MAMI FOR US

MAMI FOR US
BISMILLAHIRROHMAANIRROHIIM



Dengan perbincangan hangat antara Zidan dan Nadia, membuat Nadia sedikit melupakan rasa sakit di perut serta punggungnya. Zidan sungguh luar biasa, dengan belaian dan usapan tanganya, mampu mengurangi rasa sakit, serta doa dan surat-surat pendek yang selalu Zidan tiupkan di ubun-ubun Nadia, membuat Nadia lebih tenang dan rileks.


Saat sampai di Rumah Sakit, dengan cekatan Zidan membopong Nadia, menuju brankar yang sudah di sediakan oleh Dokter Dian, yang sudah di hubungi oleh para mbak di rumah.


Dengan perasaan deg-degan dan takut, Zidan ikut mengantar Nadia memasuki ruang bersalin. Saat dokter Dian mengecek pembukaan Nadia, Zidan yang sempat melihat perjuangan Nadia sejak tadi, sedikit merasakan ketakutan.


"Bagus sekali Bu Nadia, sudah pembukaan 8, sebentar lagi." ucap Dokter Dian.


"Memangnya harus di lihat dari situ ya dok?"tanya Zidan penuh penasaran.


Namun hanya di balas dengan senyuman dan anggukan kepala dari Dokter Dian.


Dalam hati Zidan mengatakan, pantas saja mantan istrinya Selly selalu meminta operasi Caesar, sehingga dirinya tak perlu merasakan sakitnya melahirkan.


Setelah 10 menit kemudian, Dokter Dian pun mengecek pembukaan kembali dan ternyata sudah sempurna, dengan pelan-pelan, Dokter Dian mengarahkan pada Nadia untuk mengatur pernafasan, dan mengajaknya berbincang serileks mungkin.


"Atur nafas ya Bu Nadia, jangan di paksa untuk keluar, biar dengan sendirinya, agar tidak terjadi pendarahan, rileks, atur Nafas, tarik dan keluarkan, pelan pelan saja."ucap Dokter Dian.


"Baik Dok, BISMILLAHIRROHMAANIRROHIIM." Nadia pun melakukan semua arahan Dokter Dian, dengan tenang, bahkan Nadia merasakan nikmatnya proses melahirkan dengan normal, ditambah dengan melihat wajah pucat suaminya yang sejak tadi ikut-ikutan merasakan kesakitan yang Nadia rasakan.


"Bagus... Ayuk buang nafas... tarik buang nafas... sudah kelihatan rambutnya Bu Nadia, jangan di tahan ya kalau sudah saya suruh untuk mengejan, tarik lagi... buang nafas... Ayuk Bu Nadia... mengejan yang kuat ya... jangan berhenti sebelum saya bilang cukup."


"Baik Dok... Bismillahirrohmamirrohim.." Dengan sekali mengejan baby twin pertama lahir.


"Cukup Bu Nadia... Alhamdulillah... baby boy... simpen tenaganya ya... buat baby yang satunya... suster... " sementara Dokter Dian melakukan aktivitas di bawah sana, Zidan yang melihat proses melahirkan dengan mata kepalanya sendiri, mengecup dan mengucap syukur yang sebanyak banyaknya, karena melihat baby boy yang lahir barusan, yang memiliki banyak kemiripan dengan dirinya.


"Terimakasih sayang, Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah..." ucap syukur Zidan yang di balas dengan senyuman oleh Nadia.


"Mas... jangan berlebihan ya, semua ini adalah titipan Allah, dan ingat anak kita juga titipan dari Allah, jadi jangan terlalu bahagia, takutnya kalau mas terlelu bahagia, dan lupa bersyukur, nanti di minta kembali oleh Allah."ucap Nadia mengingatkan Zidan.


"Astaghfirullah haladziiim... aku sudah bersyukur sayang, tapi Terimakasih, karena sudah mengingatkan mas saat ini."balas Zidan.


"Tentu saja sayang, dengan senang hati." jawab Zidan.


Setelah di bersihkan, baby twin pertama di letakkan di dada Nadia, dan dengan sendirinya baby one mencari sumber ASI untuk dirinya, yang di abadikan momen ini, dengan video oleh Zidan.


Setelah 5 menit, Nadia merasakan mules kembali, namun tidak sesakit yang pertama kali, karena mungkin sudah ada jalan, jadi dengan rileks Nadia mengambil dan membuang nafas, dengan telaten Zidan memegangi baby one agar tidak terjatuh, di tambah adanya baby one, Nadia semakin semangat menyambut kedatangan baby two.


Hanya dengan sekali mengejan, baby two sudah lahir. Dengan cekatan dan telaten Dokter Dian membersihkan dan mengobati luka, persalinan Nadia, suster yang membersihkan baby girl pun sudah membawanya ke Nadia, menyusul sang kakak baby boy, di sela-sela menjahit bagian inti Nadia, Dokter Dian menyuruh Zidan untuk mengarahkan bibir baby twin, ke sumber ASI, dengan tujuan Nadia tidak merasakan sakit dalam proses menjahit.


Setelah selesai dengan 6 jahitan, Dokter Dian menghampiri Nadia yang sedang mencoba menyusui baby twin, dan karena Nadia seorang yang sangat telaten, tanpa menunggu lama, ASI eksklusif pertama kali, di berikan pada baby twin, di hari kelahiran mereka berdua.


"Alhamdulillah... baby girl sekarang, selamat ya Bu Nadia sudah lengkap, baby boy dan baby girl, di tunda dulu ya punya baby nya, biar istirahat dulu rahimnya." ucap Dokter Dian.


"Kenapa harus di tunda Dian? aku pengen punya banyak anak dari Nadia, ya nggak sayang?" ucap Zidan pada Nadia.


"Mas ini, baru aja melahirkan, sudah pengen punya anak lagi, mau puasa dua tahun?" goda Nadia.


"Maaf sayang, mas cuma bercanda, jangan di ambil hati ya, mas gak bisa puasa lagi, setelah menikah dengan kamu." ucap Zidan yang melihat Nadia yang sedang cemberut.


"Kamu ini ya Zidan, bukan aku menyuruh dia KB, tapi dari pengamatan ku, kelak kalau Nadia hamil lagi, akan hamil kembar lagi, jadi siap-siap saja, perbanyak baby sitter di rumah, kalau mau punay anak dalam waktu dekat." ucap Dokter Dian.


"InsyaAllah... kalau Allah sudah berkehendak, tentu saja kami siap, dan lagipula, aku pengen punya banyak anak, kelak ketika aku sudah tiada, banyak anak-anak aku yang mendoakan aku di dalam kubur, sebenarnya... banyak anak juga akhirnya aku dan Nadia akan berdua menua, sampai maut memisahkan kita, karena setelah menikah, mereka akan meninggalkan kita." ucap Zidan.


"Betul juga, lihat saja, anak pertama kamu sekarang sudah besar, sebentar lagi akan menjadi gadis cantik yang memikat banyak laki-laki." ucap Dokter Dian.


"Hah... rasanya baru kemarin aku menggendong dia, sekarang sudah jadi gadis aja." ucap Zidan sedih.


Nadia dan Dokter Dian pun tersenyum, melihat aura Zidan yang belum merelakan putrinya tumbuh menjadi gadis cantik yang sangat di puja banyak pria.