
Sehabis sholat isya, keluarga Zidan sudah berada di ruang tamu Abah dan Umi, terlihat di sana sudah ada petugas dari KUA yang mencatat dan mendata berkas-berkas, serta menjadi saksi acara pernikahan mereka berdua.
Acara demi acara pun telah terlaksana, Abah sendiri menikahkan Nadia, walau sebagai wali hakim, karena bapak kandungnya sudah meninggal dunia.
Dalam pemikiran Nadia, menjadi seorang istri yang Solehah, adalah keinginan dan cita-cita nya, selama ini. Merawat, dan membesarkan anak-anak nya, adalah kegiatan yang menjadi impian Nadia.
Ijab kabul yang di ucapkan Abah dan Zidan malam ini, membukakan lembaran baru bagi Zidan dan Nadia dan ketiga putrinya.
Seusai acara akad nikah, dan pengucapan Ijab dan Kabul, Nadia di perintahkan Abah dan Umi, untuk berkemas, agar ikut ke rumah suaminya, dan ketiga putrinya.
Abah memberikan wejangan yang sangat mendalam bagi kedua pengantin baru, disini Nadia lah yang lebih banyak mendapat kan nasehat dan wejangan, dilihat dari usia dan pengalaman pertama nya dalam berumahtangga, Abah selalu mewanti-wanti, untuk membagi waktu.
"Ingat ya Nadia, suami itu, lebih suka perempuan yang terbuka, jadi apapun yang tidak kamu sukai, coba kamu bicarakan, apa yang kamu inginkan,coba kamu utarakan, jangan di pendam sendiri, nanti jadi penyakit, mungkin untuk menghadapi anak-anak, tidak susah untuk kamu, tapi untuk beradaptasi dengan suamimu, kamu juga harus membiasakan, ingat tugas kamu sebagai seorang istri, jangan melalaikan nya." pesan Abah pada Nadia
"Insya Alloh Abah, Nadia akan menjadi istri yang baik buat anak-anak,dan juga papi nya anak-anak."
Semau yang mendengar pun tertawa, Nadia belum bisa memanggil suaminya dengan spesial.
"Nadia, jangan lupa tugas seorang istri, masak, macak dan manak, maksud dari masak adalah, memasak makanan untuk suami dan anak-anakmu, sedangkan maksud dari macak adalah, bersolek, terutama disaat suami ada dirumah, kalau bisa, lepas kerudung kamu, biarkan rambut indah mu memikat suamimu, dan yang terakhir adalah manak, yang artinya melahirkan anak-anak dari suamimu, semakin banyak anak, semakin banyak rizqi."
"Insya Allah Umi, semua yang Abah dan Umi pesan, akan Nadia lakukan."
"Nadia, apapun yang kamu lakukan, harus seijin suamimu, seujung kuku pun, kalau dia gak mengijinkan, akan berdosa, bahkan rambut mu, bila dia melarang mu untuk memotong nya, lakukan saja, karena seorang laki-laki, sangat menyukai istri nya berambut panjang, dan satu lagi, jangan pernah meninggalkan rumah, tanpa seijin suamimu."
"Insya Allah Umi, Nadia akan selalu mengingat nya."
"Pergilah, kejar pahalamu di setiap waktu, ingatlah, setiap apapun yang kamu lakukan, apabila kamu niatkan kepada Allah, semuanya menjadi pahala bagimu dan juga suamimu."
"Umi, Nadia pasti akan kangen sama Umi dan Abah."
"Mbak Ning sama kang Mus Jum'at akan datang kan Umi?"
" Insya Allah mereka akan datang, jangan khawatir, saat resepsi pernikahan kalian, mereka akan datang."
"Umi... terima kasih sudah menyayangi Nadia seperti putri Umi sendiri, dan terimakasih sudah menerima Nadia."
Umi memeluk Nadia dengan erat, lalu berbisik.
" Nadia... Jangan menunda kalau suami kamu menginginkan kamu, sudah lama dia berpuasa, raihlah pahala sebanyak-banyak nya, agar kamu bisa merasakan kebahagiaan yang hakiki."
"Umi, tapi Nadia baru saja kedatangan tamu, bagaimana cara mengatakannya, Nadia takut papinya anak-anak marah,dan kecewa sama Nadia."
"Biasanya berapa hari? kan bisa saja SMS dulu, biar gak berharap, jadi Zidan bisa tahan."
"Iya nanti Nadia sms buat papinya anak-anak."
"Ya sudah sana, anak-anak mu sudah gak betah, pengen ngajak kamu pulang kerumah, sebaiknya kamu tidur sama anak-anak dulu."
"Iya Umi, Nadia pamit umi, doakan Nadia menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah." Nadia melepaskan pelukannya, dan mencium punggung tangan Umi.
"Amin..." umi menetes kan air matanya.
Ketiga anaknya sudah meninggalkan rumah Abi dan Umi sejak setengah jam yang lalu.
Perjalanan dari rumah Umi kerumah Zidan hanya memerlukan waktu 30 menit.