MAMI FOR US

MAMI FOR US
PAPI KALAH SAMA KALIAN



Nadia yang terbangun dari tidurnya, tak mendapati sang suami ada di sampingnya, dengan perlahan-lahan, Nadia masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri nya, setelah selesai ritual mandi besar nya, Nadia berjalan keluar kamar, mencari keberadaan Zidan.


"Mas... " teriak Nadia kala tak mendapati suaminya di dapur dan ruang tengah.


"Bi Asiyah... lihat mas Zidan gak?" tanya Nadia pada bi Asiyah yang baru saja mengantar minuman di ruang tengah kamar anak-anak nya.


"Sedang berbincang dengan non Vania di ruang tengah anak-anak Bu." jawab bi Asiyah.


"Oh... makasih ya Bi, bibi bikin apa buat bapak?" selidik Nadia pada bi Asiyah.


"Bapak minta saya bikinkan jus alpukat." jawab bi Asiyah.


"Ya sudah, aku minta satu ya Bi, saya tunggu di sini." ucap Nadia.


"Masuk aja Bu, nanti saya antar kesana." tutur bi Asiyah.


"Ya sudah kalau begitu, aku tunggu ya Bi, terima kasih sebelumnya." ucap Nadia dengan senyum manisnya.


"Sama-sama Bu, mau pakai susu coklat tidak Bu?" tanya bi Asiyah


"Jangan bi, aku lagi eneg minum susu coklat." terang Nadia.


"Baik Bu, di tunggu saja di kamar anak-anak."


"Ok bi, makasih."


Nadia berjalan ke ruang tengah kamar anak-anak, kemudian mengetuk pintu.


" Assalamualaikum...Boleh Mami masuk?" ucap Nadia pada Vania dan Zidan yang ada di dalam.


" Masuk Mami, gak di kunci kok." jawab Vania. Sesaat Nadia merasa ada kecanggungan saat kedatangan dirinya.


"Sepertinya ada yang serius ya?" tanya Nadia pada Vania dan Zidan.


"Nggak ada kok Mami, hanya bincang sore." ucap Vania.


"Dapat salam dari Mama Selly kak, Mama bilang, pengen bertemu kalian, kapan kakak dan adek-adek punya waktu." ucap Nadia dengan santai.


"Bagaimana kalau malam Minggu depan Mami, sekarang kakak masih banyak ujian, kalau Minggu depan sudah free." jawab Vania.


"Ya sudah, nanti Mami telpon Mama Selly ya, biar bisa ajak kalian jalan-jalan." ucap Nadia.


" Ok Mami, oh ya Mami... sudah ketemu sama dek Raka?" tanya Vania antusias.


"Kemarin kayaknya Mama Selly gak ngajak dek Raka deh, ya kan Pi?" ucap Nadia meminta bantuan.


"Iya... dedek Raka gak di ajak." ucap Zidan.


"Ya sudah, padahal kakak juga pengen ketemu dedek Raka." ucap Vania.


" Tunggu... tunggu... sejak kapan kalian sudah tahu tentang Mama kalian dan nama adek kamu?" tanya Zidan penuh penasaran.


"Ternyata Papi masih kalah sama kalian, pantesan Mami kalian santai saja, padahal Papi sudah deg degan dengan sikap kalian bertiga, ketika akan bertemu dengan Mama kalian." ucap Zidan penuh kelegaan.


"Papi ada ada aja, kami kan bukan pendendam, bahkan kami juga berterima kasih pada Mama Selly, karena bisa di pertemukan dengan Mami Nadia." ucap vaniaa sembari memeluk sang Mami.


"Mami, jurus apa yang kamu gunakan untuk menaklukkan keganasan mereka bertiga?" ucap Zidan bermanja di belakang Nadia, sembari memeluk istri dan anaknya.


" Jurus yang Mami pakai hanya dengan kasih sayang, sentuhan, dan juga perhatian, karena semua itu tak bisa kita peroleh hanya dengan materi saja Pi, maka dari itu, Mami sering ngomel sama Papi, agar lebih dekat dengan anak-anak, ketika mereka masih kecil, karena ketika mereka dewasa sangat sulit bagi kita untuk memeluk bahkan membelai mereka." terang Nadia pada Zidan.


"Pantas saja anak-anak sangat penurut dan sangat menyayangi mami, ternyata Mami punya jurus handal, yang tidak Papi miliki." goda Zidan sembari mencium pipi Nadia.


"Pi... ada anak di bawah umur, gak baik melihat hal-hal yang belum saatnya." ucap Nadia penuh peringatan.


"Papi kalau sudah sama Mami, sering lupa diri, padahal mah sudah punya anak perawan, tapi kayak anak ABG aja si Papi ini." ucap Vania sembari geleng-geleng kepala.


"Iya kak, Mami heran deh, tadi siang aja Mama Selly sampai heran, bisa-bisa nya papi berubah 180 derajat Celcius, Mama Selly bilang, Papi punya mainan baru." ucap Nadia pada Vania.


Sontak keduanya tertawa terbahak bahak, karena kebucinan sang Papi.


"Sepertinya Papi hari ini terintimidasi oleh anak dan istriku sendiri." ucap Zidan pasrah.


"Papi is the best pokoknya, makasih ya Pi, sudah jaga kami, sudah menyayangi kami, sudah berkorban demi kami, dan satu lagi, sudah mencintai kami, dengan setulus hati." ucap Vania.


"Terima kasih juga ya Papi, sudah menerima Mami apa adanya, sudah mencintai dan menyayangi Mami dengan sepenuh hati Papi, dan sudah memberikan Mami keluarga besar yang bahagia." ungkapan hati Nadia kepada Zidan suaminya.


"Papi juga mengucapkan terima kasih, kepada Mami, sudah mau mencintai kami dan menyayangi kami, dalam suka maupun duka, dan sudah mau mencintai seorang laki-laki tua yang memiliki banyak nak." ucap Zidan.


"Papi belum tua kok, buktinya masih kuat, lihat, disini ada Zidan junior, bukan 1 lagi, tapi dua, makasih sayang." ucap Nadia sambil menunjuk perut buncitnya.


"Aduuuh kok jadi Vania yang kebaperan, lihat Mami sama Papi, doakan Vania ya ma, kelak Vania mendapatkan pendamping hidup yang seperti Papi, dan Vania juga akan belajar menjadi istri yang baik seperti Mami, Amiiin." ucap Vania.


"Amiiin ya robbal alamiin..." jawab Zidan dan Nadia.


Dari arah kamar Vika dan Zalfa, terdengar langkah kaki kecil yang sedang berjalan menuju ruang tengah kamar mereka.


"Papi... Mami... apa kabar?" tanya Vika yang mencium pipi Nadia dan juga Zidan.


"Tentu nya kabar baik sayang." ucap Nadia.


"Papi... Mami... maaf Zalfa kesorean bangunya." ucap Zalfa sembari mencium Zidan dan Nadia, lalu duduk di pangkuan sang Mami.


"Kak Zalfa... kasihan baby twin nya sayang,kalau kakak Zalfa duduk di pangkuan Mami." ucap Vania pada adik kecilnya.


"Maaf, Zalfa lupa, maafin Zalfa kan Mami?" ucap Zalfa memelas


"Sudah Mami maafkan sayang." Nadia memeluk tubuh mungil yang selalu membuat Nadia dan kedua kakaknya tertawa, karena kelucuan dan kebawelannya.


-----------------


Makasih comen nya kakak semua...