MAMI FOR US

MAMI FOR US
HAMIL



"Tapi anak-anak gak usah di kasih tahu dulu, biarkan mereka sekolah dengan tenang." permohonan Nadia agar ketiga putrinya tidak mengetahui kejadian ini.


"Pastinya, asal Fahad dan Fahdah tidak berbicara, karena Fahad yang menyuruh pak Hadi untuk menelpon ke kantor." seloroh Zidan.


Mendengar itu Nadia langsung menoleh ke putranya, di ciumnya putranya yang sangat bertanggung jawab dan menyayangi keluarga.


"Terima kasih ya sayang, kakak menjadi anak yang hebat dan sangat membanggakan, adek juga, selalu berada di samping Mama, kalian berdua memang anak soleh dan solehah." Ucap Nadia sembari membelai putra dan putrinya.


Setelah kedatangan sang papa, kedua anak kembarnya berangkat ke sekolah, walau terlambat.


" Papa kan sudah pulang, kakak berangkat ke sekolah ya pa, ayuk dek kita berangkat!" Perintah Fahad pada Fahdah.


"Pasti udah tellambat kak, libur aja ya mau temenin mama yang sakit?" pinta Fahdah pada sang kakak kembarnya.


"Jangan alasan, katanya mau jadi Dokter, kok malas ke sekolah ? lagian papa sudah pulang, ayuklah, mbak ayuk kita berangkat" ajak Fahad kepada adiknya dan pengasuhnya.


Akhirnya mau tak mau Fahdah pun menuruti perintah kakaknya.


Setelah bersalaman, mereka berangkat di temani mbak Yuni, dan di antar oleh pak supir.


Setelah kedua anak kembarnya berangkat kesekolah, Nadia dan Zidan bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit terdekat, Zidan tak sanggup melihat wajah istrinya yang sangat pucat dan lemas seperti sekarang ini. Hari ini Zidan diantar pak supir, karena Zidan takut terjadi apa-apa pada istrinya.


"Sayang... kita kerumah sakit terdekat saja ya, takut kenapa -kenapa sama kamu." Bisik Zidan pada Nadia, seraya membelai pipi istrinya yang kelihatan levih cubby.


"Aku ikut saja mas, soalnya kepalaku bener-bener pusing, pijitin dong sayang, lemes banget rasanya."pinta Nadia pada suaminya.


"Ya Allah kasihan banget si mominya anak-anak, sakit apa karena kecapekan ya ma? ngurus kami semuanya."seloroh Zidan seraya memijat pelipis Nadia.


"Yang bener ngurus papinya yang banyak permintaan." sungut Nadia dalam hati.


Zidan yang tidak mendapatkan jawaban sang istri pun menunduk , ternyata istrinya sudah tertidur pulas.


"Kok sudah bobok si... ya sudah."


Perjalanan hanya 10 menit saja, jalanan yang sepi seakan mendukung pasangan romantis ini untuk mempercepat mereka sampai ke rumah sakit.


Zidan yang peka, tak membangunkan istrinya melainkan menggendong Nadia bak bridal style, menuju brankar UGD dirumah sakit.


"Assalamualaikum dok, istri saya pinsan tadi, tolong." mohon Zidan pada para perawat yang melihat merek berdua.


"Sudah siuman kan pak?" Tanya salah seorang perawat.


"Sudah tapi sekarang tertidur, dan kelihatan pucat sekali dan lemas." ungkap Zidan penuh comas.


"Jangan panik ya pak, biar kami tangani sebentar, bapak silahkan tunggu sebentar di luar." Ujar perawat itu.


"Baik... saya tunggu di luar." seloroh Zidan.


"Terimakasih atas kerjasama nya pak." ucap perawat.


Lebih dari 15 menit Zidan berdiri dan menunggu di luar ruang UGD, namun pintu belum terbuka juga, was-was dan rasa takut pun melanda pada diri Zidan, sakit apakah gerangan yang Nadia alami.


Waktu berjalan seakan lambat, hampir 30 menit Zidan berdiri, namun belum keluar juga. Tepat 29 menit 58 detik perawat keluar dari ruang UGD, dengan tergopoh Zidan menghampiri perawat yang keluar, dan menghujani beberapa pertanyaan.


"Sebentar ya pak, Dokter sebentar lagi datang, kami sudah mengecek semuanya, semuanya baik-baik saja, bahkan sudah kami ambil sample darah, bapak jangan khawatir, nanti kalau sudah selesai kami kabari." ujar perawat dengan santai, yang melihat kecemasan di wajah Zidan.


