MAMI FOR US

MAMI FOR US
TERIMA KASIH NADIA



Perbincangan mereka akhirnya berakhir, Daren dan Selly sekarang merasa lebih lega, ternyata Zidan sang mantan suami Selly, sudah tidak se arogan dulu, Selly dapat melihat, betapa Nadia sangat berperan penting dalam kehidupan Zidan dan anak-anaknya.


Sebelum berpisah, Selly mengajak Nadia untuk sedikit berbincang, dan mengutarakan seluruh isi hatinya, dengan meminta izin dari Zidan tentunya.


"Mas Zidan, boleh saya culik Nadia sebentar saja? ada rahasia yang ingin aku bagi padanya, boleh ya?" pinta Selly pada Zidan.


"Ya sudah sana, jangan jauh-jauh, awas kalau ada yang lecet. Aku tuntut kamu." ucap Zidan bercanda.


"Mas... kamu tu kalau bercanda suka kelewatan, kalau yang dengar orang awam, di kira beneran Lo." ucap Nadia seraya memukul bahu suaminya.


"Ayuk mbak, dari pada kita jadi kambing congek dengerin para laki-laki gila kerja." ucap Nadia yang membuat Daren dan Selly tertawa, di susul Zidan yang mencium bibir istrinya, karena gemas.


"Ini mulut kalau belum di cium masih saja cerewet." bener saja, Karen malu, Nadia terdiam, Zidan yang sudah bucin pada Nadia memang sangat susah untuk tidak berbuat lebih, dan tidak mengenal tempat.


Nadia yang kesal pun berjalan meninggalkan suaminya, disusul Selly di belakangnya.


"Lihat kan mbak, mas Zidan kayak gitu, gal liat tempat, pengennya nyosor melulu, gak malu apa sama umur." Ucap Nadia sembari menarik kursi.


"Bersyukur lah Nadia, mas Zidan sudah banyak berubah sekarang, tidak seperti bersama aku, aku yang cuek, di tambah dia yang super cuek dan sibuk, jadi gak pernah bertemu, sama sama menenggelamkan diri dengan kesibukan masing-masing." ucap Selly.


"Awal pernikahan kami juga seperti itu mbak, masih sama, tapi aku merasa tidak nyaman, akhirnya kami berontak, bahkan anak-anak juga sekarang lebih berani mengutarakan pendapat mereka, tidak seperti dulu, yang ikut kata papinya." terang Nadia.


"Terima kasih ya Nadia, sudah masuk keluarga besar mas Zidan, dan menjaga anak-anak ku, juga menjaga mas Zidan, sekarang aku sudah lega, mas Zidan sudah move on, dan mendapatkan yang lebih baik dari aku." ucap Selly sembari menggenggam tangan Nadia.


"Mbak... semua itu memang sudah takdir, mbak Selly jangan terlalu menyalahkan diri, yang terpenting... sekarang adalah, bergandeng bersama membesarkan anak-anak, dan menunjukkan jalan yang terbaik, apapun keinginan mereka, kita dukung, bukan kita larang." ucap Nadia.


"Betul banget, cukup aku saja yang menjadi korban keegoisan ayahku, sehingga aku sendiri tidak mampu menolak, Karen takut di sebut anak durhaka olehnya, karena hartaku saat ini adalah ayahku saja Nadia, tidak ada lagi." ucap Selly.


"Mbak masih beruntung, Nadia sendiri tidak punya siapa-siapa, semua keluarga ku hanyut dalam banjir bandang 7 setengah tahun yang lalu."


"Aku turut berbelasungkawa atas kepergian keluarga besar kamu Nadia, semoga mereka di berikan kelapangan dalam kubur nya, Amin."


"Boleh, apapun pertanyaan nya, akan aku jawab, demi kamu, Mami anak-anak ku." ucap Selly pada Nadia.


