MAMI FOR US

MAMI FOR US
SERVIS MEMUASKAN



"Terima kasih sudah membuat Papi kami berubah lebih hangat, dan lebih baik, tidak cuek lagi, lebih perhatian, dan lebih protektif terhadap kami." Tutur Vania dengan air mata yang sudah menetes.


" Seharusnya Mami yang berterima kasih kepada kalian, sudah menerima mami apa adanya, dan menganggap mami seperti Mami kalian sendiri, Mami juga minta maaf, tidak bisa menjadi Mami yang baik seperti Mama kalian, sebenarnya Mami sedikit takut, kalau sebenarnya kalian belum menerima Mami, dan masih menginginkan Mama kalian, jadi Mami mohon kalau kalian ingin membuat janji bertemu dengan Mama kalian, Mami tidak keberatan." Terang Nadia pada Zidan dan Vania.


"Mami menyayangi kalian dari dalam hati yang dalam, dan sangat tulus, jadi jangan pernah meragukan Mami akan berubah bila baby twin lahir nanti, kalian bertiga tetap putri Mami yang Mami sayangi, dan ingat... jangan merasa bersalah membawa Mami masuk kedalam keluarga ini, karena mami tidak merasa mami menderita, bahkan mami merasa bahagia bersama kalian." Nadia memeluk Vania dengan erat.


Vania merasa bahagia, perasaan bersalahnya terhadap sang Mami sudah ia utarakan, namun pemikiran Vania salah, sang Mami tidak merasa menderita, namun bahagia, Vania sangat bahagia, mendengar seorang wanita yang mencintai mereka bertiga melebihi kasih sayang seorang ibu kandungnya.


" Sekarang kakak harus bersyukur, Mami mencintai kita dengan tulus." ucap Zidan sembari memeluk keduanya.


"Ya sudah... Vania mau ganti baju dulu, kan mau jalan-jalan ke Mall." Vania bangkit dari duduknya, menuju kamarnya.


"Makasih sayang... sudah mencintai kami dengan begitu tulus, dan terimakasih sudah memberiku dua anak sekaligus, terimakasih banyak, ILOVE YOU SO MUCH." Zidan mencium kedua tangan Nadia.


"I LOVE YOU TO Papi nya anak-anak, jangan berhenti mencintaiku, ingatkanlaj aku bila aku sudah berlaku tidak adil kepada anak-anak kita, dan ingatkan aku bila sudah mengabaikan kamu." Nadia membelai pipi suaminya.


"Iya... aku ingatkan, kenapa hatimu lebih banyak mencintai anak-anak di banding kepadaku." jawab Zidan jutek.


"Karena... kalau aku lebih mencintai kamu dari pada anak-anak, yang ada aku akan selalu marah dan benci dengan kehadiran mereka, namun bila cintaku pada anak-anak lebih besar, tentu kehadiran merka suatu anugrah terindah bagiku, dan dengan sendirinya cintamu akan menjadi teramat besar untukku." goda Nadia pada Zidan.


"Jadi kamu mengharapkan cintaku untukmu Mami? apa masih kurang pernyataan cintaku yang tadi? tanya Zidan pada Nadia.


"Nadia tahu kok, cinta Papi pada Mami sangat besar, jadi... ayo bersiap-siap mengajak mereka jalan-jalan." Nadia menarik Zidan keluar dari ruang tengah kamar anak-anak.


Zidan hanya terdiam dan ikut berjalan saat Nadia mengajak nya masuk ke kamar mereka yang ada di lantai bawah.


Nadi mengambil pakaian santai, dan mendandani Zidan layaknya seorang anak ABG, bahkan nadi sudah membelikan pakaian sesuai dengan style yang Nadia inginkan. Zidan hanya menurut saja, bahkan Zidan tersenyum sendiri, kala istrinya mendandani dirinya ala ala artis Korea, tak di pungkiri, zidan masih sangat terlihat tampan dan lebih muda dari umurnya, yang hampir berkepala empat.


"Ah... sudah jadi... ganteng nya suamiku, kalau mas pakai pakaian seperti ini, pasti lebih keren, kita lihat saja nanti di Mall, pasti cewek-cewek pada melongo sama mas." ucap Nadia dengan bangga.


"Benarkah? nanti kalau banyak cewek yang melirik mas, mas nggak tanggung jawab Lo ya." ucap Zidan cuek.


"Oke... siapa takut." jawab Zidan penuh semangat.


"Oke... tapi hanya lima... ingat lima... kalau lebih nggak dapat ya... dan jangan tebar pesona." Nadia meninggikan suaranya.


Zidan tertawa lepas mendengar ancaman Nadia, bahkan Zidan merasa Nadia sedang cemburu berat.


Pukul 9 pagi keluarga Zidan berangkat jalan-jalan ke Mall, sesampainya di Mall, Zidan mengajak anak-anaknya berkeliling, mencari kebutuhan mereka, sesekali Nadia duduk dan meminum air mineral yang di berikan anak-anaknya.


"Papii... lain kali kalau ngajak Mami jalan-jalan bawa kursi roda, kasihan Mami, sebentar sebentar duduk dan minum." ucap Vania.


"Oke, Papi tinggal dulu ya, mau beli kursi roda untuk Mami." pamit Zidan pada mereka berempat.


"Iya Pi, jangan khawatir, mami akan kami jagain kok, tapi jangan lama-lama ya Pi, takutnya Mami marah-marah kalau lama gak ketemu Papi." goda Vania pada sang Mami.


" Kamu itu vania... bisa aja bercanda nya, Maafin Mami ya, kalian jadi gak bisa kemana-mana, gara-gara Mami yang gak kuat jalan lama." Nadia merasa anak-anaknya terbebani dengan keadaan dirinya.


"Mami tu, kalau mau nyuruh kita membeli perlengkapan sekolah kami gak perlu juga ke Mall, kita bisa juga ke Gramedia, atau toko-toko buku terdekat kok Mi." Vika menjawab.


"Maaf ya, jadi merusak suasana." Mami memegang tangan si kecil Zalfa.


"Zalfa seneng, bisa ke mall lagi sama Mami, apalagi Mami sekarang harus bawa si kembar, Zalfa jadi kasihan." Zalfa membelai pipi sang Mami.


Canda tawa mereka berempat, membuat rasa capek Nadia berkurang, bahkan terlihat sudah pulih kembali. Dari kejauhan, Zidan yang melihat senyuman dan keceriaan pada istri dan ketiga putrinya, membuat Zidan bahagia, sebentar lagi, kehidupannya akan lebih bahagia dengan kehadiran buah hatinya, bersama Nadia, sungguh Zidan bersyukur terhadap apa yang Allah berikan kepadanya selama ini.


Zidan menghampiri ke empat wanita cantik yang menjadi penyemangat hidup Zidan, tanpa mereka kehidupan Zidan akan terasa hampa. Zidanp menepuk pundak Vania, dengan reflek Vania menoleh ke arah Papi nya, dan tersenyum, melihat sang Papi membawa kursi roda untuk Mami nya.


Dari kejauhan seorang wanita yang sedang duduk di roofcourt tersenyum sinis, dengan tanpa dia sadari, dia telah menghampiri keluarga Zidan yang nampak bahagia, dirinya sangat membenci kebahagiaan yang didapatkan oleh Zidan dan keluarga nya.