Zidan nampak lesu, belum ada jawaban yang pasti dari perawat.


Tak beberapa lama, seorang Dokter memasuki ruang UGD, Zidan tak tahu dokter apa, namun sepertinya dia pernah melihatnya, tapi kapan? pikir Zidan.


Otak Zidan bener-bener tak berfungsi saat ini, yang ada hanyalah kesehatan Nadia untuk sekarang ini.


20 menit kemudian, Dokter keluar dari ruang UGD, menghampiri Zidan yang sedang mondar-mandir.


"Assalamualaikum pak Zidan, apa kabar?" sapa Dokter Hani.


"Waalaikum salam Dokter, kabar baik, bagaimana dengan istri saya Dok?" tanya Zidan tanpa jeda.


"Semuanya baik-baik saja, jangan khawatir, biasa kalau hamil muda ada yang seperti ini, jadi harus lebih extra menjaga istrinya, jangan terlalu lelah dan capek, untung saja bayinya kuat, jadi tidak terjadi apa-apa." Terang Dokter Hani panjang lebar.


"Apa dok? istri saya HAMIL?" tanya zidan memastikan.


"Lo bapak belum tahu ya, istri bapak hamil, sudah memasuki minggu ke 7 lo pak, kalau begitu selamat ya pak, atas kehamilan Bu Nadia." ucapan selamat dari Dokter Hani pun mengalir begitu saja.


"Tapi... istri saya minum pil kontrasepsi Dokter, apa benar dia bisa hamil walau minum obat setiap hari?" tanya Zidan mqsih dengan rasa tidak percaya.


"Bisa saja pak, kemungkinan bu Nadia terlewat dari jam minumnya, kalau minum jam 8 pagi harus jam 8 pagi seterusnya, tidak boleh lewat, kalau lewat bisa menyebabkan kehamilan, nah disitu kelalaian seorang ibu runah tangga, kadang kalau sedang repot lupa minum obat, memangnya bapak sama ibu tidak bahagia punya anak lagi?" Selidij Dokter Hani.


"Bukan tidak bahagia Dokter, tapi hanya kaget saja, kan istri saya minum obat setiap hari, kalau begitu terima kasih Dokter, saya akan masuk sebentar, menemui istri saya" ucap Zidan.


"Kalau begitu saya pamit ya pak, silahkan cek kandungan sebulan lagi, assalamualaikum. " Dokter Hani meninggalkan Zidan yang masih bingung dengan kenyataan istrinya hamil.


"Waalaikum salam Dokter, terimakasih." ungkap Zidan.


"Sama-sama pak, mari..." Dokter Hani meninggalkan Zidan yang masih berdiri, lalu mengangguk kan kepalanya., begitu juga Zidan membalas dengan mengangguk kan kepalanya.


Tanpa menunggu lama-lama, Zidan masuk keruang istri nya diperiksa, nampak senyum mengembang di bibir istri tercinta nya.


"Sayang... kita akan punya anak lagi, apa kamu bahagia?" tanya Nadia pada Zidan.


Zidan mencium tangan istrinya yang terlihat lebih segar dari sebelumnya, bahkan selang infus masih tergantung di sebelah istrinya.


"Tentu saja, tapi kenapa tiba-tiba? aku tak melihat kamu berubah? masih seperti biasanya, bahkan kamu tidak ngidam apapun sayang." Zidan membelai pipi istrinya.


"Sebenarnya sudah aku rasakan sejak 2 minggu yang lalu, siklus menstruasi aku kan tidak beraturan, tapi walau terlambat paling seminggu atau kurang." Terang Nadia pada suaminya yang terlihat sangat terkejut dengan kehamilan istrinya.


"Tapi aku sdikit curiga si, benerapa hari ini kamu semakin montok, bahkan anumu semakin menantang sayang, makanya sering aku minta jatah tiap malam ke kamu akhir-akhir ini." Goda Zidan pada Nadia.


"Apa sih mas, udah punya anak perawan juga masih mesum begitu, nggak malu sama umur." jawab Nadia sembari memalingkan mukanya kesamping, mendengar suaminya berkata seperti itu membuat dirinya malu.


"Biar tua kamu juga suka kan? jangan bilang nggak, siapa yang tiap malam mende..." Belum selesai berbicara, Nadia menutup mulut suaminya yang semakin fulgar.


"Sayang, please... ini dirumah sakit, malu kalau ada yang dengar, ok?" Yang di balas dengan anggukan kepala oleh Zidan.