"Apa alasan mbak Selly membenci anak anak? apakah tidak ada rasa cinta dan kangen sedikit saja dari hati mbak yang terdalam?" tanya Nadia dengan hati-hati.


"Ceritanya sangat panjang Nadia, tapi aku akan menceritakan sebagian kecil, dari penderitaan yang aku alami, karena keegoisan dan keserakahan ayahku." Selly hanya menceritakan sebagian kecil permasalahan dan keterpaksaan dirinya, yang harus selalu menjadi boneka oleh sang ayah, dan nyatanya, memang Daren lah yang tahu keadaan Selly sejak dahulu, sehingga Daren pun menerima Selly karena tak ada yang tahu seperti apakah Selly, bahkan Selly menceritakan bahwa sang ayah mengirimkan Monic untuk menyatukan pernikahan Selly dan Zidan, tapi sang ayah justru salah orang, karena kenyataannya Monic lah yang memisahkan dirinya dengan Zidan.


Setelah perbincangan singkat mereka, Nadia dan Selly bertukar nomor telepon, dan berjanji akan selalu mengirim video anak-anak saat berada di rumah.


Pukul 2 siang, merek meninggalkan Restoran V&V, dan kembali ke aktivitas semula, namun berbeda dengan Nadia, hasratnya yang memang sudah membuncah pun melarang suaminya kembali ke kantor.


"Sayang .. terimakasih sudah mempertemukan Nadia dengan mbak Selly dan mas Daren, ternyata mereka tak seperti yang Nadia duga." ucap Nadia sembari mebelai pipi suaminya.


"Sama-sama sayang... sebenarnya Selly ibu yang baik, tapi ayahnya saja yang serakah, dan mempergunakan ketulusan Selly kepada ayahnya, membuat Selly jadi tertekan." ucap Zidan.


"Jadi mas tahu semuanya?" tanya Nadia pada Zidan.


"Aku tahu sehari sebelum pernikahan kami, tanpa sengaja aku mendengar ayah mertuaku yang menyuruh Selly memiliki anak laki-laki, dan berkali kali menekan dirinya, aku tahu semuanya, dan medoktrin Selly memiliki anak laki-laki. Secara tidak langsung, pernikahan kami tidak sehat, Selly yang tertekan, dan psikologis nya bisa di bilang hampir gila, sebenarnya aku ingin menceraikan dirinya, Setelah melahirkan Vania, tapi ayahnyaebyuruh Selly untuk hamil kembali, dan akhirnya lahirlah Zalfa, sejak itu Selly berubah, karena hasutan Monic." ucap Zidan pada Nadia yang masih setia mendengarkan.


Ternyata semua benar yang di ucapkan mbak Selly sama seperti yang katakan mas Zidan.


"Monic yang ketemu di Mall? yang kegatelan sama kamu mas? Mas gak marah kan sama mbak Selly?


"Nggaklah, waktu itu mas hanya kecewa, anak anak melihat mereka berselingkuh, sebenarnya aku pun bersyukur, perselingkuhan itu pula yang bisa membuat aku beralasan untuk menceraikan Selly, kami bertahan hanya karena anak-anak Nadia, bukan karena cinta, dan bukan yang lainnya. Jadi jangan takut ya, kamu adalah cinta pertamaku, pertama kali Akau jatuh cinta, dan merasakan hampa bila tidak ada kamu di sisi mas, dan mas harap kamu juga mencintai mas seperti mas mencintai kamu." ucap Zidan sembari membelai pipi Nadia.


"Nadia tahu kok, mas cinta mati sama Nadia, bahkan anak-anak bilang, Papi sudah bucin sama Mami." Nadia tertawa riang, Zidan yang gemez pun mencubit hidung Nadia.


"Sayang... mas antar ke rumah ya, habis itu mas balik ke kantor sebentar, ada yang harus mas selesaikan." ucap Zidan.


"Mas bener gak mau pulang? mas gak ingat kata-kata Nadia pagi tadi?" Nadia merajuk.