam pakaian sudah nadia coba, bahkan seluruh isi lemari sudah di acak-acak nya, namun hanya beberapa pakaian saja yang masih muat di pakainya.
Zidan tertawa kala Nadia kembali memilih daster rumahan yang longgar, di padukan dengan celana kulot panjang, agar saat berjalan tidak terlihat kaki mulusnya. Zidan sangat terhibur dengan Nadia, sehingga moodnya kembali lagi, dan menutup CCTV di dalam kamarnya, kemudian membuka dokumen-dokumen penting yang harus ia Tanda tangani.
pukul 9. 30, Zidan memanggil Rafli, untuk membereskan dokumen yang sudah dia tanda tangani, dan berpamitan untuk mengantar nyonya muda ke Dokter kandungan.
"Sayang... kenapa kamu belum siap-siap?" tanya Zidan yang berpura-pura tidak tahu.
"Mas... lihat baju-baju ku sudah tidak muat lagi, baru aja jalan 5 bulan, tapi semua baju sudah... " Nadia manyun karena seluruh isi lemarinya tak bersisa, hanya tinggal beberapa potong saja yang bisa di pakainya.
"Y sudah, sepulang dari kontrol ke Dokter, nanti kita mampir beli pakaian Huat kamu ya, bawa sekalin kartu yang aku kasih ke kamu sayang." ucap Zidan sembari memeluk tubuh istrinya yang sedang memakai jilbab pashmina.
" Jangan begini mas, nanti gak jadi pergi lo, soalnya aku juga lagi ingin..." Nadia tak meneruskan perkataannya, karena saat ini dirinya benar-benar ingin di sentuh suaminya.
"Bener ni?" tanya Zidan penuh semangat.
"Iya.. tapi kita kan mau ke Rumah Sakit." ucap Nadia malu-malu.
"Masih bisa kita tunda besok." ucap Zidan sembari mencium pipi tembem Nadia.
" Jangan...aku pengen sekarang, banyak yang ingin aku tanyakan sama Dokter Dian, ya... sekarang ya..., nanti kalau pulang dari Rumah Sakit, Nadia servis deh, ya mas ya..." Nadia meminta Zidan untuk menundanya.
"Baiklah, tapi gak bisa sepulang dari Rumah Sakit, karena mas ada pertemuan dengan klien penting, bagaimana kalau nanti siang? sepulang dari meeting?" tawar Zidan pada Nadia.
"Ya padahal Nadia sudah pengen banget lo mas." Nadia merajuk meninggalkan Zidan di dalam kamar.
Zidan yang melihat pun hanya menahan salivanya sendiri, Nadia memang suka meminta terlebih dahulu, tapi gak seperti ini juga, marah karena di tunda. Apa mungkin karena Hormon kehamilannya, membuat dirinya tak mampu menahan gejolaknya.
Nadia yang sewot karena Zidan tak kunjung datang pun berteriak.
"Mas... mau antar aku ke Rumah Sakit tidak? kalau tidak, aku berangkat sama pak Slamet saja." ancam Nadia pada Zidan.
Zidan yang melamun pun terkejut dan mengambil kunci mobil yang ada di saku jas nya, lalu bergegas turun menemui sang istri yang sangat cerewet, semenjak kehamilan baby twin.
"Iya... tunggu Papi." jawab Zidan.