MAMI FOR US

MAMI FOR US
MAAF



Zidan masuk kedalam kamarnya, pandangannya menyapu keseluruh ruangan, namun tak ada siapapun, terdengar suara gemericik air di dalam kamar mandi, tanpa menunggu lama, Zidan pun menanggalkan seluruh pakaiannya, setelah memastikan kamar terkunci, Zidan melangkah masuk ke dalam kamar mandi, yang ternyata tidak di kunci oleh Nadia.


Zidan memeluk sang istri dengan mesra di bawah guyuran air shower, awalnya Nadia ingin meronta dan berteriak, namun saat melihat cincin di jari manisnya suaminya, Nadia urungkan niatnya.


Masih dengan aktivitas nya, Nadia mengabaikan kehadiran sang suami, rasa marah dan kecewa, itulah yang Nadia rasakan saat ini. Zidan yang mengerti kesalahannya pun tak henti-hentinya meminta maaf di tinga Nadia.


"Maaf sayang... telah mengabaikan kamu dan anak-anak, maaf telah membuat kamu terluka, maaf telah membawa mu mengetahui keburukanku. Tolong ingatkan aku, bila aku bersalah, jangan hanya kau diamkan saja, aku tidak akan tahu kesalahanku di mana? tolong marahi aku bila aku berubah, agar aku bisa memperbaiki nya, tolong sebut baku dalam doamu, agar aku senantiasa mengingat mu, aku tersiksa, aku terbiasa, aku tak peka, aku yang cuek, karena aku terbiasa... tak ada yang menungguku, tak ada yang bertanya padaku, kamu dimana? kamu sedang apa? kamu sudah makan apa belum? semua tak pernah aku rasakan, bahkan tak ada yang perduli denganku, aku pulang ataupun tidak, tak ada yang mencari ku." Zidan memeluk Nadia dengan tubuh polos mereka.


Nadia yang mendengar pun terkejut, ternyata, memang kebiasaan Zidan beberapa tahun ini seperti seorang yang tidak di butuhkan, bahkan ingin mendapatkan perhatian, ternyata bukan hanya anak-anak saja, suaminya pun ingin merasa di butuhkan, di manja, di perhatikan, sungguh Nadia menyesal, merasa egois, masa lalu Zidan dan ketiga putrinya sangat miris, bahkan cenderung memiliki kelainan.


Nadia masih berbalik, Nadia memandang wajah suaminya dengan lekat, di belainya wajah dewasa nya, yang masih terlihat macho, dan semakin tampan, di bawah guyuran air shower, Nadia berjanji, akan memperhatikan, dan membutuhkan,bl bahkan bergantung pada suaminya.


"Sayang... maafkan aku yang egois, mulai sekarang, aku akan mengingatkan kamu bila kamu salah, aku akan memarahiku bila kamu lupa, dan Akau akan menjewermu bila tidak menghubungi ku dalam sehari, dan aku akan menghukum kamu, kalau pekerjaanmu jadi sainganku, dan hukuman terberat bagimu adalah, puasa selama 3 bulan, itu tidak bisa di ganggu gugat." ucap Nadia dan langsung memeluk suaminya dengan mesra.


"Kita lanjutkan di kamar ya, kamu sudah kedinginan, aku sangat rindu sayang, sungguh... saat kau pergi, baru aku rasakan, aku hampa tanpa kamu, sebenarnya aku tak ingin berlama-lama di sana, dengan aku lembur tiap hari, agar aku bisa secepatnya berduaan bersamamu, namun kamu yang telah aku abaikan, kamu merasa kesepian, sehingga memutuskan meninggalkan aku, disana seorang diri." terang Zidan pada Nadia.


" Kenapa tak kau katakan padaku? aku kan jadi salah paham." ucap Nadia pada suaminya.


"Karena aku bikin surprise buat kamu, tapi... semuanya sudah berlalu, aku terlalu emosi dengan korupsi yang terjadi, berapa ratus juta, dan Semuanya tak ada yang tahu." ucap Zidan.


"Maaf aku meninggalkan kamu di saat yang rumit."


"Maaf aku egois sayang... besok lagi aku akan selalu berada di sisimu, walau hanya lewat telepon dan WA, aku akan selalu mendukungmu."Nadia membelai dada suaminya.


Zidan mematikan shower, di bungkusnya tubuh istrinya dengan handuk kimono yang ada, tak lupa Zidan membungkus dirinya dengan handuk kimono pula, dan mengangkat tubuh istrinya keluar kamar mandi, dan di letakkan nya di atas kasur, ditatapnya wajah istrinya yang cantik, dan di perhatikan seluruh wajah Nadia yang selalu membuat dirinya rindu, dan mabuk kepayang.


Cup... cup... cup... Zidan mencium seluruh wajah nadia. keduanya yang sama sama merindu, tak mampu lagi menahan gejolak hati mereka berdua, rtak menunggu lama, rudal Zidan sudah menyembul di balik kimono yang di paki olehnya, Nadia yang melihat, dan juga sangat rindu, di belainya rudal yang membuat dirinya mabuk kepayang, Zidan paham, karena semenjak merka berdua bersatu seutuhnya, Nadia selalu saja tak bisa tidur bila tak memegang rudal suaminya.


Sungguh pasangan yang unik, saling melengkapi kekurangan masing-masing, dan membuat keduanya sama-sama saling membutuhkan, dan saling memuaskan.


"Aku berjanji sayang, akan selalu memberi kabar dan memperhatikan kamu dan anak-anak kita, ingatkan aku bila sehari saja tak memberi kabar untukmu dan anak-anak." ucap Zidan.


"Baik, sayang... kamu tahu, hari-hari ku terasa hampa, tiap malam aku tak bisa tidur, selain dekapanmu di saat tidur, aku juga tak bisa memegang rudal tiap aku tidur, entah mengapa, memegang nya membuat aku nyaman, dan terlelap dalam tidurku." ucap Nadia dengan malu-malu.


"Aku juga, seakan ada yang hilang bila kamu belum menyemtuh rudalku, aku sudah rindu sayangku..."


Pergumulan sore itu pun tak terelakkan, bahkan keduanya larut dalam menyalurkan seluruh kerinduan yang mereka pendam, permasalahan yang ada telah mereka selesaikan dengan kepala dingin dan saling melengkapi, sungguh Nadia mampu membaw Zidan menjadi pribadi yang lebih baik, sifatnya yang dewasa, membuat masalah besar manjadi kecil, sehingga tak menimbulkan pertengkaran.


Keduanya sama-sama saling introspeksi diri, tak menyalahkan orang lain, bahkan merasa saling menyakiti. Zidan sangat beruntung, walau umur Nadia terbilang masih muda, namun pemikiran nya sudah sangat dewasa.