MAMI FOR US

MAMI FOR US
TIMBUL TENGGELAM



HAI HAI.... MAAF YA TEMAN TEMAN... BEBERAPA HARI INI SAYA SIBUK, JADI BELUM BISA UPDATE LAGI, SAYA USAHAKAN YA... WALAU NGGAK PENUH... TERIMA KASIH SEMUANYA.


-------------------


Hari berganti hari, bulan pun berlalu, kehamilan Nadia saat ini, sudah memasuki Minggu terakhir, rasa bahagia dan takut, selalu ada di hati Nadia, begitupun dengan Zidan, perasaan menunggu dan harap harap cemas, membuat dirinya malas pergi ke kantor, banyak perubahan yang terjadi pada diri Zidan dan ketiga putrinya, kebiasaan di hari libur anak anak mengurung diri kini telah berubah.


Bahkan Zidan sendiri sudah mengganti jadwal kerjanya, hari Minggu adalah FAMILY TIME, jadi tak akan ada yang bisa mengubah keputusan dirinya apapun itu, biarpun itu tander milyaran rupiah, Zidan tidak akan mengubah janjinya kepada anak dan istrinya, untuk meluangkan waktunya untuk keluarga, di hari Minggu.


Penantian yang panjang, selama 9 bulan 10 hari, akhirnya akan terlampaui juga, HPL Nadia masih 1 Minggu lagi, namun sejak semalam Nadia sudah susah bergerak, perutnya sudah sering mulas, namun belum sering.


Pagi ini, Nadia benar benar istirahat di dalam kamar, rasa sakit dan mulas yang timbul tenggelam ini, membuat dirinya enggan untuk bergerak, dibarengi dengan bacaan sholawat dan tasbih, Nadia menahan semua rasa sakit yang datang sejak semalam, namun sejak pukul 10 pagi, Nadia sudah merasakan adanya dorongan keras dalam perutnya, rasa mulas, sakit di punggungnya dia tahan dengan tidur miring, kekanan dan kekiri, sesekali dia memanggil sang suami, hanya meminta untuk di usap usap punggungnya.


Zidan yang khawatir pun tak pernah meninggalkan Nadia sedetikpun, bila tanpa ada orang di sisinya. Seperti sekarang, Zidan yang ingin pergi ke kamar mandi, harus memanggil bi Asiyah, yang sedang memasak, Bi Asiyah yang mendengar teriakkan sang tuan pun, mematikan seluruh kompor, dan menghampiri Zidan yang berteriak.


"Ada apa den? kok teriak teriak?" tanya bi Asiyah.


"Tolong temani Nadia, aku mau ke kamar mandi sebentar saja." pinta Zidan pada bi Asiyah.


"Oalah, tak kirain sudah mau melahirkan, ya sudah, bibi tungguin, tapi jangan lama-lama,nanti masakan bibi gosong den." ucap bi Asiyah pada tuannya.


"Iya.. iya Bi, cerewet banget si." ucap Zidan sembari berjalan menuju kamar mandi.


"Bu Nadia, kayaknya sudah mau lahiran deh, soalnya baby twin sudah di bawah banget." ucap bi Asiyah pada Nadia.


"Memang iya Bi, wong sudah sakit sejak kemarin, tapi masih timbul tenggelam, belum tiap 5 menit mules begitu." ucap Nadia.


"Sekarang sudah sakit ya Bu, itunya?" tanya bi Asiyah.


"Sudah bi Asiyah,bahkan kayaknya baru aja rembes deh, mungkin ketubannya sudah pecah."


"Tapi belum tembus Bu, mungkin hanya kecil lubangnya."


"Apa sekarang sudah waktunya bi, aku gak mau lama lama di rumah sakit. Lagi pula... kasihan anak-anak."keluh Nadia.


"Oh ya Bu, barusan belum keluar air ketubannya sekarang sudah banyak, sebaiknya saya siap-siap tas baby twin." ucap bi Asiyah


"Bibi jangan pergi ya, temani aku, anggaplah aku anakmu, aku pengen di temani bibi saat melahirkan, dan masalah Persiapan barang barang yang mau di bawa, bibi panggil mbak-mbak yang lain aja ya Bi." ucap Nadia.


"Ya sudah, bibi pencet dulu alarm di dapur, biar semua siap begitupun dengan pak supir, biar tidak gugup dan bengong."


Sementara bi Asiyah pergi ke dapur memanggil semua Art, Zidan yang baru saja keluar dari kamar mandi melihat wajah pucat Nadia, semakin bingung, bahkan membuat gugup dan gemetar Nadia, entah apa yang Zidan rasakan, namun melihat Nadia yang meringis kesakitan, malah membuat Zidan bolak-balik ke kamar mandi.


Bi Asiyah yang melihat sang Bos kelimpungan dan kebingungan, menyuruh Nadia berjalan keluar kamar, menuju mobil yang sudah di sediakan, sementara Zidan sendiri hanya mengekor di belakang kedua wanita beda usia itu.


Dua mbak yang sudah membawa 3 tas keperluan baby twin dan Nadia pun sudah memasukkan tas kedalam mobil mereka. Sebelum berangkat, Nadia berpesan, jika ketiga putrinya pulang sekolah, bilang mami masih kontrol, jangan bilang mau lahiran, karena Nadia mau melahirkan dengan tenang, dan tidak gugup.


"Mbak, masakannya di lanjutkan ya, tinggal menunggu matang saja, setelah itu, kirim makanan ke rumah sakit, dan jangan bilang ke anak-anak, aku mau lahiran, bilang aja mau kontrol, ok mbak." ucap Nadia.


"Baik Bu, siap laksanakan." jawab mbak Uci.


"Ya sudah pak, ayok berangkat, takutnya melahirkan di mobil nanti." celetuk bi Asiyah, yang di tanggapi serius oleh Zidan.


"Pak... ngebut pak, aku gak mau anakku lahir di mobil." bentak Zidan pada pak Slamet.


"Baik pak."


"Mas... Nadia masih bisa tahan kok, jangan khawatir ya, yang penting, mas maafin semua kesalahan Nadia ya?"


"Kenapa ngomong begitu sayang, jangan aneh aneh deh." ucap Zidan keheranan.


"Kata Umi, sebelum Nadia melahirkan, sebaiknya Nadia minta maaf kepada mas, atas semua perlakuan dan perkataan Nadia, takutnya ada kata kata yang menyakiti hati mas, sehingga menghambat proses persalinan Nadia, dan Nadia meminta di doakan, agar persalinannya lancar, dan baby twin segera lahir dengan selamat dan sehat serta tidak kekurangan sesuatu apapun." ucap Nadia.


"Sayang... bukankah sebelum tidur juga kamu selalu meminta maaf padaku?"


"Setiap malam Nadia meminta maaf karena takutnya, malam itu adalah malam terakhir bagi Nadia melihat mas, jadi apa salahnya bila Nadia meminta maaf yang teramat dalam."


"Mas selalu memaafkan segala kekurangan dan kesalahan kamu sayang, dan juga maafkan mas yang belum bisa menjadi suami yang baik dan benar."


"Kita kan belajar bersama mas,jadi jangan sungkan ya, Nadia juga belajar banyak kepada mas" ucap Nadia.


---_---


Terima kasih


Maaf masih beres beres