
"Siapa yang ajarin kalian tentang semua ini?" tanya Nadia penasaran.
"Mami gak akan tahu, sebenarnya kalau kami ke tempat Uncle Rain dan Aunty Maria, kami bukan bermain-main, tetapi kami melakukan eksperimen dan pengembangan bakat kami, dalam IT, bahkan kami bertiga belajar bersama Aunty Maria, bagaimana meretas handphone dan laptop sekitar kita, dengan mudah dan secepat kilat." jawab Zalfa.
"Adek tahu juga?" tanya Zidan dengan membelalakkan matanya.
"Tahulah... bahkan yang paling pinter itu Zalfa, kadang kakak masih suka tanya sama adek lo Pi." ucap Zalfa dengan bangga.
"Bener banget Pi, adek yang paling jenius diantara kami, bahkan yang berhasil meretas handphone milik Tante Monic dan Mama juga adek, padahal adek saat itu masih umur 5 tahun, tapi dengan sekali belajar, adek bisa mengoperasikan laptop dengan lihai, betul kan Zalfa?" tanya Vania pada adeknya.
"Tunggu... tunggu... sejak kapan kalian suka main laptop, bukankah kalian tidak memiliki nya?" tanya Zidan pada ketiga putrinya.
"Siapa bilang? kami memang tidak memiliki handphone, tapi kami memiliki laptop, karena Uncle Rain dan Aunty Maria, selalu mengirimkan kami internet, dengan begitu kami bisa berkomunikasi dengan mereka kapan saja." ucap Vika.
Zidan yang terpukau dengan keahlian ketiga putrinya hanya bisa menghela nafas panjang panjang.
"Papi harap, walau kalian memiliki kelebihan, diatas rata-rata pada anak umumnya, jangan membuat kalian tinggi hati dan sombong, dan Papi harap kalian merahasiakan semuanya, agar kehidupan kita akan aman dan tidak ada yang mengusik ketenangan kita, terutama Mami, yang sebentar lagi akan melahirkan, jadi... tolonglah... hormati Papi dan Mami, kalau boleh Papi memohon... " ungkap Zidan.
"Papi jangan khawatir, kami pasti akan menjaga Mami, dari siapapun, karena Mami ia the best buat kita." Vika mengacungkan kedua jempol tangan nya, disusul dengan anggukkan kakak dan adeknya.
"Ya sudah, Papi anggap masalah ini sudah selesai, dan satu lagi, bila ada masalah, tolong berbagi kepada kami yang lebih tua, karena, Mami dan Papi tak suka kalian menyelesaikan masalah, tanpa kami ketahui, apapun yang kalian lakukan, adalah tanggung jawab kami, jadi sebelum kejadian hati ini terulang kembali, mami mohon, jangan menyembunyikan sesuatu dari kami." Nadia menatap ketiga putrinya.
Vania, Vika dan Zalfa, memeluk sang Mami dengan kasih sayang, sedangkan Zidan sendiri memeluk mereka dari.belakang. Namun naasnya, Zidan hanya mampu memeluk Vania saja, sehingga mengundang protes dari Vania.
"Papi jangan peluk peluk Vania dong, Vania kan sudah besar, gak mau ya..." ucap Vania marah sambil berlalu keluar dari ruangan kerjanya, disusul kedua adiknya,Zidan sendiri menatap Vania dan kedua adiknya dengan kecewa.
"Tu... Pi... yang kena protes anak perawan nya, sekarang anak-anak kita sudah besar Pi, jangan Papi anggap masih kecil terus, kalau temen temennya datang, pasti akan malu." bela Nadia.
"Mi... rasanya belum rela banget deh, kalau anak-anak akan cepat dewasa, kaya baru kemarin lo, aku menggendong nya, menina bobokkan, dan memandikan nya, ccih.. ternyata aku sudah semakin tua." ucap Zidan dengan mendesah.
Sementara di apartemen milik Monic, Monic yang memang terobsesi dengan Zidan, akan melancarkan
siasat nya, untuk menjebak Zidan, kali ini dia tidak akan bergerak sendiri, melainkan, dia akan menyewa seseorang untuk membantu melancarkan aksinya.
Monic yang ceroboh, lupa bahwa kejeniusan anak-anak Zidan patut di pertimbangkan, dan ditakuti, Monic masih saja menggunakan nomer lamanya, untuk berhubungan dengan seseorang yang akan membantunya.
Suara notivikasi pesan, masuk di laptop milik Zalfa, dengan secepat kilat, Zalfa dan kedua kakaknya membuka laptop milik Zalfa.
"Kak... masih saja berani mencari bantuan orang lain untuk melancarkan aksinya." ucap Zalfa.
"Aku heran deh, saat papi dan Mama bercerai,mengapa Tante Monic gak pernah datang kerumah ya kak?" tanya Vika pada Vania.
"Bener juga dek, sudah dua tahun kan?" ungkap Vania.
"Yang aku dengar, Mama sangat terpukul sewaktu tahu penghianatan Tante Monic, jadi mereka bermusuhan." jawab Vika
"Kak... apa kakak akan terus membenci Mama?" tanya Vika pada Vania.
"Kakak sudah memaafkan Mama, tapi kakak kecewa, mama membenci kehadiran kita, karena kita bukan anak laki-laki, sebenarnya... Mama memang sangat tidak mencintai Papi, bahkan kakak sering mendengar Mama membentak Papi, tapi kakak hanya bisa diam, karena Papi." ungkap Vania
"Mungkin kehadiran kita memang tidak diharapkan oleh keluarga Mama, tapi setidaknya kita mendapatkan kasih sayang dari orang-orang yang menyayangi kita." ucap Vika.
"Sebenarnya Zalfa belum percaya kalau Mama benar benar membenci kita kak, karena sikap Mama memang biasa-biasa saja, tidak pernah membentak Zalfa."ucap Zalfa.
"Tak perlu Zalfa tahu, cukup kak Vania saja yang sakit hati, atas hinaan Mama di Mall waktu itu, sungguh aku tak percaya, Mama yang selama ini aku rindukan, menghinaku didepan suami barunya, bahkan memamerkan kehamilannya didepan mataku, aku malu, aku benci, aku marah, tak tahu arah." ungkap Vania